Dari kiri: Ketua Panitia Dharma Bhakti XXXII Wayan Jorsa, Ketua PHDI I Dewa Nyoman Supariasa dan Kadin Disbudpar Kabupaten Malang Made Arya Dewantara saat upacara pelepasan mahasiswa Bali pada acara Dharma Bhakti XXXII (Hendra Saputra)

Dari kiri: Ketua Panitia Dharma Bhakti XXXII Wayan Jorsa, Ketua PHDI I Dewa Nyoman Supariasa dan Kadin Disbudpar Kabupaten Malang Made Arya Dewantara saat upacara pelepasan mahasiswa Bali pada acara Dharma Bhakti XXXII (Hendra Saputra)



MALANGTIMES - Acara rutin tahunan mahasiswa Bali, Dharma Bhakti XXXII, tahun 2018 akan diselenggarakan di Dusun Dodol, Desa Wonoagung, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang. mulai 23-25 November besok lusa.

Mahasiswa baru dari Bali yang baru saja menginjakkan kaki di Malang itu akan mendapatkan pengalaman baru dengan mengabdi kepada masyarakat. Hal tersebut dilakukan terus-menerus setiap tahun oleh mahasiswa sebelum-sebelumnya.

Peserta Dharma Bhakti XXXII dilepas di halaman Asrama Mahasiswa Bali Jalan Kartini No 30, Kota Malang, dengan upacara singkat yang melibatkan panitia, peserta, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Malang I Dewa Nyoman Supariasa serta  Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Malang Made Arya Wedanthara.

Dalam keterangannya, Ketua Panitia Dharma Bhakti XXXII Wayan Jorsa mengatakan bahwa ini adalah pengabdian kepada masyarakat. Sasarannya adalah mahasiswa Hindu yang baru di Malang Raya. "Pengabdiannya juga di masyarakat Hindu Malang Raya yang jumlahnya juga cukup banyak," ucapnya.

Di Malang Raya, umat Hindu adalah minoritas. Dengan adanya kegiatan ini, Wayan Jorsa berharap kepada peserta agar tahu bagaimana kehidupan masyarakat Hindu sebagai minoritas. Sedangkan  di Bali, mereka adalah kaum mayoritas.

 "Harapannya kegiatan ini bisa diikuti oleh mahasiswa baru dari Bali. Dan mereka tidak perlu takut karena di sini juga banyak saudara. Ke depannya setelah kenal, siapa tahu kami bisa beruntung di kemudian hari," imbuhnya.

Total sudah ada 147 peserta dan 122 panitia yang akan mengikuti segala rangkaian acara dari Dharma Bhakti XXXII. Mereka akan menginap di rumah warga layaknya kuliah kerja nyata (KKN) yang dilakukan oleh mahasiswa umumnya.

Mahasiswa yang berasal dari Bali ini terdiri dari beberapa kampus di Malang. Antara lain Universitas Brawijaya (UB), Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Merdeka (Unmer), Institut Teknologi Nasional (ITN), Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama), dan Politeknik Kesehatan Malang (Polkesma).

Sementara itu Ketua PHDI I Dewa Nyoman Supariasa mengaku kegiatan ini untuk melatih kemampuan mahasiswa baru dari Bali selain ilmu akademik yang didapat di masing-masing kampusnya.

"Kegiatan ini untuk mengasah softskill dari mahasiswa Bali. Dari sini kami harap lahir pemimpin baru yang mumpuni di semua bidang. Dan kegiatan ini diharapkan tidak ada keluhan dari yang baru ke Malang merasa homesick atau ingin pulang terus, karena disini masih banyak saudara," harapnya.

Disinggung mengapa berharap ada pemimpin baru dari asrama mahasiswa Bali, I Dewa Nyoman Supariasa menjelaskan bahwa sebelumnya memang ada mahasiswa yang sudah sukses di karir di bidang politik dan lainnya.

"Dari sini (asrama mahasiswa Bali) sudah melahirkan tokoh-tokoh yang sukses di bidang politik maupun non politik, seperti Gede Pasek Swardika (anggota DPD RI Dapil Bali 2014-2019). Wayan Sudirta (pengacara), Made Arya Wedanthara (kadin Disbudpar Kabupaten Malang). Kami selaku majelis mendukung penuh kegiatan ini,  apa artinya indeks prestasi yang bagus kalau tidak diasah dengan softskill yang bagus," paparnya.

Selain itu di waktu yang bersamaan, Made Arya   mengaku bersyukur karena mahasiswa Bali memilih Kabupaten Malang sebagai tempat pengabdian mahasiswa dari Bali. "Saya bersyukur karena Kabupaten Malang dapat dipercaya oleh mahasiswa Bali untuk mengabdikan diri kepada masyarakat. Dan memang di Kabupaten Malang ini salah satu daerah yang kondusif, walau beragam budaya, agama dan lainnya. Jadi, mahasiswa bisa mengaplikasikan ilmunya kepada masyarakat," paparnya.

Dari sisi pariwisata, Made akan menjadikan mahasiswa Bali itu sebagai pioner atau garda terdepan untuk meyakinkan kepada masyarakat bahwa dengan pariwisata mereka bisa hidup sejahtera dan guyub.

"Dengan adanya mahasiswa Bali yang akan berkunjung kesana kami harap mereka (masyarakat) banyak bertanya bahwa Bali itu memang menjadi kiblat pariwisata di Indonesia dan sebaliknya mahasiswa Bali bisa memetik ilmu kemasyarakatan dari pengabdiannya," ungkapnya. (*)

End of content

No more pages to load