Tradisi Seks : Dari Potong Alat Kelamin, Culik Istri Orang Sampai Berbagi Istri, Bagaimana dengan Seks Jawa ?

Tradisi seks Jawa masa lalu (Ist)
Tradisi seks Jawa masa lalu (Ist)

MALANGTIMES - Peradaban di muka bumi kerap membuat kita saat ini tidak habis berpikir. Terutama mengenai tradisi seks jaman baheula yang berlaku di berbagai belahan dunia. Bahkan, tradisi seks di peradaban masa lalu lebih kompleks, sadis dan membuat kita tidak akan percaya.

Dari berbagai literature yang ada, beberapa tradisi seks tersebut, bisa membuat kita merinding dibandingkan dengan tingkah laku masyarakat zaman ini. Misalnya tradisi seks suku Mardudjara Aborigin di Australia. Di suku Mardudjara terdapat tradisi seks yang terbilang mengerikan. Dimana para lelaki melakukan pemotongan atau sunat seperti tradisi Islam. Tapi dengan cara yang sangat mengerikan dan malah akan membuat rusak organ kelamin pria yang disunat tersebut.

Di Mardudjara, para pria dalam keadaan sadar, kemaluannya dipotong memanjang hanya dibagian bawah mulai dari ujung penis sampai bagian skrotum. Kulit kemaluan yang dipotong wajib dimakan oleh pria yang melakukan sunat terhadap pria lainnya. Tidak hanya sampai di situ, darah dari alat kelamin yang dipotong harus terbakar oleh api di bawahnya. Hal ini dipercaya oleh suku Mardudjara untuk memurnikan proses potong alat kelamin tersebut. Hasilnya di kemudian hari, para pria Mardudjara kalau buang air kecil bukan lewat ureta atau saluran pembuangan. Tapi dari bagian bawah alat kelamin yang pernah dipotong.

Tradisi seks mencuri istri orang lain dan potong alat kelamin pria (Ist)

Selain suku Mardudjara, tradisi seks yang bikin kita geleng-geleng terjadi di Suku Wodaabe di Nigeria, Afrika Barat. Para pria Suku Wodaabe dikenal suka mencuri istri orang lain. Pencurian istri orang lain ini pun disahkan dalam sebuah tradisi tahunan yang dinamakan Gerewol. Dalam festival dimana para pria Wodaabe memakai make up dan kostum lalu menari-nari dalam upaya mencuri perhatian para wanita yang telah bersuami. Apabila mereka berhasil mencuri istri orang, maka pria tersebut secara sosial pun diakui lebih tinggi dibandingkan pria lainnya.

Warga Upper Dolpa di Himalaya memiliki tradisi seks yang tak kalah uniknya. Yakni berbagi istri atau poliandri berbanding terbalik dengan di negara kita. Tradisi seks ini dilatarbelakangi sumber daya alam yang minim serta berbagai keterbatasan ekonomi. Warga Upper Dolpa, seperti diketahui merupakan bagian dari kelompok masyarakat yang membuka jalan antara Nepal dan Tibet. Sebagai warga yang secara ekonomi terbilang susah inilah berbagi istri menjadi pilihan. Satu sisi praktik poliandri bisa mencegah adanya ekses pembagian harta diantara keluarga. Sisi lainnya persediaan makanan bisa mencukupi kebutuhan keluarga.

Biasanya, keluarga akan memilihkan istri untuk anak lelaki tertuanya terlebih dahulu. Setelah itu sang kakak memberi kesempatan kepada adik-adiknya untuk juga menikahi istrinya. Tradisi seks berbagi istri berlangsung sekitar satu abad dan kini pun masih bertahan di desa- desa terpencil di Himalaya.

Bagaimana dengan tradisi seks orang Jawa?

Gambaran kehidupan seks dalam peradaban dan kebudayaan Jawa, sudah ada semenjak abad IX. Terpahat dalam relief Candi Borodur di Jawa Tengah (Jateng). Pahatan yang digambarkan mengenai seks Jawa sebanyak 160 panel di bagian paling bawah Candi Borobudur yang disebut Kamadhatu. Dalam relief tersebut digambarkan adegan Surta Karmawibhangga atau hukum sebab-akibat kehidupan, yakni gambaran perbuatan yang mengikuti hawa nafsu seperti bergosip, membunuh, menyiksa dan memperkosa. Juga ada adegan seks dalam berbagai posisi.

Selain di Candi Borobudur, sebuah kitab bernama Serat Centhini juga mengupas mengenai persoalan seks. Dalam kitab fenomenal Jawa tersebut, seks berbaur dengan ritual-ritual keagamaan saat itu. Berisikan mengenai seks yang dikupas tuntas mulai dari bagaimana mengenal serta memahami perilaku seks seseorang. Dibahas juga tentang perempuan berdasarkan ciri-ciri fisiknya, sampai bagaimana melakukan adegan senggama secara liar dan nakal dengan berbagai posisi dan cara, adegan sesama lelaki hingga lebih dari satu lelaki yang dilakukan secara mistis dan sakral.

 

Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher :

Redaksi: redaksijatimtimes[at]gmail.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : redaksijatimtimes[at]gmail.com | redaksijatimtimes[at]gmail.com
Top