Indahnya Toleransi, Ketika Siswa Muslim Bantu Hias Pohon Natal di Malang

Suasana para siswa SMA Taman Harapan Kota Malang dari berbagai agama yang menghias pohon natal bersama. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Suasana para siswa SMA Taman Harapan Kota Malang dari berbagai agama yang menghias pohon natal bersama. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Suasana menjelang perayaan Hari Natal kerap memanas di media sosial maupun di kehidupan sehari-hari. Salah satu contohnya adalah perdebatan boleh tidaknya mengucapkan selamat natal bagi rekan nonmuslim. Tetapi di Kota Malang, ada sekolah yang mengajarkan indahnya toleransi sejak dini dengan cara menghias pohon natal bersama. 

Seperti yang dilakukan siswa-siswi SMA Taman Harapan Kota Malang. Di sela kegiatan class meeting menunggu pembagian rapor, para siswa disibukkan kegiatan yang unik. Yakni menghias pohon natal bersama. Siswa beragama Kristen-Katolik tampak dibantu teman-temannya yang muslim, Budha, dan Konghucu. 

Sebuah pohon pinus sintetis setinggi tiga meter diletakkan tepat di lobi sekolah di depan pintu masuk utama. Para siswa pun menghias menggunakan lampu-lampu kaca berwarna-warni, juga lampu led kecil dan slinger (rumbai) berwarna perak. Tak lupa sebuah bintang berwarna emas diletakkan di pucuk pohon tersebut. 

Kepala SMA Taman Harapan Malang Endah Restiningrum mengungkapkan, tradisi tersebut sudah dilakukan belasan tahun di sekolah itu. "Ini sudah jadi tradisi sekolah, dan bukan hanya saat Natal. Saat menjelang Idul Fitri, atau Imlek, atau perayaan hari besar lainnya juga, siswa kami ajak untuk menyemarakkan," ujar Endah. 

Menurut Endah, nilai toleransi sangat penting diberikan pada siswa dengan cara yang menyenangkan. "Kalau menghias sekolah ini kan anak-anak senang ya. Mereka juga berkreasi. Ada yang hias pohon Natal, ada yang hias kelas. Kalau pas Idul Fitri bareng-bareng bikin ketupat kertas untuk hiasan, dan lain-lain," terangnya. 

Pihak sekolah berharap, nantinya siswa akan tumbuh menjadi pribadi yang penuh kasih dan toleran. "Apalagi remaja ini kan masih labil dan gampang terpengaruh. Harus terus diberi influence (pengaruh) yang positif. Apalagi di media sosial kan banyak sekali isu-isu yang anti toleransi, jangan sampai ikut-ikutan," tegasnya. 

Bahkan, lanjut Endah, tradisi menghias pohon natal itu juga mendapat penghargaan dari UNESCO. Tepatnya pada 2008 silam, lembaga di bawah PBB itu menyematkan kategori sebagai sekolah perdamaian. "Ya karena tradisi ini, ada perwakilan dari UNESCO datang ke sekolah dan mengesahkan sekolah kami sebagai sekolah perdamaian NKRI," terangnya. 

Salah satu siswa muslim, Fitria mengungkapkan bahwa meski ikut membantu menghias pohon natal, dia tidak merasa terganggu. "Kata netizen itu kan khawatir mempengaruhi keimanan, padahal ya enggak. Biasa aja, malah belajar toleransi, mengerti tradisi teman, tidak langsung menilai salah ke agama lain," ujarnya. 

 

Editor : A Yahya
Publisher :

Redaksi: redaksijatimtimes[at]gmail.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : redaksijatimtimes[at]gmail.com | redaksijatimtimes[at]gmail.com
Top