Ruang tunggu disabilitas netra Puskesmas Janti (foto: Imarotul Izzah/ MalangTIMES)

Ruang tunggu disabilitas netra Puskesmas Janti (foto: Imarotul Izzah/ MalangTIMES)



MALANGTIMES - Seperti yang diketahui, Puskesmas Janti terkenal dengan inovasi Brexit. Brexit merupakan terobosan inovatif bagi disabilitas yang merupakan kependekan dari Braille E-Ticketing Extraordinary Information. Inovasi yang digagas pada tahun 2017 ini memberikan layanan optimal khususnya bagi pasien penyandang disabilitas netra.

Fasilitas yang tersedia dalam Brexit antara lain papan yang bertuliskan huruf Braille di puskesmas, jalan khusus guiding block, dan karpet jalur pemandu bagi penyandang disabilitas netra. Selain itu, inovasi Brexit telah memfasilitasi para penyandang disabitas netra untuk mandiri dalam meminum obat.

Untuk diketahui, latar belakang Puskesmas Janti membuat inovasi Brexit adalah wilayahnya yang dekat dengan Rehabilitas Sosial Bina Netra (RSBN). Di RSBN, total penyandang netranya berjumlah 105. Sedangkan di wilayah Puskesmas Janti di luar RSBN sendiri terdapat 7 pasien netra.

"RSBN itu ada di wilayah kami. Awalnya dari sana akhirnya kita punya inovasi itu. Tiap hari mereka berkunjung bisa 5 sampai 10 orang. Jadi dari sana bagaimana supaya pasien disabilitas netra itu bisa terlayani," ungkap Kepala Puskesmas Janti Endang Listyowati, S.Kep.Ns, M.MKes saat ditemui di kantornya tadi (10/12).

Nah, dalam layanan kefarmasiannya, etiket obat telah ditulis dengan huruf braille. Di dalamnya tercantum nama pasien, tanggal peracikan, tata cara aturan minum obat, jenis obat, nama obat, kapan obat harus diminum, berapa kali mereka harus minum, tanggal kadaluarsa obat, hingga kegunaan obat. Endang sendiri menyatakan bahwa latar belakang Puskesmas Janti membuat layanan obat dengan menggunakan huruf braille tersebut ialah karena pasien disabilitas netra tergantung pada pendamping dalam memahami aturan minum obat. Dengan adanya inovasi ini pasien disabilitas netra mampu minum obat secara mandiri .

Akan tetapi, inovasi Puskesmas Janti tidak hanya terhenti sampai di situ saja. Puskesmas Janti akan mengembangkan pelayanan disabilitas ke jenis disabilitas lain selain netra. Endang menyatakan bahwa ia mendapat masukan dari Kemendagri supaya Janti tidak hanya membuat inovasi untuk pasien disabilitas netra saja, tetapi juga untuk semua disabilitas.

Nah, saat ini Puskesmas Janti sudah menyediakan handrail untuk pasien cacat fisik. Untuk pasien tuna rungu, sudah ada antrean yang menyebutkan nomor antrean seperti di bank.

"Jadi pasien tuna rungu itu kan cuma bisa melihat saja, jadi di sana ada nomor antrean, dapat dilihat dari sana sehingga dia bisa mengakses di sana," paparnya.

"Kita sudah berproses (layanan untuk semua disabilitas). Insya Allah 2019 kita mulai mewujudkan itu. Itu sesuai dengan masukan Tim juri inovasi pelayanan publik (ayo inklusif) dan Biro Organisasi Provinsi Jatim, serta Kemendagri ," imbuhnya.

End of content

No more pages to load