Mengenal Lebih Dekat Sosok KH Masjkur, Pejuang Kemerdekaan Asal Malang

KH. Masjkur semasa hidup saat bercengkrama dengan anak-anak (koleksi penelitian dan gelar pahlawan KH. Masjkur)
KH. Masjkur semasa hidup saat bercengkrama dengan anak-anak (koleksi penelitian dan gelar pahlawan KH. Masjkur)

MALANGTIMES - Setiap 10 November, Indonesia akan memperingati Hari Pahlawan Nasional. Hari itu dipilih untuk mengenang jasa pahlawan yang berjuang memerdekakan dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Jika kita ingat, masa-masa menegangkan banyak terjadi saat agresi militer satu dan agresi militer dua pada 1947 dan 1948. Pertumpahan darah banyak terjadi saat itu.

Dari sekian nama pejuang yang bergerilya saat itu, tercatat ada salah satu tokoh kenamaan yang dilahirkan di Malang yaitu KH. Masjkur. Sepak terjangnya di dunia politik Indonesia banyak diakui, dan dia pernah terpilih sebagai Menteri Agama RI pada 5 Kabinet Kerja (1948-1950).

Bukan hanya itu, ia juga dikenal sebagai salah satu tokoh yang cukup berpengaruh dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Dalam agresi militer 1, jasanya banyak dikenang melalui laskar Sabilillah yang ia pimpin. Pada saat itu, ada Belanda kembali menyerang dan Laskar Sabilillah merupakan kelompok yang berjuang mencegah Belanda masuk ke Malang.

"Kiprah KH. Masjkur dalam agresi militer 1 memang tak banyak tercatat. Namun beliau jelas berkontribusi melalui Laskar Sabilillah," kata Tim Peneliti dan Gelar Pahlawan KH. Masjkur, Abdur Rahim pada wartawan baru-baru ini.

Dalam catatan sejarah, saat itu ada sekitar dua ribu santri dari Laskar Sabilillah yang gugur saat menghalau kedatangan Belanda. Pasukan bersenjata lengkap yang masuk dari arah Lawang itu menurutnya hanya dilawan menggunakan bambu runcing dengan semangat yang membara. Sehingga dengan mudah, Belanda saat itu membuat serangan.

"Dan ribuan santri serta pejuang yang lain berjajar dari Singosari hingga di kawasan Blimbing, tepatnya sampai di depan Masjid Sabilillah," urainya.

Sementara dalam agresi militer 2, pria yang lahir di Singosari pada 1898 itu sudah menjadi bagian dari Pemerintah Republik Indonesia dan terpilih sebagai Menteri Agama pada 5 Kabinet Kerja. Saat itu dia menetap di Yogyakarta yang memang menjadi pusat pemerintahan RI.

Saat terjadi Agresi Belanda II, KH. Masjkur menjadi salah satu menteri yang berhasil meloloskan diri dari kepungan pasukan Belanda. Karena saat terjadi penyergapan oleh pasukan Belanda, ia sedang menjalankan shalat subuh berjamaah beserta puteranya, Saiful Masjkur yang diam-diam mengukutinya dari belakang.

"Saat itu putera beliau masih usia antara sembikan hingga 10 tahun. Tanpa sepengetahuan KH. Masjkur ikut jamaah di Masjid. Saat kembali, jarak sekitar 100 meter ia melihat rumahnya dikepung. Beliau memilih langsung berbelok kiri dan berjalan kaki meninggalkan lokasi. Karena kondisi ketika itu sedang bersama puteranya. Sedangkam isteri saat itu selamat berada di dalam rumah," imbuh Abdur.

Dalam upaya pelariannya itu, KH. Masjkur menuju Solo dan dari sana ia baru mengendarai mobil dinas milik Pemerintahan Solo dan melanjutkan perjalanan ke Ponorogo. Ketika di Ponorogo, KH. Masjkur mencari informasi tentang tokoh pemerintahan yang turut bergerilya.

