Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang Dr dr Asih Tri Rachmi Nuswantari MM (foto: Imarotul Izzah/Malang Times)

Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang Dr dr Asih Tri Rachmi Nuswantari MM (foto: Imarotul Izzah/Malang Times)



MALANGTIMES - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang melakukan berbagai upaya agar kematian ibu menjadi lebih kecil. Bahkan kalau mungkin menjadi tidak ada sama sekali kematian ibu atau zero. Hal ini sesuai dengan kehendak Wali Kota Malang Sutiaji.

"Soal angka kematian  ibu ini, beliau (Sutiaji) menghendaki agar bisa menjadi lebih kecil, bahkan kalau mungkin zero. Kalau mungkin ibu melahirkan, bayi baru lahir, itu tidak ada yang meninggal," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang Dr dr Asih Tri Rachmi Nuswantari MM saat ditemui beberapa waktu yang lalu di kantor Dinas Kesehatan Kota Malang.

Untuk diketahui, sampai  November  2018, ada 7 kematian ibu. Sedangkan tahun 2017 lebih banyak lagi, yakni tercatat ada 14 kematian ibu. 

Kalau dilihat dari data, Dinkes sudah bisa menekan angka kematian ibu. Menurut Asih, keberhasilan tersebut tak lepas dari partisipasi masyarakat.

"Jadi, kami sudah bisa menekan ini karena partisipasi masyarakat juga. Kami kan ada kader posyandu. Mereka yang akan mengawal ibu hamil. Kemudian kami punya jejaring bidan dan spesialis kandungan, juga spesialis anak. Sehingga jejaring ini bisa mengawasi kondisi bayi dan kondisi ibu yang akan bersalin," ungkap wanita berhijab tersebut.

Lantas, apa sebenarnya penyebab kematian ibu? Menurut Asih, biasanya penyebab kematian ini adalah perdarahan dan hipertensi. Hipertensi sendiri berkaitan dengan perilaku hidup sehari-hari yang tidak sehat.

"Jadi, mungkin bisa dari faktor pikirannya, faktor pola makannya. Ini yang harus ditata," imbuh Asih.

Uniknya, hipertensi pada ibu kebanyakan dijangkiti ibu atau mama usia muda. Asih sendiri mengaku heran karena hipertensi biasanya diidap ibu yang sudah tua.

"Tapi saat ini tidak. Ibu-ibu muda ini yang hipertensi dan meninggal. Berarti kan ada hal yang salah di sini. Nah inilah yang harus kita sikapi," tandasnya.

Menurut kadinkes, permasalahan ini harus dimulai dari pola makan yang benar. Bahwa makan itu tidak hanya sekadar makan. Akan tetapi makan yang memang dibutuhkan oleh tubuh kita dan makanan yang sehat. 

Selain hipertensi, kematian ibu hamil juga bisa disebabkan oleh keterlambatan penanganan. "Ada juga ada yang karena keterlambatan di dalam memberikan keputusan. Jadi, misalnya nanti saja nunggu bapaknya atau nunggu ibunya untuk berangkat ke sarana pelayanan. Itu kan bisa saja," papar Asih. (*)

 

End of content

No more pages to load