KITAB INGATAN 34

Dec 02, 2018 09:26
Ilustrasi puisi (Mufi Mubaroh)
Ilustrasi puisi (Mufi Mubaroh)

MALANGTIMES - *dd nana
Para Pemecah Mimpi
-Alam bawah sadar meminta jalan. Untuk bersua dengan wajahmu-

1/ Cermin
Demi cermin yang digantung dan kau bayangkan Yesus
Yang terpejam dengan tangan terentang. Kau ingin mengatupkan mata letih itu
Menidurkan pantulan wajah berwarna tembaga.
Wajah yang kau akrabi lewat cermin yang tak retak-retak di mamah cuaca.
-Bisakah aku ganti wajah ini, tuan?- pintamu berbisik malu.
Sesuatu yang tak patut dituliskan, menyorongkan secarik sajak
-Pakailah dan ceraikan cermin yang kau gantung serupa pesakitan itu-
Sejak itu, ia lupa atas wajah tembaganya. 
Mesin-mesin menggandakan wajahnya dan mata lelaki itu tetap mengatup
-Aku telah usai dengan segala suara, segala citra. Biarkan aku buta- pintanya masih malu-malu.
Di luar hujan mengisahkan cerita tentang cermin yang kesepian.

Baca Juga : KITAB INGATAN 101

2/ Cinta
Bunyi menyimpan nada-nadanya pada setiap yang terjaga.
Terkadang menyelinap terlalu dalam ke ruang yang lama kau kunci
Menginap nyaman tanpa kau sadari. Tapi yang bergerak tunduk pada gravitasi.
Pertama, matamu kerap terjaga walau sepi telah menghuni
Sampai akhirnya kau tersentak dalam keterjagaan, melihat paras yang tak pernah kau kenali
-aku hanya ingin menyapa diriku sendiri- bisik sesuatu yang tak patut dituliskan itu
Di luar angin membeku dan cinta kembali tak punya penjaga.

3/Menjadi
Setelah kau puas menatap cermin dan mengulang-ulang kata cinta
Kau rapikan pantulannya. Membungkusnya secara rapi dan sebelum kau bawa
Pergi, disemprotkannya cairan pengharum di kulitnya yang licin.
-Tunggulah lelakimu ini, sayang. Telah aku bawa sesuatu yang tak patut dituliskan 
Di sini-.
Di perjalanan, angin mengelupas wajahnya, senti demi senti tanpa kau sadari
Rasa nyeri yang tak bisa kau ingkari menjalari seluruh raganya yang dibalut busana paling istimewa.
-luka harus tunduk pada ikrar. Takdir telah dicatatkan sejak cermin mengisahkan cerita cinta-
Di luar, seseorang menunggumu dengan cemas
-Tidak ada yang abadi dalam penantian, sayang-
Kini, bolehkah aku menjadi cengeng, Tuhan?

4) Apa
Bait ikrar dilisankan 
Untuk menjaga takdir yang kadung dituliskan
Biar pun nyeri ditanggung badan
Tapi cermin yang mengisahkan cinta di perjalanan
Tak bisa diabaikan. Diketuk-ketuknya sampai matamu bergetar 
Tangis. Tapi bait ikrar telah dilisankan.
Saatnya tidak ada lagi Apa, bukan?
Kita masih manusia, kita masih manusia.
 

 

Topik
serial puisipuisi pendekpuisi malangtimeskitab ingatan

Berita Lainnya

Berita

Terbaru