Ternyata Ada Ritual Sebelum Tanam Kentang di Kota Batu

MALANGTIMES - Petani kentang di Desa Sumber Brantas Kecamatan Bumiaji punya kebudayaan tersendiri sebelum menanam kentang. Namanya ponjo kentang atau menanam kentang dikupas habis dalam Festival Desa Kaki Langit Sumber Brantas, Sabtu (24/11/2018).

Acara yang digelar oleh Dinas Pariwisata Kota Batu bersama Pemdes dan Karang Taruna Desa Sumber Brantas itu berlangsung di area persawahan Brakseng tepat di bawah kaki Gunung Welirang dan Arjuno. Untuk melintasi area ini dari permukiman warga harus menempuh jarah mencapai 4 kilometer.

Jauhnya perjalanan menuju area tersebut terbayarkan dengan keindahan alamnya. Kanan dan kiri persawahan terdapat tanaman gubis, brokoli, wortel, dan kentang. Tidak hanya itu saja, suguhan pemandangan gunung Welirang dan Arjuna itu semakin melengkapi keindahan area persawahan itu. Hingga kabut tebal menutup area persawahan.

Sesampainya di area persawahan ritual ponjo kentang pun dimulai. Suguhan ayam ingkung dan sesaji mewarnai kebudayaan ponjo kentang. 

Lantunan doa dengan menggunakan bahasa jawa pun dipanjatkan oleh para sesepuh-sesepuh Desa Sumber Brantas bersama Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko, Pelaksana Tugas (plt) Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu Imam Suryono, dan beberapa pejabat lainnya.

Usai mengucapkan doa bersama, proses ponjo kentang pun dimulai. Secara simbolis Dewanti Rumpoko bersama Imam Suryono memasukkan kentang berjumlah 16 bibit itu ke dalam tanah. 

Sejumlah 16 kentang ini, bukan hanya sekadar angka. Jumlah itu ternyata sudah ditentukan dari penanggalan Jawa yang jatuh pada Sabtu Pon. “Angka 16 ini merupakan 16 merupakan angka tertinggi atau angka yang bagus,” ungkap Sadat, Sesepuh Desa Sumber Brantas Kecamatan Bumiaji. 

Ia menjelaskan budaya ponjo kentang dengan ritual ini sudah dilaksanakan sejak zaman terdahulu yang berlangsung hingga saat ini. “Sampai sekarang seluruh warga yang akan menanam kentang dilakukan acara selamatan di rumah masing-masing,” imbuhnya.

Ya sejak dimulai akan menanam dan sesudah menanam warga Desa Sumber Brantas pasti melakukan selamatan. Yang kemudian makanannya di makan bersama di area persawahan.

Menurutnya ritual itu dilakukan sebagai rasa syukur terhadap Tuhan yang maha esa. Juga agar diberikan kelancaran selama proses tanam. “Supaya tidak terkena hama, juga rasa syukur dan memohon barokah supaya hasilnya yang ditanam itu bagus,” ucap pria 89 tahun ini.

Sementara itu Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko menambahkan kebudayaan seperti ini harus dilestarikan. Terlebih memang kentang di Desa Sumber Brantas itu merupakan komoditas terbaik. “Kentang di sini itu the best itu yang bilang adalah orang bule-bule. di balik itu kita tidak tahu kalau ternyata ada ritual khusus untuk menanam dan sesudah memanen,” kata Dewanti.

Selain itu desa ini memiliki peluang pariwisata yang sepertinya akan menjadi jujukan hingga orang luar negeri akan tertarik. Terletak di area yang dijuluki kaki langit itu bisa mengajak wisatawan menyusuri Brakseng dengan menggunakan kendaraan MPV. “Ini sesuatu yang luar biasa. Dijadikan komuditi pariwisata, rencananya akan ada suguhan MPV untuk melihat setiap wahana wisata dan keliling,” jelasnya. Menurutnya hal itu merupakan sesuatu yang memiliki potensi bagus. Tidak semua daerah memiliki kelebihan seperti di desa tersebut.

Top