Indonesia Kufur Nikmat, Saling Gasak Gesek Gosok dengan Alasan Kalimat Tauhid

KH Saifuddin Zuhri memberikan tausiyah di Masjid Sabilillah Malang, Selasa (30/10) malam. (foto: Mas Fa for Malang Times)
KH Saifuddin Zuhri memberikan tausiyah di Masjid Sabilillah Malang, Selasa (30/10) malam. (foto: Mas Fa for Malang Times)

MALANGTIMES - Indonesia sudah diberi aman, tenteram, rahmat kemerdekaan, dihilangkan penjajahnya, bisa membangun apa saja. Segalanya nikmat. Tetapi saat ini rakyatnya malah mengufuri nikmat-nikmat tersebut. 

"Mengapa kita tidak mau bersatu dalam perbedaan? Malah diganti dengan saling gasak gesek gosok dengan alasan kalimat tauhid."

 Begitulah salah satu petikan kalimat tausiyah yang disampaikan pengasuh Pondok Pesantren  I'Anatut Tholibin Malang KH Saifuddin Zuhri  di Masjid Sabilillah Malang semalam (30/10).

"Maka yang kita takuti, Allah menurunkan azab dua bentuknya, kelaparan dan rasa takut yang mencekam. Tidak nyaman dan tidak tenang hidup di negaranya sendiri. Itu disebabkan karena manusianya sendiri," ungkap rais syuriah Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama (NU) Blimbing ini.

Saifuddin menegaskan agar rakyat Indonesia jangan mengedepankan hidup pecah gara-gara beda. Yang dibolehkan oleh Islam adalah ikhtilaf, yakni berbeda antara satu dengan lainnya, baik itu perbedaan  rupa, warna, bahasa, pikiran, dan pendapat. Sedangkan yang diharamkan oleh Islam adalah tafaruq, yang artinya cerai berai, silang selisih, bersimpang jalan sehingga membuat satu sama lain bermusuhan bahkan terkadang meng-kafir-kan yang muslim.

"Ayo bijaksana. Seperti yang dilakukan Kanjeng Nabi di Madinah. Sepuluh tahun kumpul dengan Yahudi, kumpul dengan Nasrani, etnis Aus etnis Khazraj konflik terus. Tapi manajemen Kanjeng Nabi yang perlu kita contoh mampu menciptakan suasana yang aman damai tenteram dalam masyarakat yang berbeda-beda," paparnya.

Karena itu, Saifuddin menilai sangat rugi jika anak bangsa ini saling bermusuhan. "Jangan sampai bangsa bentur dengan FPI. Rugi. Podo-podo kalimat tauhid," imbuhnya.

Saifuddin juga mengatakan, kalimat tauhid tidak perlu dibuat bendera. Cukup dengan mengucapkannya setiap hari, dosa-dosa kita akan diampuni oleh Allah. Hal ini didasari atas dasar kalimat "Laa Ilaaha Ilallah Muhammadur Rasululllah" yang berjumlah 24 huruf dan setiap hurufnya mampu menghapus dosa tiap satu jam. Meskipun tidak dibuat bendera, apabila dilaksanakan setiap hari, akan menjadi falsafah kehidupan dan hati menjadi tenteram.

"Saya yakin inilah orang yang tidak akan kena penyakit lupa kepada Allah. Jika hidupnya stabil, rohaninya stabil, imannya stabil, ibadahnya stabil, soleh ritual, soleh sosial, inilah yang dibanggakan oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW," tutur Saifuddin. (*)
 

Editor : Yunan Helmy
Publisher :

Redaksi: redaksijatimtimes[at]gmail.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : redaksijatimtimes[at]gmail.com | redaksijatimtimes[at]gmail.com
Top