Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang Dr. dr. Asih Tri Rachmi Nuswantari, MM (foto: Imarotul Izzah/Malang Times)

Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang Dr. dr. Asih Tri Rachmi Nuswantari, MM (foto: Imarotul Izzah/Malang Times)



MALANGTIMES - Selama ini, apabila kita makan, nasi selalu menjadi porsi yang paling banyak. Padahal, kebiasaan tersebut tidak benar. Hal ini dikarenakan nasi mengandung karbohidrat.

Nah, apabila karbohidrat terlalu banyak maka akan merugikan tubuh kita. Sebab akan diubah menjadi lemak jahat. "Karena ternyata karbohidrat itu kalau terlalu banyak akan merugikan tubuh karena dia akan diubah menjadi lemak jahat, jadi trigliserida," ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang Dr. dr. Asih Tri Rachmi Nuswantari, MM saat ditemui di kantornya tadi (13/11). 

"Nasi memang harus ada, tapi jangan yang dominan banyak," imbuhnya.

Asih menekankan, untuk memulai hidup sehat, caranya tidak lagi sama dengan yang kemarin. Cara yang kemarin ini maksudnya apabila makan maka nasi dulu kemudian yang lain baru di atasnya. "Nah ini yang harus kita ubah. Harusnya sayur dulu," ujar Asih.

Untuk diketahui, selama ini yang meresahkan bukan hanya cara makan nasi orang dewasa. Bayi pun memiliki kebiasaan untuk diasupi nasi. Nah, pada akhirnya si bayi memang kelihatan gemuk, namun sesungguhnya gemuknya tidak sehat. "Kalau misalnya pada bayi kalau dulu dilotek sama nasi gitu akhirnya kelihatan gemuk. Tapi ternyata dia sebenarnya nggak sehat karena memang terlalu banyak karbohidrat," ungkap Asih.

End of content

No more pages to load