Perjalanan pun kemudian ia lanjutkan menuju Trenggalek, dan di sana ia bertemu dengan Harsono Cokroaminoto. Kemudian perjalanan kembali berlanjut menuju Dusun Sukobanteng, Desa Karangsuko. Saat itu, mobil yang ditumpangi KH. Masjkur beserta putera semata wayangnya itu mogok, dan ia memutuskan melanjutkan perjalanan berjalan kaki dengan rute sepanjang kurang lebih 37 kilometer. Sampai pada akhirnya ia sampai di Kecamatam Gondusari dan menuju kantor Kenaiban (sekarang KUA) dan menetap bersama rombongan sekitar dua minggu.

Perjalanan berlanjut ke Kecamatan Panggul. Di sana, KH. Masjkur berpidato dengan penuh semangat dan berapi-api di hadapan masyarakat yang kemudian pidato dilanjutkan Jenderal Sudirman. Kemudian di Kecamatan Dongko, KH. Masjkur bertemu dengan Jendral Sudirman. Sebelum itu, KH Masjkur sempat bermalam di Kecamatan Kampok tepatnya di rumah Modin Bendoagung. Di sana, KH. Masjkur mendapat kabar jika Panglima Besar Jendral Sudirman menuju ke Kecamatan Donggo.

"Saat hendak melanjutkan perjalanan, seolah-olah KH. Masjkur dan Jendral Sudirman keluar dari Kecamatan Donggo mengendarai mobil, tapi pada kenyataannya ke duanya melalui pintu belakang dan berjalan kaki. Mobil berbeda yang seakan ditumpangi ke dua tokoh itu meledak dengan jarak hanya 100 meter dari tempat menginap," jelasnya lagi.

Dalam agresi militer Belanda 2 itu, KH. Masjkur tergabung dalam Komisariat Pemerintah Pusat di Jawa. Dia merupakan salah satu tokoh yang ditunjuk dengan tugas yang sejajar dengan presiden. Karena kondisi saat itu, Presiden Soekarno beserta Wakil Presiden Moh. Hatta tengah ditahan musuh.

Untuk mempertahankan kemerdekaan, maka Komisariat Pemerintah Pusat yang dibentuk diharuskan melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan dunia internasional tentang keberadaan RI. Bersama dengan tokoh pejuang lainnya, KH. Masjkur terus menyampaikan kepada rakyat bahwa RI masih ada, termasuk menyiarkan kepada dunia internasional. Hingga akhirnya keberadaan RI masih dipertahankan dan diakui internasional.

Tak cukup di situ, nama KH. Masjkur tercatat sebagai tokoh dari kalangan Islam mewakili Nahdlatul Ulama yang ikut mendirikan Pembela Tanah Air (PETA) di Jawa (1943 - 1945), Anggota Pengurus Latihan Kemiliteran di Cisarua (1944 - 1945), Syou Sangkai (DPRD), Anggota BPUPKI – PPKI (1944-1945), Pimpinan Dewan Mobilisasi Pemuda Islam Indonesia/DMPII (1946).

KH. Masjkur juga tercatat sebagai Pimpinan Tertinggi Barisan Sabilillah (1945), PP Legiun Veteran RI (1975), Pimpinan Dewan Harian Nasional Angkatan 45 (1976 - 1994), KNIP (1945-1946), Dewan Pertahanan Negara (1946-1948), Menteri Agama RI pada 5 Kabinet Kerja (1948-1950), Kepala Kantor Urusan Agama Pusat (1950-1953), serta turut serta menginisiasi dan mendirikan beberapa lembaga pendidikan seperti Universitas Islam Indonesia (1948- 1955), Perguruan Tinggi Ilmu Quran (1977-1994), dan Universitas Islam Malang (Unisma) 1980-1994, serta lain-lainnya.

"Dan masyarakat sebelumnya mengusulkan beliau menjadi pahlawan nasional. Seluruh proses sudah dilalui dan berkas masuk melalui Kementerian Sosial. Namun saat ini beliau memang masih belum ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Kami akan terus berjuang untuk mengajukan beliau sebagai pahalwan nasional, karena berkaca pada sepak terjangnya," pungkas Abdur.

 

Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher :

Redaksi: redaksijatimtimes[at]gmail.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : redaksijatimtimes[at]gmail.com | redaksijatimtimes[at]gmail.com
Top