Kisah Orang Hutan dari Kasongan: Jago Perang, Wartawan Pergerakan sampai Jadi Mata-Mata Jepang

Tjilik Riwut (Ist)
Tjilik Riwut (Ist)

MALANGTIMES - Bumi Nusantara adalah tempat lahirnya para manusia perkasa. Bukan hanya Jawa yang dipenuhi orang-orang hebat nan pintar saja. Di belantara lebat Kalimantan pun lahir orang-orang hebat yang namanya masih membekas karena perjuangannya yang patut diteladani saat ini. 

Sebut saja Orang Hutan dari Kasongan, Kalimantan Tengah (Kalteng), bernama Tjilik Riwut (2 Februari 1918-17 Agustus 1987). Sosok yang mungkin tidak familiar bagi kita. Tapi namanya terus bergaung dan membekas di tanah kelahirannya. Sosok yang dengan bangga selalu mengatakan dirinya adalah orang hutan inilah yang telah membuat ratusan Suku Dayak bersumpah setia kepada Pemerintah RI secara adat di hadapan Presiden Soekarno di Gedung Agung Yogyakarta, 17 Desember 1946.

Bahkan, karena orang hutan yang dianggap sakti dikarenakan bisa menghilang dan terbang inilah, 185.000 rakyat yang terdiri dari 142 Suku Dayak, 145 kepala kampung, 12 kepala adat, 3 panglima, 10 patih, dan 2 tumenggung dari pedalaman Kalimantan rela menumpahkan darahnya sendiri dari kungkungan penjajah Belanda maupun Jepang di masa perang kemerdekaan. 

Siapakah orang hutan bernama Tjilik Riwut ini sehingga mampu menyatukan suku-suku pedalaman Kalimantan dan bisa mengikatnya dalam tujuan yang sama: berperang melawan penjajah dan membuat Kalimantan  masuk dalam pelukan Republik Indonesia? Tjilik Riwut adalah salah satu putra Dayak dari Suku Dayak Ngaju. Lelaki yang dilahirkan dan hidup di belantara hutan Kalimantan. Karena itu, dia sangat bangga mengenalkan dirinya sebagai orang hutan. 

Sebagai orang hutan, fisiknya sangatlah kuat. Tjilik Riwut mampu mengelilingi kalimantan hanya dengan berjalan kaki, naik perahu dan rakit. 

Tjilik Riwut  menamatkan pendidikan dasar di kota kelahirannya. Selanjutnya dia melanjutkan pendidikannya di sekolah perawat di Purwakarta dan Bandung. Tjilik Riwut kemudian terjun ke dunia militer dan menjadi komandan pasukan MN 101 Mobiele Brigade MBT/TNI Kalimantan. Ia juga mencatatkan prestasi di bidang militer karena kesuksesannya sebagai komando penerjun payung pertama AURI pada 17 Oktober 1947. 

Pengalaman tempurnya tidak diragukan. Sebagian besar Kalimantan dan Jawa pernah menjadi medan perangnya melawan penjajah Belanda. Tjilik Riwut selalu selamat dalam berbagai peperangan tersebut. Sehingga banyak masyarakat atau kalangan menganggapnya orang sakti. Bisa menghilang dan juga terbang dikarenakan Tjilik Riwut kerap bertapa di Bukit Batu Katingan. Kini, kawasan itu menjelma menjadi salah satu destinasi wisata cukup terkenal. 

Tapi, yang membuat Tjilik Riwut dihormati dan disegani masyarakat Kalimantan serta membuat pemerintah RI menyampirkan gelar  pahlawan nasional berdasarkan SK Presiden RI No 108/TK/Tahun 1998 pada tanggal 6 November 1998 adalah kemampuannya membuat seluruh suku Kalimantan bersatu padu dan berikrar di bawah naungan NKRI walau darah dan nyawa menjadi taruhannya untuk membela Indonesia. 

Tidak hanya piawai bertempur dan berdiplomasi menyatukan ratusan suku pedalaman Kalimantan saja, Tjilik Riwut pun pandai menulis. 

Ketertarikannya dalam dunia tulis menulis membuatnya memutuskan untuk menjadi wartawan. Tahun 1940, ia sudah menjadi pemimpin redaksi Majalah Suara Pakat. Di kurun waktu yang sama, ia juga bekerja sebagai koresponden Harian Pemandangan. Tahun itu, si orang hutan ini menjadi penyebar berita seputar pergerakan nasional di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan yang ditulisnya. 

Sayangnya, kiprah jurnalisme Tjilil Riwut harus terhenti di tahun 1942. Tentara Jepang datang dan mendarat di Balikpapan. Dirinya yang dianggap menguasai medan belantara hutan Kalimantan direkrut Jepang yang telah menguasai Indonesia. Tjilik Riwut menjadi intelijen (mata-mata) militer Jepang. Tugasnya adalah untuk mengumpulkan data-data tentang keadaan di Kalimantan. 

Jiwa patriotisme Tjilik Riwut tetap berkobar-kobar. Kamuflase perannya sebagai mata-mata Jepang, berhasil meyakinkan. Jepang menberi akses luas padanya untuk bergerak ke seluruh daerah Kalimantan. Kedudukannya sebagai mata-mata ini yang dipergunakan sebaik mungkin oleh si orang hutan  untuk menjalin komunikasi dan koordinasi dengan beragam suku di Kalimantan secara intens. Tjilik Riwut meyakinkan mereka agar tetap setiap dan mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Kemerdekaan pun berkemundang di seluruh Indonesia. Perang demi perang dan peran Tjilik Riwut selama masa kemerdekaan telah menempanya menjadi Orang Hutan yang semakin dihormati. Babak baru perjuangan Tjilik Riwut pun tetap berkorbar. Dirinya kini berperan sebagai sosok pembangunan di wilayahnya. 

Dia singsingkan lengan. Membuka hutan serta membangun daerah  di sekitar Desa Pahandut menjadi Palangkaraya, Ibu kota Kalimantan Tengah. 

Harta bendanya ia sumbangkan kepada mereka yang bersama-sama membangun Palangkaraya. Sampai-sampai Tjilik Riwut yang telah menjadi gubernur Kalimantan Tengah 2 Masa jabatan (30 Juni 1958-Februari 1967)  dan keluarganya kehabisan jatah beras yang diperuntukkan baginya sebagai gubernur. Sebab, ia membagikan beras tersebut pada orang-orang yang bekerja. 

Di era menjadi gubernur pun, Tjilik Riwut yang bangga menyandang gelar Orang Hutan, tetap memegang teguh kecintaannya terhadap kebudayaan leluhurnya. Hal ini terlihat dari jejaknya dalam berbagai buku yang Tjilik Riwut tulis sejak tahun 1948-1979.  Makanan Dayak (1948), Sejarah Kalimantan (1952), Maneser Panatau Tatu Hiang (1965), Kalimantan Membangun (1979) serta karya tulis lainnya. 
Hingga datanglah hari Senin, 17 Agustus 1987.

 Api patriotisme dan jiwa membangun daerah yang dicintainya dalam dada dan pikirannya, padam. Penyakit liver/hepatitis yang bersenyam di tubuhnya telah menjadi jalan bagi Tjilik Riwut pulang keharibaan sang Pemilik-Nya. Tjilik Riwut meninggal setelah dirawat di Rumah Sakit Suaka Insan  di usia 69 tahun.  (*)

 

Editor : Yunan Helmy
Publisher :

Redaksi: redaksijatimtimes[at]gmail.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : redaksijatimtimes[at]gmail.com | redaksijatimtimes[at]gmail.com
Top