foto istimewa

foto istimewa



MALANGTIMES - Sepak Bola sebagai 'penyedap rasa' Pilpres 2019. Pernyataan itu rasanya tak berlebihan jika melihat fenomena yang ada. 

Karena di masa kampanye seperti sekarang, lapangan sepak bola mulai ramai dinilai sebagai ajang berkampanye.

Beberapa saat lalu, ribuan suporter Stadion Agus Salim tampak merayakan kemenangan Semen Padang. 

Namun bukan dengan yel-yel dan lagu kebesaran supporter dan klub sepak bola yang mereka dukung, melainkan mereka meneriakkan yel-yel dengan menyebut nama Calon Presiden nomor urut dua, Prabowo Subianto. 

Sontak, suasana stadion pasca peluit ditiup pun menjelma seperti ruang terbuka kampanye.

Berita terkait aksi suporter yang viral itu pun sebelumnya diberitakan MalangTIMES dengan judul 'Viral, Teriakan Prabowo Bergemuruh Usai Semen Padang Tundukkan Persita di Stadion Agus Salim' 

Baca : Viral, Teriakan Prabowo Bergemuruh Usai Semen Padang Tundukkan Persita di Stadion Agus Salim

Sementara baru-baru ini, Gubernur DKI Jakarta Anis Baswedan tampak melakukan perayaan atas kemenangan Persija Jakarta atas Mitra Kukar dalam Liga 1 2018 di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta. 

Salam Jak Mania berbentuk huruf 'J' yang tampak sama dengan salam dua jari milik pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden nomor urut dua, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno itu pun banyak dinilai masyarakat sebagai bentuk dukungan pada Prabowo dan Sandi.

Baca: Usai Nama Prabowo Bergemuruh di Stadion Agus Salim, Anies Baswedan Salam 'Dua Jari' di GBK

Menanggapi itu, Pakar Politik Universitas Brawijaya (UB) Malang, Wawan Sobari menjelaskan, sepak bola selama ini menjadi salah satu alat yang banyak digunakan untuk mobilisasi pemilih. 

Namun bukan sebagai mesin pokitik, melainkan sebagai daya tarik politik.

"Sepak bola itu olahraga yang sangat populer di Indonesia. Jadi tidak heran jika sepak bola memang dijadikan sebagai alat mobilisasi pemilih," katanya pada MalangTIMES, Senin (10/12/2018).

Fenomena dalam lapangan sepak bola itu menurutnya bentuk simbol populisme. 

Karena dianggap mampu lebih dekat dengan rakyat melalui sederet aktivitas yang dilakukan bersama para pecinta bola. 

Dibeberapa daerah, bahkan hal itu menjadi sangat lumrah. 

Namun jika berbicara dalam kancah pilpres, maka agaknya masih belum dapat dipastikan.

Berdasarkan riset Pilkada yang pernah dia lakukan menunjukkan jika seorang kepala daerah (Bupati) banyak dipilih oleh kalangan pemuda, kebanyakan merupakan supporter sepak bola. 

Setelah ditelusuri, ternyata Bupati terpilih tersebut sebelumnya memang memiliki kedekatan dengan para suporter.

"Tapi sejauh ini untuk pilpres masih belum relevan, karena jumlahnya memang masih cukup tingkat daerah. Berhubung sekarang masa kampanye, apapun simbolnya yang seolah menunjukkan identitas pasangan calon seolah dipolarisasikan," imbuhnya.

Lebih jauh dia menyampaikan, dunia sepak bola tidak semestinya dicampur adukkan dengan politik. 

Kecuali jika hanya dijadikan sebatas bahan kampanye seperti dimasukkan dalam visi dan misi calon presiden dan wakil presiden misalnya.

"Seandainya olahraga dimasukkan dalam visi dan misi calon itu tidak masalah. Seperti Timnas Indonesia dalam masa kepemimpinannya ditargetkan masuk piala dunia misal, itu sangat bagus. Kalau dicampur aduk antara olahraga dan politik saya tidak setuju dan itu bahaya," jelasnya lagi.

Menurutnya, fenomena simbol populis di lapangan sepak bola tersebut bukan pertama kali terjadi di Indonesia. 

Namun karena saat ini masanya bebarengan dengan kampanye, maka banyak yang mengkaitkannya sebagai pola berkampanye.

Setiap cara yang dilakukan selalu dikaitkan dengan sistem kampanye. 

Sama halnya yang terjadi pada Anis Baswedan saat membuat perayaan atas kemenangan Persija Jakarta.

 

End of content

No more pages to load