Gara-Gara Harga Tiket Pesawat, Inflasi November 2018 Kota Malang Lampaui Jawa Timur

Ilustrasi, para penumpang pesawat tengah mengantre di Bandara Abd Saleh, Kabupaten Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Ilustrasi, para penumpang pesawat tengah mengantre di Bandara Abd Saleh, Kabupaten Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Inflasi kembali di Kota Malang pada November 2018 lalu. Angkanya sebesar 0,37 persen atau mengalami peningkatan dibanding inflasi Oktober 2018 yang terdata 0,30 persen. Dari beberapa komoditas, kenaikan harga tiket pesawat dan bawang merah berperan menjadi penyumbang utama pemicu inflasi.
 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang, inflasi Kota Malang di bulan November ini memang lebih tinggi dibanding inflasi Jawa Timur yang sebesar 0,27 persen. "Inflasi November terpantau naik dibanding Oktober, dan lebih tinggi dari Jawa Timur. Memang dalam beberapa tahun terakhir, inflasi akhir tahun di Kota Malang cenderung naik," ungkap Kepala Seksi Statistik Distribusi BPS Kota Malang Dwi Handayani Prasetyowati.
 

Dwi merinci, setidaknya ada 5 komoditas utama penyebab terjadinya inflasi bulan November ini. Dari urutan tertinggi, yakni tiket pesawat yang mengalami kenaikan harga 10,17 persen disusul harga bawang merah yang merangkak naik sebesar 14,84 persen. "Selain itu yang juga berpengaruh besar itu daging ayam ras yang naik 2,11 persen, lalu bensin 0,57 persen, dan telur ayam ras, 3,08 persen," terangnya. 
 

Berdasarkan survei di pasar, lanjut Dwi, beberapa kebutuhan pangan rumah tangga seperti bawang merah, ayam, dan telur memang mengalami kenaikan harga. Kenaikan itu bersumber dari pemasok komoditas, karena barang-barang tersebut diproduksi di luar Kota Malang. "Menurut pedagang, dari pasokan memang sudah mahal," ujarnya.
 

Bahkan, lanjut dia, pihak Pemkot Malang juga sempat menyampaikan bahwa untuk pakan ternak masih susah. "Harga ayam tinggi, telur juga tinggi. Kami sudah menyampaikan ke TPID (Tim Pengendali Inflasi Daerah) bahwa tolong diwaspadai harga ayam," terangnya.
 

Menurutnya, Pemkot Malang juga sudah bergerak untuk mengatasi hal itu. Salah satunya dengan mengundang pelaku usaha ayam, seperti pedagang pengepul. "Semua sudah dipanggil dan itu memang karena harga jagung yang tinggi. Kalau pedagang apa kata pengepul," kata dia.
 

Berdasarkan data BPS, Kota Malang mengalami inflasi terbesar kedua di Jatim setelah Kediri yang sebesar 0,40 persen. Sementara itu, BPS memprediksi, pada bulan Desember nanti, inflasi bisa saja terjadi. Apalagi saat ini tengah berada di musim hujan. "Sekarang musim hujan, yang patut diwaspadai harga sayur mayur karena cepat busuk. Nanti juga ada momen Natal tahun baru libur sekolah, itu bisa memicu kenaikan komoditi di tahun depan," terangnya. 
 

Berdasarkan catatan inflasi bulan Desember 2010-2017, rata-rata inflasi sebesar 0,94 persen. Terkecil  terjadi pada tahun 2017, yakni 0,49 persen. Sementara inflasi terbesar terjadi pada Desember 2014 lalu yang sebesar 2,72 persen.

Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher :
Sumber : Malang TIMES (JatimTimesNetwork)

Redaksi: redaksijatimtimes[at]gmail.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : redaksijatimtimes[at]gmail.com | redaksijatimtimes[at]gmail.com
Top