Ilustrasi puisi (Istimewa)

Ilustrasi puisi (Istimewa)


Pewarta

Dede Nana

Editor

Redaksi


MALANGTIMES - br>*dd nana

1/ yang keluar dari lubang tubuh 
kotoran. Lahir dari rahim-rahim di tubuh kita
Kita bersihkan setiap waktu. Kelak rahim kotoran disumbat kapas. 
Tak ada bunyi,  tak ada detak.
Kejayaan hanya figura foto yang terpasang sepi
di tembok rumah yang di huni sunyi. Memyembunyikan kotoran di balik kaca yang mulai berdebu. 

2/ dipinjamkannya alif pada punggungmu
Agar kau berani tegak berdiri dan sepasang matamu
mampu menatap alunan berbagai bunyi. 
Di atas kepalamu, langit yang sama dengan moyangmu menunggu. Kau lelaki ataukah perempuan
Yang menangis atau yang berteriak sebelum do'a dilahirkan. Saat gelombang ombak membalikkan perahumu atau rayuan duyung membuatmu bertekuk
lutut dan menghentikan kayuhan dayung perahumu. 
Di tanganmu kau tentukan pilihan. Memberi tanda titik di bawah perahumu serupa ba atau menghadirkan dua titik yang menemani pelayaranmu. Serupa ta. 
Alif ba ta hanyalah perangkat
dan langit masih sama sampai kini. 

3/ obituari
Alif dicabut dari punggungmu, maka kau pun merebah
dalam mimpimu, gelombang yang pernah kau taklukkan
kau lukis serupa huruf syin. 
Dan kau pernah berkata serupa penulis tua dari dunia berbeda. Ting a ling, dunia serupa periuk kotoran. Saat kau hanya berjalan menggampit kelamin di antara kedua kakimu. 
Hidup itu ceruk demi ceruk. Maka tertawalah saat kau terperosok pada lubangnya yang mengangga lebar. 
Alif dicabut dari punggungmu, maka kau pun merebah
Sambil menghitung jumlah dosa dari kata-kata. Sebelum namanya diumumkan dan jasadnya dipulangkan. 

4/ perahuku masih ba
Masih serupa remaja yang malu atas kesalahan-kesalahan yang diperbuatnya. Ku sembunyikan noda di bawah perahu yang bukan milik nuh. 
Hanya riak gelombang yang bisa membacanya tapi percayalah tak ada sumber air yang bisa memghapusnya. 
Sampai aku sampai di semenanjung tanpa teriakan kemenangan atau ketakjuban. Serupa colombus atau orang-orang yang menaiki kuda, tank baja atau pesawat membawa bom. 
Angin semenanjung mengusap wajah tembagaku. 
Percayalah, kesalahan-kesalahan adalah cara agar kau bisa menjadi manusia yang utuh. 
5/ mencintaimu sampai ya
Agar air mata dan penantian panjang punya jawaban
Cinta patut dituliskan sebelum dilayarkan di samudera yang belum dinamakan. 
Aku mencintaimu sampai abjad terakhir,  puan. 

 

End of content

No more pages to load