KITAB INGATAN 35

Ilustrasi puisi (Istimewa)
Ilustrasi puisi (Istimewa)

MALANGTIMES - Hanya Hikayat

*dd nana

1/ Buaya darat. Kalimat itu masih terngiang dan menetap. Mata ibu dipenuhi air mata. Aku teringat hujan di sore hari. Membuat segala yang kulihat basah. "Hujan adalah karib bagi para yang terluka. Yang memberi ruang hati pada sepi. Yang memeluk gigil tubuh yang diremas kuku pengkhianat. Kemarilah, biarkan aku menentramkanmu,". 

Aku teringat ragaku hanyut. Seluruh pori-pori tubuhku terbuka. Menyesap sensasi nikmat dan tepi maut yang disembunyikan begitu rapi dalam halus kulit, merah lembut jilat lidahmu. Sampai akhirnya aku teringat kalimat ibu yang lalu. Buaya darat. 

Aku sekarat. 

"Ikutlah denganku. Agar kau faham rasa air mata dan nyeri yang membuatmu meringkuk begitu senja,". 

Digenggamnya tanganku sampai di suatu sungai. Matamu kembali bercerita. "Terlihat kotor dalam kecoklatan warnanya. Tapi buaya menyukainya. Lihatlah, " mataku menatap dua ekor buaya saling belit. Air sungai berkecipak, di telingaku terdengar suara lirih ibu yang begitu kesakitan. Saat dirinya menatap pergumulan sepasang yang telanjang di ranjang pengantin yang akan jadi milikku. 

Buaya darat. 

"Mereka memperebutkan lidah. Agar bisa hidup dan menjadi penguasa di sepanjang sungai ini, ". 

"Buaya berlidah? ". 

Lidah buaya, nona. Menjadi rebutan sebagai bentuk kekuasaan. Sepertimu yang telah lama meringkuk kareba khasiatnya. "Bukan begitu? ". 

Aku sekarat. 

Sebelum ingatan membawaku ke yang lampau. Aku datangi dua ekor buaya yang sedang asyik berebut lidah itu. Mereka terkesima dan berhenti saling serang. "Jadikan aku istri kalian. Akan kuberikan lidah buaya yang kalian perebutkan,". Mereka berubah menjadi cicak. Yang aku bawa ke ranjang pengantin yang membuat Ibu berkata dalam tepi nyeri,  "Buaya Darat". 

Dalam sekarat aku potong lidah-lidah buaya yang mabuk kuasa. Menyimpannya di lemari yang telah lama aku pesan. Sebelum matahari merekah, aku harus selekasnya menanam para lidah buaya keparat ini. 

Semoga menjadi obat. Menjadi obat bagi kalian. 

2/Tubuh Srikaya yang ranum dan padat. Telah membuat liurku terus menetes. Ingatanku menuju purba. Kubayangkan mengerat senti demi senti raganya. Menghilangkan penat dan ngilu di kepalaku yang dipenuhi sampah yang tak pernah busuk. Cacing-cacing biadab yang menyantap perutku akan luruh. Saat raga ranum padatmu ku himpit dengan jemari bahagiaku. 

Biji yang kau simpan itu, Srikaya, akan melunaskan perjanjianku dengan setan. Memuntahkan sel-sel yang sebagian telah beranak pinak dan menjadi monster dalam kelaminku. 

Hitamkan aku Srikaya. Remajakan aku Srikaya. Kusunting kau dengan pisau dapur yang tubuhnya telah di makan karat. Serupa aku. Serupa aku. Yang menuju sekarat. Aku butuh tubuh ranum padatmu Srikaya. 

3/Tubuhmu tidak cantik. Teronggok diam dalam tumpukan yang diabaikan. Rasa asam mulutku pun kalah dengan rasa yang kau simpan di tubuhmu. "Kenapa tidak kau percantik ragamu. Serupa apel dengan warna merahnya yang dibungkus kemilau plastik dunia," tanyaku. Di belakang pasar, anjing menyalak ramai. 

'Jangan bayangkan aku dengan wujud yang kau inginkan dengan nafsu,  tuan, " ucapmu. Di asamku ada rasa yang akan mengusir segala penyakit para lelaki malam sepertimu. 

Maka merapatlah dan masuk lebih dalam ke tubuh dan rasa asam ini. 

"Puh, belimbing waluh, ". 

 

Editor : .
Publisher :

Redaksi: redaksijatimtimes[at]gmail.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : redaksijatimtimes[at]gmail.com | redaksijatimtimes[at]gmail.com
Top