Klinik BNN Kota Batu yang menjadi salah satu lokasi rehabilitasi bagi para pecandu narkotika yang ingin sembuh. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Klinik BNN Kota Batu yang menjadi salah satu lokasi rehabilitasi bagi para pecandu narkotika yang ingin sembuh. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Kasus penyalahgunaan narkoba di kalangan pemuda dan pelajar di Kota Batu masih harus diwaspadai. Pasalnya pada 2018 ini, Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Batu mencatat ada 49 pecandu yang mengikuti program rehabilitasi. Sebagian di antaranya menjalani pengobatan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang. 

Kasi Rehabilitasi BNN Kota Batu, Rose Iptriwulandhani mengungkapkan bahwa pihaknya terus berupaya menjaring klien (pecandu narkoba) untuk direhabilitasi. "Total ada 49 klien yang menjalani program residen (perawatan) di beberapa lokasi," ujarnya, hari ini (28/12/2018). 

Rinciannya, ada sebanyak 20 klien residen yang dirawat di klinik BNN Kota Batu. Lalu, sebanyak 10 klien yang dirawat di Puskesmas Kota Batu. Sisanya, 15 orang dirawat di rumah sakit swasta serta 4 orang yang dirawat inap di RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang. 

Rose mengatakan, para pecandu yang berupaya menyembuhkan diri itu didominasi warga usia remaja. Selama ini, mereka mengalami ketergantungan konsumsi zat-zat psikotropika dalam pil dobel L atau pil koplo. "Dari jumlah itu, rata-rata statusnya pelajar remaja dengan rentang usia 13-20 tahun. Dan mereka hampir semuanya pengguna pil koplo," terangnya.

 

Dia menjelaskan, program rehabilitasi tersebut sudah ada sejak 2015 silam. Setiap tahunnya, lanjut Rose, pihak BNN terus melakukan sosialisasi pada masyarakat. Terutama agar mau membawa anggota keluarganya untuk rawat jalan di BNN Batu. "Kebanyakan dari mereka ini masih beranggapan kalau membawa anggota keluarga mereka untuk direhabilitasi ialah aib," sebutnya. 

"Nah stigma itu yang kami hilangkan, kami seratus persen menjamin untuk menjaga kerahasiaan dari klien kami," tambahnya. Oleh karena itu, hingga saat ini jumlah pecandu menjadi volunteer alias pengguna yang sadar diri untuk mau direhabilitasi masih minim. 
Salah satu langkah BNN untuk meningkatkan kesadaran pecandu yakni dengan jemput bola. 

Rose menyebut, program itu dilakukan di lingkungan rentan atau rawan penyebaran narkoba. "Kami langsung ke lingkungan yang dekat dengan pengguna, salah satu sasaran utamanya ialah sekolah," sebutnya.

Dia mencontohkan, bila pihak BNN menemukan siswa pengguna narkotika di salah satu sekolah, maka semaksimal mungkin BNN mengungkap dan mengembangkan kasus tersebut. Termasuk menggali data asal barang terlarang itu, pemasoknya, serta kemungkinan si siswa berbagi dengan rekannya. "Data seperti itu penting untuk memberantas sampai ke akar dan menyelamatkan yang belum telanjur parah," tegasnya.

BNN Kota Batu juga menjamin dan memastikan bahwa identitas siswa itu tidak ada diketahui oleh teman-temannya satu kelas dan satu sekolah. "Di rehabilitasi ini tidak dikenakan biaya sama sekali bagi klien. Bahkan keluarga klien juga mendapatkan dukungan psikologi," tambahnya.

Hal itu diperlukan, karena ketika klien kembali ke rumah, lingkungan pertama yang bisa mengubah kebiasaan klien ialah keluarga. Dalam rehabilitasi ini, klien diharapkan bisa terlepas dari kebiasaan ketergantungan menggunakan narkoba. 

"Tahun depan kami tidak menetapkan target khusus. Karena seperti ini kan kesadaran dari pengguna dan juga keluarganya," pungkasnya.