MALANGTIMES - Topik yang kini sedang ramai diperbincangkan di Indonesia maupun di luar negeri adalah perihal Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT). Negara kita termasuk negara yang tidak menyetujui adanya budaya LGBT. Di Indonesia, LGBT yang dinilai merusak generasi muda ini sudah semakin merajalela.

Untuk membentengi anak terhadap LBGT, orang tua perlu melakukan pencegahan sejak dini. Yakni dengan memberikan senjata kepada anak. Bukan malah memagarinya. Sebab akan percuma dengan teknologi informasi yang pesat ini.

"Kalau zaman sekarang itu nggak mungkin lagi kalau kita melindungi anak dengan pagar. Tapi kita juga harus memberikan senjata tameng ke anak-anak. Nggak cukup dengan membatasi anak tetapi kita juga kasih anak senjata bagaimana cara dia bisa menentukan mana perilaku yang salah, mana perilaku yang benar, mana yang boleh dicontoh, mana yang tidak," papar psikolog dan dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Retno Firdiyanti, S.Psi, M.Psi.

Senjata agar anak tidak terpengaruh LGBT sendiri adalah seks edukasi. Lantas, bagaimana seks edukasi yang benar untuk anak? Memang, sebagian orang menganggap pendidikan seks itu tabu. Namun perlu diketahui, dengan risiko ancaman yang seperti ini tidak ada kata tabu lagi untuk memberikan seks edukasi. Nah, seks edukasi ini dilakukan kepada anak sejak bayi. Tepatnya pada saat anak sudah bisa berkomunikasi.

"Kalau anak sudah bisa diajak bicara walaupun ngomongnya belum lancar itu sudah bisa diberikan sex edukasi," ujarnya.

Retno melanjutkan, yang harus dipelajari orang tua adalah takaran mengenai seberapa edukasi yang diberikan kepada anak di usia-usia tertentu. Sebab, capaian anak di masing-masing umur berbeda-beda. Capaian itu bergantung dengan kapasitas kognitif dan kapasitas emosinya. Kemampuan-kemampuan itu akan semakin besar seiring bertambahnya usia anak. Untuk itu, orang tua harus memberikan materi yang sesuai dengan kemampuan mereka.

Retno menjelaskan, seks edukasi untuk anak usia di bawah 5 tahun dianjurkan tidak memakai penjelasan yang abstrak. Abstrak di sini maksudnya adalah sesuatu yang tidak konkrit. Misalnya, ketika orang tua mengenalkan bagian tubuh kepada anaknya. Orang tua harus menggunakan nama asli alat kelamin. Jadi, penis ya penis, vagina ya vagina.

"Misalnya, laki-laki punya penis. Nggak perlu bilang burung karena anak belum bisa mencerna definisi yang abstrak," ujarnya.

Kalau dikenalkan sebagai burung, anak akan mengalami kerancuan berpikir. Sebab, burung baginya adalah binatang yang mempunyai sayap dan bisa terbang.

"Jadi lebih baik bahasanya beneran. Kalau perempuan ya namanya vagina. Semua anak laki-laki punya penis. Kalau kakak perempuan gak punya penis tapi punya vagina," imbuhnya.

Itu mengenai pengenalan organ tubuh yang sebaiknya dilakukan orang tua untuk anaknya. Selanjutnya, anak juga perlu diajari untuk merasa malu. Retno menjelaskan bahwa anak memiliki fase anal. Di fase anal, anak punya kesenangan dengan memegang genitalnya. Nah, di fase itu, orang tua harus mengajari anak dan memberi pengertian rasa malu.

Orang tua pun perlu membiasakan anak untuk mandi di kamar mandi dengan menutup pintu. Sebab akan malu apabila dilihat orang lain. Orang tua perlu menjelaskan juga, ada bagian tubuh yang boleh dilihat orang lain, ada bagian yang tidak boleh dilihat orang lain. Ada bagian yang boleh disentuh orang lain, ada yang tidak boleh disentuh. Selain itu, dijelaskan juga dengan konkrit siapakah orang lain itu.

"Orang lain itu selain ayah, ibu, sama mbak misalnya. Selain itu dia orang lain nggak boleh menyentuh," paparnya.

"Sex edukasi adalah modal utama. Jadi kita membentuk identitas seksualnya itu dari sejak dini, imbuhnya.