Kondisi pasca longsor yang mengakibatkan puluhan perahu nelayan rusak parah, Kecamatan Sumbermanjing Wetan (Foto : PMI Kabupaten Malang for MalangTIMES)

Kondisi pasca longsor yang mengakibatkan puluhan perahu nelayan rusak parah, Kecamatan Sumbermanjing Wetan (Foto : PMI Kabupaten Malang for MalangTIMES)



MALANGTIMES - Pada bulan Desember 2018 ini, diprediksi curah hujan bakal semakin tinggi. 

Kondisi semacam ini, bakal memicu terjadinya tanah longsor. 

Diperkirakan, menjelang tutup tahun, musibah longsor bakal mendominasi di berbagai wilayah yang ada di Kabupaten Malang.

Terbaru, peristiwa tanah longsor terjadi di Pantai Kletakan Dusun Tambakasri Wetan, Desa Sidoasri, Kecamatan Sumbermanjing Wetan (Sunawe), Jumat (7/12/2018) tengah malam.

Camat Sumawe Agus Harianto menuturkan, kronologi bermula ketika hujan gerimis menguyur sejak sore hari. 

Puncaknya, sekitar pukul 18.00, hujan lebat disertai gemuruh petir terjadi di daerah Desa Sidoasri. 

“Hujan deras sempat menguyur selama 4 jam, akibatnya sungai Kletakan banjir bandang dan meluap ke pemukiman warga,” terang Agus, Minggu (9/12/2018).

Akibat luapan air sungai tersebut, mengakibatkan banjir dan tanah longsor. Material tanah dan bebatuan, menyebabkan 57 perahu kunting tertimbun pasir. 

Sedangkan 3 prahu speed milik nelayan setempat, juga tenggelam luapan air yang mengangkut material longsor tersebut.

Selain mode transportasi air yang berjajar di sekitar sungai dan pantai Kletakan, banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang pemukiman warga, juga mengakibatkan 5 unit sepeda motor tertimbun tanah. 

Tim siaga bencana sempat kuwalahan saat musibah terjadi. 

Sebab, satu bangunan pos pantau yang ada di sekitar lokasi kejadian rusak parah. 

“Sejauh ini, dari data yang kami terima, tidak ada korban jiwa,” terang Agus.

Meski tidak ada korban jiwa, namun beberapa orang sempat tertimbun material longsor. 

Kondisi terparah dialami Suliono, warga Dusun Tambakasri Wetan, Desa Tambakasri, Kecamatan Sumawe.

Dari berbagai sumber yang dihimpun MalangTIMES, sesaat sebelum hujan lebat menguyur lokasi kejadian, pria yang kesehariannya bekerja sebagai nelayan ini, sedang mencari ikan. 

Lantaran hujan deras, korban bersama nelayan lainnya memilih untuk berteduh di bangunan, yang biasanya digunakan untuk menyimpan peralatan para nelayan.

Namun keputusannya tersebut, justru berbuah petaka. Tebing setinggi 100 meter yang ada di sekitar lokasi kejadian, tiba-tiba runtuh dan menimbunh bangunan tersebut. 

Sedikitnya ada sekitar 5 orang yang tertimbun longsor. Dua diantaranya selamat, satu orang luka sedang, dan satu lainnya mengalami luka ringan.

Sedangkan Suliono mengalami patah kaki sebelah kanan. 

Korban yang mengalami luka dan patah tulang, baru bisa dievakuasi beberapa jam kemudian, Sabtu (8/12/2018) dini hari. 

Saat itu juga, pria 41 tahun tersebut, dilarikan ke Rumah Sakit Bokor Turen, guna menjalani perawatan akibat patah tulang.

Terpisah, Kasubsi Penanggulangan Bencana Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Malang, Mudji Utomo menuturkan, pasca banjir dan tanah longsor, ratusan relawan serta tim gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang, perangkat desa, anggota Koramil dan Polsek Sumawe, diterjunkan ke lokasi kejadian. 

“Sedikitnya ada sekitar 100 personel yang terlibat, proses evakuasi memakan waktu berjam-jam. Sehari kemudian, sisa material longsor dan akses jalan menuju objek wisata kembali dibuka, Sabtu (8/12/2018) sore,” ujar Utomo.

Sementara itu, Kepala BPBD Kabupaten Malang Bambang Istiawan menuturkan, jika musibah longsor memang menjadi bencana yang perlu diwaspadai. 

Wajar saja, di Kabupaten Malang memang didominasi wilayah perbukitan di berbagai titik yang tersebar di beberapa Kecamatan. 

“Kultur tanah yang mudah terkikis, serta minimnya pohon mengakibatkan marak terjadinya longsor. Terutama di daerah yang memiliki kemiringan mencapai 45 derajat, seperti salah satunya di Kecamatan Sumawe dan Pujon. Untuk itu, kami beserta Organisasi Pemerintah Daerah (OPD), bekerjasama untuk menanam pohon guna meminimalisir terjadinya bencana,” tegas Bambang.

Dari data yang dihimpun MalangTIMES, sepanjang tahun 2018 ini, sedikitnya ada 12 musibah tanah longsor. 

Dari jumlah tersebut, Kecamatan Pujon menjadi daerah paling rawan, yakni dengan 3 insiden.

Sementara itu, Kecamatan Poncokusumo dan Donomulyo menjadi daerah rawan selanjutnya, yakni dua insiden selama kurun waktu Januari hingga saat ini. 

Lanjut, Kecamatan Wagir, Ngantang, dan Ampelgading, Lawang, dan Sumawe masing-masing terjadi satu kali insiden tanah longsor.

Jika dibandingkan dengan tahun lalu, sedikitnya ada 15 kali tanah longsor terjadi di Kabupaten Malang. 

Dimana Kecamatan Ngantang, menjadi daerah paling rawan, yakni 5 kejadian. 

Kemudian, Kecamatan Ampelgading berada di posisi selanjutnya, dengan total tiga insiden.

Sementara itu, tiga Kecamatan yang meliputi, Kecamatan Lawang, Kasembon, dan Gedangan, masing-masing dua kejadian. 

Terakhir, satu bencana tanah longsor terjadi di Kecamatan Poncokusumo.

 

End of content

No more pages to load