Kaya Situs Sejarah, Saatnya Pemkab Malang Lebih Serius 'Ngopeni'

Pertunjukan sendra tari dengan memanfaatkan latar candi Prambanan, Jateng, sebagai upaya lain memperkenalkan situs sejarah lebih massif (Ist)
Pertunjukan sendra tari dengan memanfaatkan latar candi Prambanan, Jateng, sebagai upaya lain memperkenalkan situs sejarah lebih massif (Ist)

MALANGTIMES - Kabupaten Malang lahir dari peradaban tinggi ribuan tahun lalu. 

Jejak kejayaan masa lalu itu sebagian besar masih berdiri kokoh sampai saat ini. 

Candi Singosari, Sumberawan di Kecamatan Singosari, Candi Kidal dan Jago di Tumpang, Candi Badut di Dau, Candi Jawar Ombo di Ampelgading, Candi Telih di Karangploso, Candi Bocok di Kasembon,  Candi Ngabab di Pujon serta beberapa situs lainnya. 

Situs-situs tersebut menceritakan kejayaan peradaban masa lalu sampai saat ini. 

Beragam kekayaan situs sejarah ini menunggu untuk terus dihidupkan secara maksimal oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang. 

Bukan tidak ada sentuhan, tapi poros pembangunan pariwisata sampai saat ini  didominasi  Malang Selatan. 

Sedangkan situs-situs sejarah masih dalam kondisi yang sama setiap tahunnya. 

Hal ini disampaikan Ketua DPRD Kabupaten Malang Hari Sasongko saat melihat gerak pembangunan di bidang pariwisata. 

Dimana destinasi wisata sejarah masih terbilang tidak maksimal mendapat sentuhan pembangunan dari Pemkab Malang. 

"Kita punya kekayaan sejarah yang luar biasa. Sayangnya sampai saat ini belum bisa dimanfaatkan secara maksimal dalam konteks pariwisata," kata politikus gaek dari PDI-Perjuangan beberapa waktu lalu. 

Padahal, masih menurut Hari, situs sejarah yang ada di Kabupaten Malang, memiliki sejarah panjang. 

Misalnya Kerajaan Singasari yang secara masa-nya lebih tua daripada kerajaan Mataram Islam di Jawa Tengah. Atau cikal bakal lahirnya nusantara pada jaman Raja Kertanegara yang memerintah Singhasari pada tahun 1275 – 1286 melalui ekspedisi Pamalayu. 

Berbagai kekayaan situs sejarah inilah yang diminta oleh DPRD Kabupaten Malang untuk juga disentuh secara maksimal oleh Pemkab Malang dalam konsep pariwisata. 

"Tidak hanya fokus di daerah selatan untuk pengembangan pariwisatanya. Padahal itu bukan milik kita lahannya. Sedangkan yang benar-benar milik kita, seperti candi-candi itu belum tergarap secara maksimal," ujar Hari. 

Seperti diketahui, pariwisata di Kabupaten Malang memang fokus di wilayah pantai yang berjejer di Malang Selatan. Dimana lahan-lahan di lokasi tersebut merupakan milik Perhutani.

Pembangunan Malang Selatan terbilang massif,  baik secara infrastruktur maupun berbagai kegiatan. Seperti agenda rutin  tahunan Malang Beach Festival (MBF). 

Bila dibandingkan konsentrasi Pemkab Malang antara wisata pantai dan wisata sejarah, serupa perbandingan gedung bertingkat dengan rumah tradisional di perdesaan. 

Padahal, masih menurut Hari, jika keberadaan situs-situs sejarah yang sebagian masih berdiri kokoh dan lainnya mengalami kerusakan, dikemas secara serius oleh Pemkab Malang.

"Akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Dalam konteks pariwisata akan memberikan alternatif bagi wisatawan," ujarnya. 

Pemakaian latar peninggalan sejarah seperti candi dalam konsep pariwisata,  bukan hal baru.

Diberbagai daerah,  seperti Jawa Tengah, hal tersebut berkali-kali dilakukan. 

Bahkan, kegiatan-kegiatan yang dilakukan di areal candi, misalnya di Prambanan atau Borobudur, telah menjadi ikon wisata yang dikenal sampai mancanegara. 

"Kita bisa juga melakukan hal tersebut. Mengadakan pagelaran kolosal sendra tari atau wayang orang dan kesenian lain dengan latar candi-candi yang ada di sini. Ini akan menarik dari sisi pariwisata juga edukasi masyarakat atas sejarah yang dimilikinya," urai Hari yang berharap dengan mulai menggeliatnya peristiwa kesenian dengan melibatkan panggung berupa candi-candi peninggalan masa lalu, bisa menjadi agenda wisata tahunan di Kabupaten Malang. 

Untuk lebih menguatkan konsep pariwisata yang bisa menghidupi sejarah, Hari juga menyampaikan agar seluruh penggiat budaya dan seniman yang ada dirangkul dalam berbagai event tersebut. Sehingga tercipta sinergitas antara pemkab Malang dengan para pelaku budaya dan seni. 

Situs-situs sejarah pun bisa lebih dikenalkan secara kekinian. 

Misalnya menjadi latar pertunjukan musik jazz,  seperti di Candi Penataran. Atau berbagai aktivitas lainnya yang sampai saat ini masih diinisiasi oleh elemen masyarakat pecinta sejarah,  budaya dan kesenian. 

"Candi sebagai latar pertunjukkan bukan hal baru juga sebenarnya di sini. Sayangnya masih bersifat insidental kalau ada acara saja. Belum jadi agenda rutin dan bersifat massif," ucap Hari yang terus mendorong Pemkab Malang untuk lebih mengopeni keberadaan situs-situs sejarah.

Editor : Heryanto
Publisher :

Redaksi: redaksijatimtimes[at]gmail.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : redaksijatimtimes[at]gmail.com | redaksijatimtimes[at]gmail.com
Top