Kepala Dinas Perdagangan Kota Malang Wahyu Setianto (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).
Kepala Dinas Perdagangan Kota Malang Wahyu Setianto (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).

MALANGTIMES - Lebih dari 50 persen pasar di Kota Malang sudah menerapkan sistem pembayaran retribusi secara elektronik atau e-retribusi. Dengan pencapaian itu, Dinas perdagangan Kota Malang pun optimistis target pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor retribusi pasar dapat melampaui target yang telah ditetapkan.

Baca Juga : Warga Terdampak Covid-19 di Kabupaten Malang, Bakal Dapat Pasokan Makanan Dapur Keliling

Kepala Dinas Perdagangan Kota Malang Wahyu Setianto memyampaikan, penerapan sistem e-retribusi saat ini sudah dilakukan di 15 pasar dari total 27 pasar yang ada. Di antara pasar yang telah menerapkan e-retribusi itu adalah Pasar Bareng, Pasar Buku Wilis, Pasar Gadang Lama, Pasar Klojen, Pasar Bunul, Pasar Kedungkandang, hingga Pasar Oro-Oro Dowo.

"Dan sisanya sudah kami persiapkan. Namun memang belum diterapkan karena Bank Jatim masih harus menyiapkan nomor serinya. Jadi harus bersabar, dan kalau bisa sampai akhir tahun ini semua sudah menerapkan e-retribusi," jelasnya kepada wartawan.

Wahyu menyampaikan jika penerapan e-retribusi terbukti lebih efektif dibandingkan penarikan karcis seperti sebelumnya. Jumlah PAD yang didapat dari sektor retribusi itu pun mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Jika awalnya retribusi pasar ditarget sebesar Rp 4,9 miliar sepanjang 2018, maka setelah ada APBD-Perubahan, maka target naik menjadi Rp 5,5 miliar. "Pasti tercapai karena kami menjamin ada intensifikasi dan ekstensifikasi," imbuhnya.

Rencananya, sistem e-retribusi yang sudah diterapkan sejak Agustus 2018 itu akan dilaunching pada 13 November mendatang, bebarengan dengan hari festival pasar. Rencananya, launching akan dilakukan di Pasar Besar secara langsung oleh wali kota dan wakil wali Kota Malang "Rencananya nanti di Pasar Besar, tapi masih akan dilihat lagi nanti," papar pria ramah itu.

Baca Juga : Dinsos-P3AP2KB Salurkan Bantuan bagi 1.666 Warga Miskin

Sistem pembayaran yang menggandeng Bank Jatim itu, menurut Wahyu, berperan besar dalam peningkatan PAD. Sebab, dapat diminimalisasi adanya kebocoran retribusi yang dimungkinkan karena pedagang yang terlewat sehingga tak membayar retribusi saat ditarik petugas.

Kemudahan melalui sistem e-retribusi juga membuat pedagang lebih rajin melakukan pembayaran. Hal itu juga sudah ia buktikan melalui retribusi yang didapat dari beberapa pasar yang sudah menerapkan e-retribusi.

Salah satunya Pasar Kota Lama. Saat ini retribusi yang diterima mencapai Rp 200 ribu per hari. Sementara saat masih menggunakan sistem manual, retribusi yang didapat hanya sebesar Rp 110 ribu. "Hal itu juga yang membuat kami optimis mampu memenuhi target," tutupnya. (*)