Mahasiswa di Malang Kritik Aksi Perusak Lingkungan Lewat Lukisan

Pengunjung pameran tengah berfoto di depan lukisan hasil karya mahasiswa Universitas Negeri Malang di Gedung Dewan Kesenian Malang (Pipit Anggraeni)
Pengunjung pameran tengah berfoto di depan lukisan hasil karya mahasiswa Universitas Negeri Malang di Gedung Dewan Kesenian Malang (Pipit Anggraeni)

MALANGTIMES - Aksi perusakan lingkungan semakin marak terjadi. Geram akan perilaku yang meresahkan itu, mahasiswa jurusan Seni dan Desain Universitas Negeri Malang (UM) dengan sengaja menggelar sebuah pameran lukisan di Gedung Dewan Kesenian Malang (DKM).

Mengusung tema Cakra Buana (Roda Kehidupan), pameran yang digelar sejak Sabtu (3/11/2018) dan akan berakhir besok, Senin (5/112018) itu mencoba menggelitik hati nurani masyarakat agar terus mencintai dan melestarikan lingkungannya.

Ketua pelaksana pameran, Friski Jayantoro menyampaikan, perusakan lingkungan yang dilakukan oknum tak bertanggungjawab saat ini semakin marak dilakukan. Bukan hanya kebiasaan membuang sampah sembarangan di sungai, menggunduli hutan, dan memanfaatkan sumber daya alam secara berlebihan. Perusakan lingkungan juga dilakukan dengan cara melukai hewan satwa yang dilindungi.

"Seperti hiu salah satunya. Banyak yang mengambil sirip hiu untuk berbagai kepentingan. Namun pasca mengambil sirip, hiu dilepaskan begitu saja tanpa ada pemulihan. Itu tentu kondisi yang sangat miris," jelasnya pada MalangTIMES, Minggu (4/11/2018).

 

Bukan hanya hiu, sederet satwa yang kini semakin langka akibat ulah manusia juga dilukiskan di berbagai bentuk kanvas yang dipamerkan di dua ruangan berbeda Gedung DKM itu. Di antaranya gajah yang digambarkan sedang pilu lantaran gadingnya banyak diambil oleh oknum tak bertanggungjawab. Begitu pula dengan Rusa yang digambarkan terlihat sedih lantaran tanduknya banyak diburu oleh manusia.

Menurutnya, setiap satwa yang kini dilindungi semestinya tidak terus-terusan diburu. Karena jumlahnya terus berkurang, dan mungkin akan berpengaruh pada kehidupan manusia di masa mendatang. Sehingga, melalui berderet lukisan itu ia berharap agar kesadaran masyarakat semakin meningkat dalam menjaga kelestarian hidup.

Bukan hanya melalui lukisan satwa langka, puluhan lukisan yang dipamerkan juga menunjukkan sisi lain dari sebuah kehidupan, yaitu mulai dari lahirnya kehidupan hingga kepunahan yang terjadi akibat ulah manusia, dan kembali pada pemulihan. Kritik dan pesan itu coba disampaikan melalui sederet lukisan bertema kehidupan dan lingkungan hidup yang dijajar secara berurut.

"Jadi di sebelah sana (ruang satu) terdapat lukisan yang menggambarkan awal kehidupan dengan kondisi alam yang masih segar. Kemudian disampingnya adalah adanya proses perusakan seperti mengambil gading gajah dan lain sebagainya. Kemudian di ruang ke dua masih ada proses perusakan lingkungan, dan diakhiri dengan proses pemulihan," jelasnya.

Meski hanya melalui sebuah lukisan, ia berharap masyarakat dapat menangkap setiap pesan yang hendak disampaikan oleh para seniman yang seluruhnya berasal dari UM itu. Karena bagaimana pun juga, ia menilai kondisi lingkungan hidup saat ini semakin tidak bersahabat. Ia juga berharap manusia dapat lebih menghormati lingkungan tempat ia tinggal dan hidup selama ini. "Yang selalu ditekankan adalah ajakan untuk bersama melestarikan lingkungan," imbuhnya.

Bukan sekedar memamerkan sederet lukisan cantik bertema lingkungan hidup, kegiatan juga diisi dengan workshop batik yang turut dihadiri oleh puluhan peserta dari kalangan mahasiswa dan masyarakat. Hasil dari workshop juga dipamerkan. "Untuk batik hasil workshop kami pamerkan di hari ini saja. Sementara besok akan ada kegiatan lain yaitu bedah karya dengan para seniman UM," pungkasnya.

 

Editor : A Yahya
Publisher :

Redaksi: redaksijatimtimes[at]gmail.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : redaksijatimtimes[at]gmail.com | redaksijatimtimes[at]gmail.com
Top