KITAB INGATAN 33

Nov 25, 2018 08:55
Ilustrasi puisi (Istimewa)
Ilustrasi puisi (Istimewa)

MALANGTIMES - br>*dd nana
1/
Pada ayat-ayat yang menghalau gelap
seluruh paras tertunduk mendaraskan puja-puji.

Baca Juga : KITAB INGATAN 101

Di atas kepala, lembaran awan mendendangkan bait-bait hujan
dan do’a pun menderas di kepala-kepala pemilik paras yang
kukuh mendaraskan puja-puji. Sebagian mengalir menjadi anak-anak

sungai di setiap ceruk, setiap lekuk. Sisanya menetap di kepala
menjadi uban. Tanda kebijakan berwarna terang di usia senja.

“Lantas nikmat mana lagi yang kau ingkari,”.

Ayat-ayat terus diturunkan lembaran awan yang bersetia pada satu nada
hujan. Mengalir mencari ceruk, lekuk, tanpa kikuk. Karena do’a tidak berkelamin.

Begitulah satu suara mengirimkan pesannya di telingaku. Sedangkan kau, anak
Adam diikat erat oleh kelamin. Yang kau bawa sejak lahir sampai kau menjadi rabuk.

Sebuah nikmat, sebuah laknat. Sebuah kisah yang terkadang ayat-ayat yang diturunkan
awan tak lagi mampu mengalir dan menjadikan rambutmu di huni uban.

Syahwat. Syahwat. Syahwat.

Yang membuat seluruh pemilik paras gemerisik. Serupa gelombang radio resah sebelum marah 
menjadi ceruk yang mengisi ayat-ayat.

Serupa kau yang ngembara mencari ceruk diantara kemilau lekuk
dengan rasa kikuk yang sama seperti moyangmu yang dibuat telanjang di sebuah taman.

Syahwat itu nikmat dan laknat, bukan begitu tuan?

Dan aku mencoba mencari lembaran awan yang dulu
bergerak anggun di atas para pemilik paras yang menunduk. Mendaraskan puja-puji
yang bersahutan dengan berbagai bunyi.

Mencari sabda, “nikmat mana lagi yang kau ingkari,” itu.

Rambutku telah dipenuhi uban yang tidak serupa dengan moyangku dulu.

2/
Sudahi rindumu, aku harus kembali.

Di luar, bunyi mati. Sedangkan mataku di intai 
Makhluk yang aku benci. Yang tersenyum begitu licik.

“Bersiaplah di huni sepi lelaki.”

Sepi, mungkin tidak aku takuti
sepi hanyalah prosesi menuju sunyi yang serupa rindu
yang mencari ragamu yang tak pernah ragu
merengkuh dan melumatkan gaduh. Dalam pelukan dan kecup tak berkesudahan.

“Setelahnya kau dimamah nyeri.” Seringai licik mulai membuncahkan tawa

Atas kedunguan yang aku sebut cinta.

Makhluk itu terpingkal-pingkal dan sempat berucap
“Rindu tidak memiliki tepi tapi ragamu punya usia yang bisa usai.”
Tak ada yang abadi, lelaki.

Sudahi rindumu, aku harus selekasnya kembali.

3/
Namamu, aku daraskan di deras alir darah
Sampai di jantung. Sampai di tepi kubur.
Sampai nyeri tak datang lagi.

Baca Juga : KITAB INGATAN 100

Serupa do’a yang tak jeri meniti
langit dan mengetuknya dengan kesantunan seorang hamba.

Tapi, percayalah, aku tak akan memintamu percaya
pada kisah-kisah malam yang tak sampai pada terang cahaya.

4/
Mungkin, karena aku tak membacamu sampai usai
Hingga kau menjelma punggung yang pergi.

Di kanvas ini aku lukiskan dirimu dengan warna
paling pekat. Tanpa paras yang mampu membuat ayat-ayat
di kepalaku mengelupas. Menjelma putik-putik cinta.

Taman kita kini gersang, puan.
 

 

Topik
serial puisipuisi pendekpuisi malangtimeskitab ingatan

Berita Lainnya

Berita

Terbaru