Wali Kota Malang, Sutiaji (empat dari kiri) bersama sejumlah pemateri dan pengurus PMII. (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)
Wali Kota Malang, Sutiaji (empat dari kiri) bersama sejumlah pemateri dan pengurus PMII. (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Mempersiapkan kader-kader yang tangguh dalam menghadapi revolusi industri 4.0 serta menjadi pemimpin yang mampu membangun negeri dengan baik, PC PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) Kota Malang menggelar Pelatihan Kader Lanjut (PKL) XXI.

Baca Juga : Pandemi Covid-19, Revitalisasi Pasar Bunulrejo Dibatalkan

Ketua PC PMII Kota Malang Ragil Setyo Cahyo menjelaskan bahwa  proses menelurkan calon-calon leader ini telah melalui proses panjang. Sebab, para peserta yang mengikuti PKL ini merupakan peserta pilihan yang sudah melalui proses seleksi.

"Ada 43 kader yang lolos seleksi dari berbagai daerah. Bahkan sampai ada yang dari Pekanbaru. Kader ini tidak hanya disiapkan untuk hari ini atau lima tahun mendatang, namun untuk tahun-tahun mendatang dan seterusnya," ungkapnya ditemui usai pembukaan PKL XXI di Balai Besar Pemerintahan Desa Jalan Raya Langsep 7 Kota Malang (18/12/2018).

"Teman-teman harus punya daya cipta, inovasi maupun mempunyai kreativitas untuk bisa bersaing dan bisa menjadi generasi milenial sekaligus menyambut bonus demografi 2035 sampai 2030 bagi Indonesia," Imbuh Ragil.

Dalam menghadapi revolusi industri 4.0, saat ini para kader PMII harus  bisa atau mampu membaca zaman, bahkan  menantang zaman. Di situ mereka mereka tidak boleh terbawa arus zaman yang bisa saja justru membawa mereka ke arah yang kurang baik.

"Sehingga, dengan kader-kader yang tangguh, PMII bisa menempati dan didistribusikan pada pos-pos strategis. Nah itu nantinya output yang akan didapat pasca-PKL ini. Maka dari itu, diharapkan teman-teman untuk bisa mengikuti pelatihan ini sepenuhnya," ungkap Ragil.

Sementara, Wali Kota Malang Sutiaji yang menghadiri kegiatan itu mengungkapkan bahwa tuntutan zaman saat ini, seorang kader harus siap menjadi penakluk dan menjadi khalifah. Bukan terus-menerus menjadi seorang makmum dalam konteks revolusi industri apa pun. "Harus menjadi pemimpin yang ditaati makmumnya," ujarnya.

Baca Juga : Jamin Nasib Tenaga Kerja, Disnaker-PMTSP Kota Malang Ajukan Skema Jaring Sosial

Terlebih lagi dengan revolusi industri 4.0, para kader harus bisa menangkap hal-hal yang bisa membuat mereka semakin maju ke depan. "Ini seorang kader harus selalu siap. Jangan justru disuruh jadi ketua cabang nggak mau, disuruh jadi komisariat nggak mau. Jangan bisanya ngriwuki dan bisanya mengkritisi saja," ucap Sutiaji.

Saat ini, Pemkot Malang juga akan membangun rumah kreatif sebagai tempat kontemplasi kreasi para anak-anak muda yang ini bisa juga dimanfaatkan PMII.  Apalagi, generasi muda harus bisa menjadi subjek dari sebuah perkembangan dan bukan menjadi objek.

"Kita harus ada keberanian, keberanian dari para kader-kader PMII, untuk terus berinovasi dan berkreasi dari apa yang terjadi secara manual. Jika kita menjadi subjek, tentunya akan lebih banyak mendapatkan peluang. Namun jika menjadi objek, maka ya hanya bisa menunggu saja apa perkembangan yang ada," pungkas Sutiaji. (*)