KITAB INGATAN 36

Dec 16, 2018 09:38
Ilustrasi puisi (Istimewa)
Ilustrasi puisi (Istimewa)

MALANGTIMES - br>*dd nana
1/ Masa lalu telah dilarungkan. Tidak akan kau temukan tanda luka di kepala. Hujan telah membawanya dengan bijak. Hanya saputan warna perak yang akan kau temui. Dan seekor anjing yang lupa atas nama panggilannya. Mungkin, sedikit ingatan berwarna kelabu yang tersisa. Terselip antar waktu yang masih saja kau sebut senja.
Masihkah kau dendangkan hikayat-hikayat desember, puan ?
Setelah semua dirapikan dengan tenang dan waktu mengirimkan hujan ke sepasang mataku yang semakin lamur.
Kenapa aku masih menunggumu, puan ?

2/ Agar sepi tak risau, agar sepi tak menjadi pisau.
Mari kita bercerita tentang hal-hal remeh. Di tengah hujan yang sedang menari-nari.
mungkin, tentang puisi yang masyuk di secangkir kopi atau tentang kita
yang tak pernah menyatu walau satu.
Atau tentang kursi kayu berwarna senja yang mulai ditenggelamkan malam
kursi yang menyimpan rahasia nama kita begitu liat.
Walau melamur tapi tak pernah hancur, menjadi karib para pecinta yang babak belur
dihajar penantian.
Kenapa tidak kau tidurkan saja sepi, tuan ?
Atau kau seret dia ke tengah hujan yang semakin menggila.

Baca Juga : KITAB INGATAN 101

3/ Memasuki liang liur-mu
kau mengejang sebelum bibirmu membentuk perahu
dan aku tahu, saatnya aku alirkan getah sunyiku
di patahan putik sempurna-mu.
Sakit itu terlihat abadi, bukan begitu puan?

4/Dia gemar melukis bis
dengan warna-warna crayon seadanya
sampai akhirnya sebentuk kalimat menderu di bibirnya
bruuuummmm…brummmmm…
Dan dirinya nyaman memeluk boneka beruang di dalam bis yang menderum
membelah pekat menuju cahaya yang disebutnya harapan.
Patahan crayon berwarna hitam menyentak dirinya
kikuk, ban-ban bis yang melesat mendecit mendadak
dengan ringik kuda tertancap tombak.
Tubuhnya terlempar dari dalam bis yang dilukisnya.
Tak ada jerit, tak ada wajah-wajah ngeri yang segera menolongnya.
Serupa film charlie chaplin yang bisu.
Di luar suara hujan memecahkan matanya.
Mengajaknya kembali ke jalanan dengan kecrek kaleng dan suara bising umpatan
Tak pernah tuntas dirinya melukis bis.

 

Topik
serial puisipuisi pendekpuisi malangtimeskitab ingatan

Berita Lainnya

Berita

Terbaru