Tingkat Kebocoran Tinggi, PDAM Kena Warning Wali Kota Malang

Wali Kota Malang Sutiaji (mengenakan kopiah hitam) saat mengecek data-data kebocoran di kantor PDAM Kota Malang. (Foto: Humas Pemkot Malang for MalangTIMES)
Wali Kota Malang Sutiaji (mengenakan kopiah hitam) saat mengecek data-data kebocoran di kantor PDAM Kota Malang. (Foto: Humas Pemkot Malang for MalangTIMES)

MALANGTIMES - Pembenahan sistem dan layanan badan usaha milik daerah (BUMD) menjadi target 99 hari Wali Kota Malang Sutiaji dan Wakil Wali Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko. Salah satunya yakni Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Sutiaji bahkan mengeluarkan warning alias peringatan keras atas kebocoran yang terjadi. 
 

Tingkat kebocoran yang masih tinggi itu baru diketahui saat Sutiaji menggelar sidak ke perusahaan plat merah itu. Didampingi salah satu Dewan Pengawas PDAM Kota Malang, Rinawati, Sutiaji terkejut atas laporan progres kinerja tri wulan 3 PDAM Kota Malang. 
 

Pasalnya, dalam laporan tersebut tercatat kinerja yang jauh dari kata optimal. "Core utama PDAM khan penjualan air, yakni 90 persen ditopang oleh bisnis penjualan air. Berdasarkan laporan, baru 63 persen yang baru bisa di optimalkan," ujar Pak Ji, sapaan akrabnya. 
 

Berdasarkan perhitungan, idealnya persentase kehilangan air atau air yang tidak terproduksi berkisar di angka 37 persen. "Tapi laporan yang masuk ke saya, angka kebocoran hanya 19 persen. Kan ini beda hitungan, yang benar yang mana," ujar suami Hj. Widayati penuh heran. 
 

Karenanya, Sutiaji langsung melakukan sidak dan meminta penjelasan langsung dari jajaran manajemen. "Terutama soal kalkulasinya. Jangan sampai data yang ditampilkan ini bohong, atau direkayasa hanya untuk menunjukkan kinerja bagus. Padahal di lapangan kebocoran masih tinggi," tegasnya. 
 

Sutiaji menekankan pentingnya ada standar operasional prosedur (SOP) dan alat yang dapat mengukur tingkat kebocoran secara absolut. "Kalau SOP jelas, pasti akan diketahui dari mulai sumber hingga pelanggan. Titik-titik serta potensi loss-nya bisa diketahui dan ditangani," urainya.
 

"Dengan tidak bisa menghitung angka absolut loss air di luar kebocoran teknis, menunjukkan bahwa mekanisme SOP atau Sistem Kendali Internal belum optimal," urai penggemar kuliner pedas itu. 
 

Sutiaji juga menginstruksikan agar segera ada perbaikan dalam waktu dekat. "Tentu linier dengan hal itu, kebocoran teknis harus makin diminimalkan. Jangan ada lagi air meluap ke jalan, merembes atau malah membuat loss produksi," tekan Pak Ji. 

 

Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher :

Redaksi: redaksijatimtimes[at]gmail.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : redaksijatimtimes[at]gmail.com | redaksijatimtimes[at]gmail.com
Top