KITAB INGATAN 30

Nov 04, 2018 10:14
Ilustrasi puisi (Istimewa)
Ilustrasi puisi (Istimewa)

MALANGTIMES - *dd nana
"Sebab, seperih apapun luka perlu dirayakan, ". 
1/ Siapa yang memulai percakapan saat waktu masih merangkak. Kau ataukah Aku. Atau bayangan panjang dari bayang-bayang dahan pohon terlarang. Yang gemerisik daunnya menggelitik telinga dengan dendang paling purba. Cinta. 

Baca Juga : KITAB INGATAN 101

Yang membuat Aku mulai mempertanyakan kelamin yang menempel pada Kau. "Kenapa harus berbeda? ".

Waktu terguling, menggelinding ke arah sungai Kautsar. Meninggalkan sepasang degup jantung yang bertanya semakin ramai. Riuh dalam percakapan paling nyeri, paling bisu. Aku dan Kau menemukan pengetahuan. 

"Tapi akhirnya kelamin kita harus ditutupi dedaunan,  bukan? Dan kita harus selekasnya meninggalkan ranjang. Sebelum tuhan terbangun dan menyalahkan penghuni pohon terlarang. Sebelum waktu ikut dalam perbincangan rahasia, , ". 

Karena waktu kembali mengunjungi kita yang masih berpelukan. Terpesona dan ikut mendesiskan kata-kata yang diulang-ulang. Serupa percakapan pendek, monolog. Percakapan yang akhirnya Aku mengerti sebagai sebuah pertanyaan. Seperti kita yang bertanya kenapa kelamin dicipta berbeda. 

Tapi, siapakah yang  memulai percakapan saat waktu masih merangkak dan kita masih begitu bercahaya. Aku atau Kau. Atau bayangan panjang dari bayang-bayang dahan pohon terlarang. 
"Bukankah semua telah dituliskan. Kenapa masih harus bertanya. Hirup saja hidup dengan kesenangan-kesenangan yang pernah ditanamkan di kepala," ucap bayangan yang memanjang. 

Aku dan Kau akhirnya mengerti. Masih bergandeng tangan, kita ucapkan salam perpisahan. Di luar yang dinamakan kegelapan meraja untuk ditaklukkan. Sedang di ruang dan tempat yang entah,  tuhan mengulum senyum. 

"Berpisahlah, lepaskan tangan kalian. Bukankah kalian ingin menemukan jawaban, " sabdanya. 

2/ Ada yang ingin meminta dipulangkan. Kakinya menghentak-hentak kepala dan dada. Tapi,  percayalah,  sayang,  ini bukan seperti yang Kau persangkakan. Sebagai bocah, pintu rumah bukan sekedar ruang istirah yang dibatasi waktu. Lebih dari itu, lebih dari itu. 

Baca Juga : KITAB INGATAN 100

Maka, aku mohon jangan bertanya. Siapa yang menanamkan sesuatu di kepala dan dada ini. Yang menghentak-hentak meminta jalan pulang. Menuju Kau, menuju Kau. 

3/ Kita asyik saling mengunyah daging berwarna putih yang ditutupi cangkang berwarna merah dadu. Saling melepaskan dengan tenang,  serupa waktu menguliti siang agar warna redup dan akhirnya padam. 

Bibir-Mu memerah, bibir Aku disengat bara. Sungguh Aku bahagia. Dalam santap malam ini tidak ada pertanyaan. Selain menikmati daging berwarna putih yang mengingatkan  pada nenek moyang kita. Yang raganya telanjang disepuh cahaya langit paling tepi. 

4/ Siapa yang mengundang gerimis. Saat kita telah berjanji untuk bertemu di titik paling aman untuk berikrar. Aku menengadah, melihat langit. Sambil membayangkan Kau pun bertanya seperti Aku. 

Siapa yang mengundang gerimis? 

5/ Gerimis di luar semakin rapat. Di kamar kita bersitatap. Sebelum iri menjadi pemisah, kita tuntaskan tanda koma di ranjang berseprai warna putih. Kita tergeragap sebentar. Sebelum koma pecah dan mengalir ke luar. 
Gerimis di luar beringsut pelan. 
 

 

Topik
serial puisipuisi pendekpuisi malangtimeskitab ingatan

Berita Lainnya

Berita

Terbaru