23 paket tanaman dan bahan makanan asal luar negeri dimusnahkan oleh Balai Besar Karantina Pertanian (Surabaya), dikhawatirkan mengandung virus (Pipit Anggraeni/MalangTIMES)
23 paket tanaman dan bahan makanan asal luar negeri dimusnahkan oleh Balai Besar Karantina Pertanian (Surabaya), dikhawatirkan mengandung virus (Pipit Anggraeni/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Sebanyak 23 paket asal luar negeri pada Selasa (18/12/2018) dimusnahkan oleh Balai Besar Karantina Pertanian (BBKP) Surabaya yang berkantorkan di kawasan Abdul Rachman Saleh.

Baca Juga : Tiga Tenaga Kesehatan Positif Covid-19 di Kota Malang Sembuh

Seluruh paket tersebut berupa benih tumbuhan dan sayur serta bahan makanan yang tidak dilengkapi dengan dokumen karantina.

Kepala Bidang Karantina Tumbuhan (BBPK) Surabaya, Ir. Yusup Patiroy, MM menyampaikan paket ilegal atau tanpa dokumen tersebut berasal dari Malaysia, Hongkong, China, Singapura, Thailand, Korea Selatan, Vietnam, Meksiko, Taiwan, dan Laos. 

Paket berupa benih tanaman dan kornet babi itu pun dimasukkan ke Indonesia melalui Kantor Pos Besar Malang dan Kantor Pos Kediri.

"Pemasukan paket tersebut tidak sesuai dengan pasal 5 (a) Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan, yaitu tentang Persyaratan Karantina, sehingga dilakukan penahanan," katanya pada wartawan.

Lebih jauh dia menerangkan, setiap media pembawa atau komoditas pertanian yang masuk ke Indonesia wajib dilengkapi dengan sertifikat kesehatan dari negara asal. 

Kemudian pemasukan tersebut ditetapkan dan dilaporkan serta disertakan kepada petugas karantina untuk dilakukan tindakam karantina.

"Kemudian untuk bahan makanan juga harus disertai dengan sertifikat halal," imbuhnya.

Tindakan penahanan menurutnya berawal dari informasi Bea dan Cukai tipe Madya Malang tentang dugaan keberadaan 23 paket ilegal.

Kemudian ditindaklanjuti oleh petugas BBKP Surabaya wilker Bandara Abdul Rachman Saleh Malang. 

Berdasarkan hasil pemeriksaan ditemukan berbagai benih di antaranya benih sayur, bibit kelapa, benih bunga, daun herbal, dan kornet babi tanpa dokumen.

"Sehingga saat itu juga langsung dilakukan penahanan. Penahanan untuk 23 paket tersebut dilakukan sejak periode September hingga November 2018," tambahnya lagi.

Baca Juga : Tanggap Covid-19, Fraksi PKS DPRD Kota Malang Bagikan Ratusan APD ke Petugas Medis

Karena sampai batas waktu yang telah ditentukan, lanjutnya, pemilik dan kuasa paket tidak dapat memenuhi dokumen yang disyaratkan, maka selanjutnya dilakukan penolakan dan pemusnahan. 

Pemusnahan dengan cara dibakar itu dilakukan selain bertujuan menegakkan hukim dan memberi edukasi kepada masyarakat, juga untuk melindungi kekayaan hayati dan komoditas pertanian Indonesia dari hama dan penyakit tumbuhan yang berbahaya.

"Karena tanpa dokumen dan sertifikat halal dari negara asal, kemungkinan besar komoditi yang dikirim bisa saja berbahaya dan mengandung virus," imbuhnya.

Maraknya bisnis online menjadi salah satu celah masuknya produk asal luar negeri ke Indonesia. 

Sehingga, setiap transaksi yang terjadi juga harus mendapat pengawadan ekstra. 

Berbagai produk tanaman dan daging yang tak sesuai standart dan tak memenuhi dokumen juga harus mendapat tindakan tegas. 

Karena dikhawatirkan membawa virus berbahaya.

Berikut data lengkap media pembawa HPHK/OPTK yang dimusnahkan