Patung raksasa Bung Karno gagah berdiri di depan kantor Bupati Blitar.(Foto : Team BlitarTIMES)

Patung raksasa Bung Karno gagah berdiri di depan kantor Bupati Blitar.(Foto : Team BlitarTIMES)



MALANGTIMES - Pemerintah Kabupaten Blitar baru saja membangun patung Bung Karno senilai Rp 1,7 miliar. Patung berbahan perunggu setinggi 14 meter tersebut terpasang di depan kantor bupati sejak 18 Oktober 2018. 

Meski dibangun untuk membangun semangat nasionalisme patung tersebut menuai banyak kritik karena dinilai tidak mirip dengan sosok Sang Proklamator.

Kritik salah satunya disampaikan kalangan wakil rakyat dari DPRD Kabupaten Blitar. Dewan menilai patung tersebut tidak ada kemiripan dengan  persiden pertama RI Ir Soekarno (Bung Karno). Bahkan jika dilihat dari postur dan gestur wajah patung tersebut justru berpotensi menjadi bahan olok-olokan. 

"Rasanya saya tidak rela melihat keberadaan patung yang tidak ada kemiripan dengan tokoh Ir  Soekarno tersebut dipasang di depan Pemkab Blitar. Sebaiknya ditutup untuk diperbaiki lebih dulu biar lebih mirip," ucap anggota DPRD Kabupaten Blitar  Fraksi Gerindra Mujib.


Mujib mengaku, telah menyampaikan hal ini kepada Bupati Blitar Rijanto. Pihaknya juga menyarankan agar segera dilakukan pembetulan terhadap wujud fisik sesuai dengan yang asli.  Sehingga muncul aura ketokohan Bung Karno dalam patung tersebut.  Namun kritik tersebut belum direspon oleh bupati. 

"Saya tidak setuju ketika figur Bung Karno  diplesetkan tidak sesuai aslinya. Aura patung sama sekali tidak keluar. Masak Bung Karno seperti itu," tegas dia. 

Apalagi, kata Mujib, biaya pembuatan patung Bung Karno tidak sedikit. Pemkab Blitar menggelontorkan anggaran hingga Rp 1,7 miliar untuk mendirikan patung ini. Hal ini sebelumnya juga sempat menuai polemik karena jumlah anggaran yang tidak lazim.
"Jangan sampai wujud patung yang menghabiskan anggaran miliaran itu justru jadi bahan pembicaraan hingga menimbulkan polemik di masyarakat," tandasnya.

Sementara Pemkab Blitar melalui Kepala Dinas Pariwisata Pemkab Blitar Luhur Sejati santai menanggapi kritik pedas kalangan legislatif ini. Ia menjelaskan  patung yang dibangun Pemkab Blitar ini mengacu pada wajah Bung Karno di usia 40 tahunan.

Karena itu, figur Bung Karno dalam patung berbeda dengan saat Bung Karno saat menjadi presiden. Dimana foto-foto Bung Karno yang diambil pada masa itu banyak beredar di masyarakat. Sehingga banyak masyarakat yang beranggapan jika patung Bung Karno harus mirip dengan foto tersebut. Pihaknya pun menolak permintaan legislatif untuk menutup patung atau membongkarnya. 

"Kalau patung memang tidak bisa dibandingkan dengan foto. Dimana foto yang banyak beredar sekarang memang foto Bung Karno saat sudah menjadi presiden. Sedangkan dalam patung tersebut yang ingin ditonjolkan adalah masa muda Bung Karno sebagai sosok yang penuh semangat perjuangan," pungkasnya.(*)

End of content

No more pages to load