KITAB INGATAN 32

Nov 18, 2018 08:46
Ilustrasi puisi (Istimewa)
Ilustrasi puisi (Istimewa)

MALANGTIMES - *dd nana

-raikyu

1/ Mengingatmu adalah gerimis

aroma tetumbuhan liar yang terhidu manis. 

Setelah rasa pahit meminang raga begitu lama. 

Walau sekejap. Sampai waktu melambai dan mengajak pergi

Dalam pikuk yang sama. Dalam peluh yang meranggaskan cinta. 

2/ Berdua, kita menjadi begitu serupa

Saling mengasah yang akhirnya mengasih

Sebelum waktu mendamparkan kita pada tepi paling sepi. 

'Untuk menjadi, seorang Sena saja menyelami dasar samudera. Sunyi paling tepi yang memutihkan segala warna.'

Mataku menyepi pada air mata. 

Baca Juga : KITAB INGATAN 101

3/ Mengeratkan jemari dalam tautan, denyarnya mencoba tepis api janji yang melingkari jari. 

Kita mungkin berbeda, tapi cinta memiliki jalannya sendiri. 

Walau ragu kerap menyergap mata, persuaan raga selalu menghardiknya.

Tapi, tak ada yang lebih tabah dari ragu. Sedang raga seringkali gontai di terpa cuaca. Seperti matamu yang akhirnya harus takluk. Dan ragu menjadi raja. Dan aku menjadi piatu. 

Jari kita akhirnya kembali pulang pada janjinya masing-masing. 

'Lantas apa lagi yang kau tangisi,  tuan. '

4/ Senja tidak lagi sama seperti dalam cerita-cerita

Pun puisi yang harus memanggul rindu kemana-mana. 


Kini, semua mengalir pada ceruk yang kita tertawakan dulu. Rutinitas pucat serupa drakula. Yang mengisap begitu rakus daya warna daya mencinta. 

'Mampus kau lelaki, ". 

5/ Aku tunduk pada mata puisi

Saat hati dipenuhi tetumbuhan yang kau tanam

Kini,  jemari begitu kikuk untuk menulis bait

Namamu. Puisi telah lama kau sembunyikan,  entah di mata siapa. 

6/ Wahai jiwa-jiwa yang tenang

Pulanglah pada mata maha puisi yang benderang

Aku tersendak menelan malam. 

Dan hujan datang memecahkan sepi. 

7/ Padamu aku tak lelah menuju

Dan segala pantangan aku kubur dalam-dalam

Walau kau masih saja memunggungiku. 

Topik
serial puisipuisi pendekpuisi malangtimeskitab ingatan

Berita Lainnya

Berita

Terbaru