Generasi Mendatang Terancam! Masyarakat Indonesia Masih Kurang Konsumsi Daging

Acara Kongres ke XII Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) di Fakultas Peternakan UB (foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)
Acara Kongres ke XII Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) di Fakultas Peternakan UB (foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Tahukah kamu? Masyarakat Indonesia masih kurang dalam mengonsumsi daging. Begitu juga dengan protein hewani yang lain, seperti susu dan telur. Hal ini dinyatakan oleh Ketua Ikatan Sarjana Ilmu Peternakan Indonesia (ISPI) dalam acara Kongres ke XII Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI).

"Untuk daging, Indonesia baru makan kurang lebih 2,5 kg per kapita per tahun. Jadi masih sangat kecil," ungkap Ketua Ikatan Sarjana Ilmu Peternakan Indonesia (ISPI) Didik Purwanto usai kampanye aksi gizi  di Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (Fapet UB) tadi (8/12).

Menurutnya, memang ada beberapa daerah yang konsumsi dagingnya tinggi. Akan tetapi secara rata-rata, konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia masih kalah dengan negara-negara lain.

"Untuk susu dan telur, sebenarnya produksi kita cukup untuk telur. Namun ternyata untuk memakan itu, anak-anak memang harus dibiasakan," imbuhnya.

Sebab, apabila anak kekurangan protein, Didik menyatakan bahwa anak itu nantinya tidak akan bisa menjadi orang yang mampu bersaing di era mendatang. Masyarakat sendiri tidak memperhatikan bahwa gizi ini penting. Terutama untuk anak-anak di bawah 5 tahun.

"Anak-anak di usia yang butuh gizi untuk membangun jaringan otak," pungkasnya.

Konsumsi susu masyarakat Indonesia pun masih rendah dan cenderung di bawah rata-rata. Menurut Didik, kebiasaan minum susu teryata juga tidak mudah. Untuk itu harus dikampanyekan.

"Konsumsi susu masih jauh di bawah rata-rata. Jauh dibandingin dengan yang dibutuhkan pada usia dini," ungkapnya.

Nah, masalahnya, ternyata produksi susu dalam negeri pun masih kurang. Didit menyatakan bahwa produksi susu di atas 70 persen masih diimpor. Hal ini dikarenakan produk susu dalam negeri tidak mampu memenuhi kebutuhan yang dibutuhkan di Indonesia.

"Nah, tantangan bagi sarjana-sarjana peternakan adalah bagimana memproduksi protein-protein hewani dengan harga yang murah supaya mampu dibeli masyarakat,"  tandas Didik.

Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher :

Redaksi: redaksijatimtimes[at]gmail.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : redaksijatimtimes[at]gmail.com | redaksijatimtimes[at]gmail.com
Top