Puncak Mahameru (mengeluarkan asap putih) saat difoto dari ketinggian Desa Ngadas, Kabupaten Malang, beberapa waktu lalu. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Puncak Mahameru (mengeluarkan asap putih) saat difoto dari ketinggian Desa Ngadas, Kabupaten Malang, beberapa waktu lalu. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Balai Besar Tanam Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) kembali memberlakukan pembatasan pendakian di Gunung Semeru. Para pecinta alam maupun masyarakat setempat tidak diperkenankan untuk mendekat ke puncak Mahameru. Radius sejauh 4 kilometer dari puncak diharuskan steril karena aktivitas kawah tidak terpantau.

Hal tersebut disebabkan oleh kabut yang melingkupi kawasan puncak gunung setinggi 3.676 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu. Kabut yang muncul pada Selasa (30/10/2018) kemarin menambah kerawanan gunung yang saat ini berada di level II atau waspada. 

Karena kondisi tersebut, para pendaki yang berencana melakukan pendakian pun disarankan hanya bisa sampai pos Kalimati. Kepala BB TNBTS John Kenedie mengatakan, berdasarkan pemantauan, gunung yang terletak di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang itu mengalami kabut 0-II hingga kabut 0-III. "Asap kawah tidak teramati," ujarnya. 

John menyampaikan, selama beberapa waktu terakhir, Semeru terpantau aktif. Tercatat mengalami letusan sebanyak 47 kali dengan kekuatan 12-26 mm amplitudo. Durasinya pun cukup singkat, yakni sekitar 40-105 detik. 

Dia mengatakan, saat ini status Semeru tengah waspada. Oleh karena itu, pihaknya menyarankan agar para pendaki yang berencana melakukan pendakian untuk lebih berhati-hati. Selain itu, juga untuk tidak memaksakan diri mencapai puncak Mahameru. "Untuk masyarakat disarankan tidak melakukan aktivitas 4 km dari puncak, dikawatirkan ada awan panas yang sewaktu-waktu bisa terjadi," terangnya. 

Sementara itu, masyarakat yang bermukim di dekat bantaran Sungai Besuk Bang, Kembar, Kobokan, dan Besuk Sat harus selalu waspada terhadap bahaya banjir. "Dikhawatirkan di puncak terjadi hujan lebat," pungkasnya. (*)