Sampah Pantai dan Perawatan Candi, PR Pemkab Malang Tahun Depan

Dec 19, 2018 10:42
Foto Istimewa
Foto Istimewa

MALANGTIMES - Sektor pariwisata telah terbukti menjadi obat tepat bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang dalam meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakatnya. Geliat warga desa terasa begitu masif menggali berbagai potensi yang ada serta membangunnya menjadi destinasi wisata. 

Perekonomian pun menggeliat dan menyumbang angka bagi penurunan kemiskinan di Kabupaten Malang. 
Kondisi tersebut, sayangnya di satu sisi tidak diikuti secara maksimal dengan penyadaran terhadap lingkungan. Misalnya mengenai buang sampah sampai penyediaan secara maksimal dari pihak atau dinas terkait. 

Tidak heran, persoalan sampah di lokasi wisata, khususnya di wisata pantai di Malang Selatan, kerap dikeluhkan oleh wisatawan maupun pecinta alam dan lingkungan. Sampah pantai pun menjadi pekerjaan rumah (PR) serius yang sampai akhir tahun 2018 banyak dikeluhkan. 

Berbagai rencana dari pihak-pihak terkait, misal Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Malang dalam berbagai event yang memakai lokasi wisata pantai, terkesan hanya serupa lipstik. Rencana serta program dalam membangun kesadaran atas persoalan sampah di lokasi wisata akhirnya terjebak pada seremoni belaka. Mengunggulkan produk daur ulang sampah dan berhenti pada kegiatan insidental atau tahunan. Kebiasaan menanamkan kesadaran kepada masyarakat secara berkelanjutan serta pengadaan sarana persampahan hanya menjadi macan yang terkurung di dalam kertas. 

Dalam acara yang membahas wajah Malang di era industri pariwisata 4.0, persoalan sampah di wisata pantai Malang Selatan mencuat dari para traveller. Mereka menyayangkan keelokan dan keindahan destinasi wisata favorit masyarakat, baik dalam maupun luar, harus diganggu dengan persoalan sampah yang terbilang kritis. 

Dalam kesempatan berbeda,  Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang Made Arya Wedanthara menyampaikan, persoalan sampah di wisata pantai memang menjadi masalah yang terus terjadi.  "Kami pun tidak menutup mata tentang itu. Berkali-kali kami lalukan bersih-bersih sampah pantai dengan menggandeng unsur masyarakat. Masalah sampah di lokasi wisata adalah masalah bersama-sama. Kami, dinas terkait lain, pengelola, masyarakat serta wisatawan. Tanpa sinergi tersebut, ini menjadi masalah tahunan yang terus berulang," kata dia. 

Sektor pariwisata tidak bisa berdiri sendiri. Pernyataan Made Arya tepat dalam berbagai persoalan yang telah hadir dan dimungkinkan akan terjadi di berbagai destinasi wisata lainnya. Persoalan sampah membutuhkan penanganan bersama. 

Dinas Lingkungan Hidup pun memiliki tanggung jawab tentang persoalan tersebut. Pun para pengelola wisata sepanjang jalur lintas selatan tersebut. 

Mengubah strategi program yang bersifat seremonial menjadi kunci dalam membersihkan sampah di wisata pantai yang masih memiliki magnet besar bagi masyarakat. Bahkan, sampai akhir tahun ini, wisata pantai masih menjadi primadona wisatawan dibandingkan wisata lainnya. 

PR kedua Pemkab Malang juga telah dilontarkan oleh Ketua DPRD Kabupaten Malang Hari Sasongko. Politisi PDI Perjuangan ini meminta kepada dinas terkait di sektor pariwisata untuk juga memberikan perhatian khusus pada wisata sejarah dan religi. 
"Kita kaya dengan situs-situs sejarah. Ini perlu perhatian khusus dari Pemkab Malang. Baik sebagai komoditas pariwisata maupun sebagai bentuk kewajiban melestarikan dan merawat peninggalan sejarah," ujar Hari. 

Kabupaten Malang bukan hanya pantai saja. Tapi, berbagai peninggalan bersejarah sebagai tonggak peradaban lahirnya Kabupaten Malang pun terbilang kaya. Candi, arca, serta berbagai peninggalan masa lalu berserakan serupa mutiara yang semakin terpendam tanah. 

Kilaunya meredup karena tidak optimalnya sentuhan Pemkab Malang atas kekayaan sejarah tersebut. Hal ini juga dilontarkan oleh seorang pecinta sejarah dan budaya Ruslan Abdul Gani. Dirinya menyampaikan,  keberadaan candi-candi peninggalan sejarah harus mendapat perhatian lebih dari Pemkab Malang. "Perhatian lebih itu utamanya yang terpenting saat ini adalah  soal perawatan candi. Sampai saat ini hal tersebut belum maksimal dilakukan. Kalau dibebankan pada pengelola, jelas kewalahan karena terbatasnya anggaran," ucap Ruslan. 

Kondisi inilah yang membuat Ruslan maupun Hari menyampaikan, saatnya Pemkab Malang memberikan perhatian lebih dan ikut serta dalam membantu perawatan candi-candi yang masih bertahan sampai saat ini di Bumi Arema. 
“Kami berharap kepada Pemkab Malang untuk membantu anggaran dalam perawatan candi. Saatnya dioptimalkan karena candi juga merupakan destinasi wisata. Agar semakin menarik wisatawan, tentu butuh bantuan. Baik dari sisi dana perawatan, fasilitas maupun juga promosi,” ujar Ruslan. 

Di musim penghujan, perawatan candi pun semakin membutuhkan sentuhan Pemkab Malang. Sebab, fasilitas yang ada  masih sangat kurang. Juru pelihara candi atau pengelola tidak memiliki alat yang cukup mumpuni untuk membersihkan candi di saat musim hujan seperti saat ini. 

"Hujan mengakibatkan tumbuh suburnya lumut pada batuan candi. Kalau tidak dilakukan perawatan dengan alat yang tepat, lama-lama candi bisa rusak," pungkasnya. (*)

Topik
Berita Malangsektor pariwisataPemkab MalangDisparbud Kabupaten Malang

Berita Lainnya

Berita

Terbaru