Wali Kota Malang Sutiaji dan Wakil Wali Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko saat menyerahkan santunan bagi warga penerima zakat dari Baznas Kota Malang. (Foto: Humas Pemkot Malang for MalangTIMES)
Wali Kota Malang Sutiaji dan Wakil Wali Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko saat menyerahkan santunan bagi warga penerima zakat dari Baznas Kota Malang. (Foto: Humas Pemkot Malang for MalangTIMES)

MALANGTIMES - Masyarakat yang menjadi korban rentenir dan terlibat utang mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Kota (Pemkot) Malang. Pasalnya, hingga saat ini masih banyak warga yang tergoda mendapat pinjaman dengan cepat dan berakhir dengan lilitan bunga yang memberatkan. 

Wali Kota Malang Sutiaji mengungkapkan, banyak dari korban rentenir yang masih belum mau terbuka. "Saat saya tanya apa ada yang jadi nasabah "BRI" atau bank rodok isuk (bank agak pagi, merujuk waktu penarikan angsuran bank harian atau rentenir), awalnya berani ngaku hanya dua orang. Saat saya bilang akan diselesaikan pemerintah (soal utangnya), yang ngacung (angkat tangan) ada ratusan orang," ujar Sutiaji.

Hal tersebut dia temui saat membuka sekaligus memberi paparan dalam kegiatan Pencerahan Keimanan dan Ketakwaan kepada Mustahiq Kota Malang Tahun 2018 hari ini (18/12/2018) di Masjid Baiturrohim Balai Kota Malang. "Ini kan artinya masih banyak yang terjerat utang di bank titil. Nanti kami akan mengoptimalkan peran Baznas dan Gerakan Seribu Rupiah," urai Pak Aji, sapaan akrabnya. 

Kegiatan yang diinisiasi oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Malang tersebut dihadiri kurang lebih 500 orang mustahiq dari lima kecamatan. Untuk diketahui, mustahiq yakni warga yang berhak menerima zakat. Di antaranya yang tergolong dalam kaum fakir, miskin, amil, mualaf, budak, hamba sahaya dan orang-orang yang berutang. 

Sutiaji dalam sambutannya menyampaikan pesan khusus agar para mustahiq yang hadir pada kegiatan tersebut terus berupaya untuk bekerja menjadi wirausaha baru. Mski tidak dalam skala yang besar, kegiatan usaha yang dilakukan diharapkan bisa mengangkat derajat ekonomi mereka. "Perlahan tapi pasti jika sebuah usaha dilakukan dengan tekun, maka juga akan berdampak signifikan bagi peningkatan perekonomian mereka," ujarnya. 

Pria yang juga pengurus PCNU Kota Malang itu juga berpesan agar mereka menghindari peminjaman uang kepada rentenir. Sebab, pinjaman dengan bunga tinggi dan jaminan hukum itu justru akan menimbulkan masalah keuangan yang lebih dalam. "Ke depan, Gerakan Seribu Rupiah juga akan terus kami galakkan," tuturnya. 

Gerakan Seribu Rupiah tersebut merupakan inovasi Sutiaji berbentuk jimpitan sukarela. "Dengan sedekah Rp 1.000 per hari, maka hasilnya dapat membantu saudara-saudara yang membutuhkan bantuan. Gerakan tersebut akan mampu membantu pemerintah daerah untuk mengentaskan kemiskinan," tegas Sutiaji.

Pada kesempatan tersebut juga diserahkan bantuan sembako bagi 500 mustahiq yang hadir. Sutiaji juga didampingi oleh Wakil Wali Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko dan Sekretaris Daerah Kota Malang Wasto. (*)