Dekorasi Natal Gereja Kayutangan (foto: Imarotul Izzah/Malang Times)
Dekorasi Natal Gereja Kayutangan (foto: Imarotul Izzah/Malang Times)

MALANGTIMES - Dalam perayaan Natal tahun ini, tradisi yang sejak lama dilakukan Gereja Katolik Hati Kudus Yesus atau yang lebih dikenal dengan nama Gereja Kayutangan masih dipertahankan. Gereja tertua di Kota Malang ini memilih untuk mengingat kelahiran Yesus dengan membuat dekorasi Natal berupa kandang.

Dekorasi ini dipilih karena Yesus lahir di sebuah kandang hewan. Di kandang tersebut, Maria merebahkan Yesus dalam palungan, yaitu tempat makanan bagi keledai dan binatang-binatang lain.

"Untuk kandang Natal itu tiap tahun seperti ini. Latar belakangnya, karena zaman Yesus lahirnya Yesus itu kan di kandang. Jadi, bukan di gua. Untuk itu dekorasinya harus ada gembala, harus ada domba, ada malaikat," papar Gratianus Agus Handoko, kabid liturgi Gereja Kayutangan.

Gratinus menegaskan, untuk pembuatan dekorasi ini, dirinya juga menghindari bahan plastik. Jadi, semua bahan yang dibuat untuk membangun kandang binatang ini adalah bahan-bahan alami, seperti bambu, jerami, bunga-bunga.

"Bahan bakunya dari bambu, jerami, bunga-bunga hidup semua. Semua pakai hidup, tidak ada yang plastik, supaya lebih segar. Di samping itu, zaman sekarang kan banyak sampah plastik. Jadi, kami juga berusaha mengurangi polusi plastik," ungkapnya.

Nah dalam dekorasi tersebut, terlihat Maria, Yusuf, para gembala, dan domba-domba. Di tengah-tengah, terdapat palungan berbalutkan kain putih. Di situlah nantinya Yesus dibaringkan.

"Karena zaman dulu kan tempat penginapan kan nggak ada, sudah penuh semua. Dan Maria dan Yusuf ditolak di mana-mana. Mau melahirkan adanya kandang. Ya di kandang
dengan semua kesederhanaannya," pungkas Agus.

Nah, pada malam perayaan Natal di Gereja Kayutangan nanti, patung Yesus akan digiring oleh romo gereja, seluruh petugas, dan para misdinar. Dengan digendong oleh pasangan suami istri, Yesus akan dibawa dari pintu gereja ke kandang tersebut sekaligus juga didoakan. 

Menurut Ketua Dewan Pastoral Paroki Inneke, tradisi ini sudah lama dilakukan gereja yang sudah berdiri sekitar 123 tahun tersebut. (*)