Wali Kota Malang Sutiaji didampingi Plt Kepala KPBI Malang Dery Rossianto dan Kepala BPS Kota Malang M Sarjan saat meninjau gudang Bulog Sub Divre Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

Wali Kota Malang Sutiaji didampingi Plt Kepala KPBI Malang Dery Rossianto dan Kepala BPS Kota Malang M Sarjan saat meninjau gudang Bulog Sub Divre Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)



MALANGTIMES - Kenaikan harga beberapa komoditas bahan pangan di Kota Malang dikhawatirkan kembali memicu inflasi. Terlebih diperkirakan konsumsi masyarakat pada Desember 2018 ini bakal meningkat dengan adanya momen Natal dan tahun baru (Nataru). 

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang M Sarjan mewanti-wanti agar Pemerintah Kota (Pemkot) Malang melakukan antisipasi agar inflasi yang terjadi tidak terlalu tinggi. "Mengacu pada tahun-tahun sebelumnya, memang setiap Desember itu angka inflasi cukup tinggi. Kan banyak event-event akhir tahun seperti liburan Natal dan pesta-pesta tahun baru," ujarnya. 

Sarjan turut ikut dalam inspeksi yang digelar Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Malang, hari ini (18/12/2018). Dipimpin langsung oleh Wali Kota Malang Sutiaji, tim tersebut mendatangi tiga lokasi. Pertama di Pasar Gadang Lama, lalu di Gudang Bulog Sub Divre Malang serta Depo Pertamina Malang. 

Berdasarkan catatan BPS, pada Desember 2017 di Kota Malang terjadi inflasi sebesar 0,49 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 131,09. Beberapa komoditas penyumbang inflasi tahun lalu, yakni beras, telur dan daging ayam ras, cabai merah, tomat sayur dan bawang merah. Juga ada pengaruh dari tarif kereta api, rokok, serta bahan bakar rumah tangga.

"Kalau tahun ini masih belum bisa diperkirakan angkanya ya. Tapi November lalu Kota Malang juga inflasi karena beberapa komoditas mengalami kenaikan harga," tuturnya. 

Pada November 2018 lalu, inflasi Kota Malang tercatat di angka 0,37 persen dan lebih tinggi dari Jawa Timur yang ada di angka 0,27 persen. 

Seperti diberitakan sebelumnya, menjelang momen libur Nataru, beberapa harga kebutuhan pokok di Kota Malang terpantau naik. Kenaikan harga tersebut berkisar antara Rp 1.000 hingga Rp 5 ribu per kilogram di komoditas telur ayam ras, bawang merah, cabai merah, dan daging ayam.

Sarjan mengungkapkan, ada faktor-faktor yang tidak dapat dikendalikan oleh Pemkot Malang. Misalnya dari tarif angkutan udara atau moda transportasi lainnya. Padahal, dampak faktor tersebut terhadap inflasi cukup signifikan. "Salah satu yang dapat dilakukan TPID Kota Malang untuk menekan laju inflasi adalah memastikan pasokan barang cukup. Kalau kenaikan harga terlalu tinggi kan kasihan masyarakat yang akan terimbas," tuturnya. 

Sementara itu, Plt Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPBI) Malang Dery Rossianto mengungkapkan bahwa upaya monitoring kebutuhan bahan pokok ini dilakukan guna memastikan 4K. Yaitu ketersediaan bahan pokok di tingkat pedagang pasar dan Bulog, kelancaran distribusi, keterjangkauan harga barang, dan menyampaikan komunikasi yang efektif kepada masyarakat bahwa barang tersedia dengan cukup. 

"Dari hasil pantauan hari ini, diketahui bahwa sebagian besar harga kebutuhan pokok relatif stabil, hanya ada beberapa komoditas yang mengalami tekanan harga seperti daging ayam, telur dan bawang merah. Namun kenaikannya tidak terlalu tinggi dan masih wajar. Selanjutnya kami menghimbau kepada masyarakat agar berbelanja dengan bijak, mengingat stok saat ini terjamin ketersediannya," ujar Dery. 

Untuk diketahui, hari ini (18/12/2018) Wali Kota Malang Sutiaji didampingi Wakil Wali Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko, Sekda Kota Malang Wasto, jajaran pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD), Kepala BPS Kota Malang M Sarjan, dan Plt Kepala BI Malang Dery Rossianto melakukan tinjauan untuk mengetahui kesiapan pasokan bahan pangan menjelang Natal dan tahun baru. 

End of content

No more pages to load