Ilustrasi kisah cinta "Sang Nabi dari Lebanon". (Ist)
Ilustrasi kisah cinta "Sang Nabi dari Lebanon". (Ist)

MALANGTIMES - Cinta jarak jauh atau lebih dikenal sebagai long distance relationship (LDR) bukan hanya milik generasi saat ini. Tapi telah lama juga menimpa generasi masa lalu. Misalnya,  kisah LDR fenomenal antara "Sang Nabi dari Lebanon" Kahlil Gibran dengan Marie Elias Ziyada atau May Ziyada, seorang feminis Palestina awal dan pelopor feminisme oriental. 

Kisah LDR sepasang manusia luar biasa yang namanya tetap diingat sampai saat ini tersebut akan membuat siapa pun dibuat bengong dan geleng-geleng kepala. Meleleh dengan percintaan platonis mereka. 

Bayangkan, kisah cinta mereka selama 20 tahun dan tidak pernah sekali pun bertemu muka. Berjalan begitu dahsyat sampai ajal menjemput keduanya. Hanya lewat koresponden surat, mereka meneriakkan rindu-dendamnya secara menggelora. 

"Jika cinta tidak dapat mengembalikan engkau kepadaku dalam kehidupan ini… pastilah cinta akan menyatukan kita dalam kehidupan yang akan datang." Begitulah tulis "Sang Nabi dari Lebanon" kepada pujaan hatinya. 

LDR Gibran yang berdomisili di New York dengan May Ziyadah di Mesir hanya diwakili surat selama 20 tahun. Keduanya begitu puas hanya membaca serta melihat foto diri mereka tanpa melihat fisik secara langsung. Dalam karya May Ziadah: Ironi Cinta Sang Pujangga karya Soe Sudarjo (2010). dituliskan: "Korespondensi antar-keduanya dimulai pada 1912, ketika May berkirim surat kepada Gibran mengenai tokoh Selma Karameh yang terdapat dalam Broken Wings. May sangat tersentuh dengan kisah dalam Broken Wings, yang menurut cita rasanya terlalu liberal. Menurut May, nasib yang menimpa Selma merupakan cerminan rasa ketidakadilan atas persamaan hak-hak kaum perempuan. Sejak itulah keduanya saling berkirim argumen melalui surat. Di kemudian hari, saat Gibran menetap di Amerika, May sempat menjadi editor untuk tulisan-tulisan Gibran, menggantikan posisi Mary Haskell. Pada 1921, Gibran berhasil memperoleh foto May."

Sejak itulah, kisah LDR keduanya terjalin begitu dalam, halus dan puitik. Keduanya bahagia hanya dengan membaca berbagai surat yang mereka dapatkan satu sama lain. Salah satu koresponden antara mereka  dapat dibaca dalam buku Blue flame: Love letters of Khalil Gibran to May Ziadah.

"....Tidak mungkinkah Bintang Johar itu seperti aku juga : ia mempunyai Gibran-nya sendiri - yang berada nun jauh disana, tapi sebenarnya amat dekat di hatinya. Dan tak mungkinkah pula bintang johar itu sedang menulis surat kepada Gibrannya saat itu juga, saat senjakala bergetar di ujung cakrawala, karena tahu bahwa gelap akan melulur senja, dan esok terang pun akan mengusir gelap, ia pun sadar bahwa malam akan berganti siang, siang pun esok menggatikan malam , silih berganti terus menerus, sampai keheningan ujung senja pun telah memeluknya , diikuti dengan kesunyian malam. Ditaruhnya penanya, lalu berlindung dari kegelapan di balik tameng sebuah nama: Gibran."

Bagi "sang nabi" dan kekasihnya, kisah cinta mereka didasarkan pada "cinta menjadi" bukan "cinta memiliki".  Meminjam istilah Erich Fromm dalam bukunya The Art of Lovin, cinta menjadi [to be] merupakan cinta yang tidak lagi dikurung dalam keinginan untuk memiliki, tetapi menyayangi. Sedangkan cinta memiliki [to have]   mengharuskan keduanya berada dalam ‘mahligai’ karena cinta itu mesti menyatu.

Sampai akhir hayat keduanya, kisah cinta mereka tetap abadi. Tak pernah secara fisik bertemu tapi telah menjadikan jiwa mereka merdeka. Walau, kesedihan sempat menghantam May saat mendengar kematian sang kekasihnya. 

Pada tanggal 10 April 1931 pukul 11.00 malam, "sang nabi" meninggal dunia. Tubuhnya memang telah lama digerogoti sirosis hepatis dan tuberkulosis. Pada pagi hari terakhir itu, dia dibawa ke St Vincent’s Hospital di Greenwich Village.
Kematian Gibran,  pria yang dicintai tanpa sedetik pun mengetahui secara langsung fisiknya ini, membuat kesehatan May menurun. May tinggalkan dunianya dengan membawa kesedihan. Sampai akhirnya May wafat tahun 1941.

"Tubuh mempunyai keinginan yang tidak kita ketahui. Mereka dipisahkan karena alasan duniawi dan dipisahkan di ujung bumi. Namun jiwa tetap ada di tangan cinta… terus hidup… sampai kematian datang dan menyeret mereka kepada Tuhan…"
"Jangan menangis, Kekasihku… Janganlah menangis dan berbahagialah, karena kita diikat bersama dalam cinta. Hanya dengan cinta yang indah… kita dapat bertahan terhadap derita kemiskinan, pahitnya kesedihan, dan duka perpisahan". (*)