Keleman, Tradisi Minta Hujan dari Peniwen

Tradisi Keleman Desa Peniwen, Kromengan. Ini tradisi meminta hujan di musim kemarau berkepanjangan. (Nana)
Tradisi Keleman Desa Peniwen, Kromengan. Ini tradisi meminta hujan di musim kemarau berkepanjangan. (Nana)

MALANGTIMES - Masyarakat Jawa memiliki instrumen atau kearifan lokal yang disebut tradisi dalam menyikapi berbagai peristiwa. Misalnya  saat wilayahnya mengalami paceklik dan kekeringan panjang ataupun dalam berbagai peristiwa yang menyebabkan masyarakat menjadi tidak stabil karena faktor iklim dan cuaca serta lainnya. 

Tradisi-tradisi tersebut terpelihara sampai saat ini walau berbagai pendekatan modern dalam menyikapi peristiwa-peristiwa tersebut telah familiar dalam masyarakat.  Hal ini juga terlihat pada masyarakat Desa Peniwen, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang,  yang bersetia menjalankan salah satu tradisi turun-temurunnya. Yakni Keleman,  sebuah tradisi atau adat masyarakat setempat untuk memohon turunnya hujan. 

Ratusan warga desa pun berbondong-bondong menuju pendapa balai desa Peniwen. Tidak dengan tangan kosong. Di tangan mereka, berjenis makanan atau disebut encek  dibawa. 

Encek yang dibawa oleh setiap warga dikumpulkan. Nantinya setelah melaksanakan doa bersama, encek tersebut di makan bersama-sama. 

Waluyo, perangkat desa Peniwen, menyampaikan bahwa adat atau tradisi Keleman telah ada sejak lama di desanya.  "Keleman telah lama ada dan terus kami pelihara. Intinya untuk memohon turunnya hujan apabila sampai bulan Oktober tidak juga turun," kata Waluyo kepada MalangTIMES, Rabu (31/10/2018). 

Keleman juga dilaksanakan apabila sebelum bulan Oktober,  hujan telah turun. Sehingga Keleman tidak saja menjadi adat meminta hujan saja, tapi juga sebuah doa agar hujan yang sudah turun tidak menjadi bencana bagi masyarakat. 

Encek, makanan yang dibawa warga dalam Keleman sebagai wujud syukur (Nana)

"Keleman tetap dilaksanakan rutin setiap akhir Oktober. Kalau belum hujan, kami berdoa meminta hujan. Kalau hujan sudah turun, kami berdoa agar menjadi berkah bagi masyarakat," ujar Waluyo. 

Adat Keleman berbeda dengan adat atau tradisi meminta hujan pada masyarakat Jawa lainnya. Misalnya adat Ojung,  ritual meminta hujan dengan medium adu pukul rotan. Dalam Keleman, hanya ada doa bersama kepada Sang Pencipta untuk meminta dan bersyukur. 

Inti Keleman, ucap Waluyo, adalah doa bersama dalam ibadah. Sedangkan encek yang dibawa sekitar 350 warga dalam adat tersebut sebagai wujud syukur. "Khusus Keleman tidak ada kegiatan yang lain, Mas" imbuhnya. 

Sebanyak 350 warga Desa Peniwen yang telah berkumpul di lendapa balai desa duduk bersama. Berdoa secara khusyuk untuk meminta hujan tercurah dengan dipimpin oleh tokoh agama setempat. Kekhusyukan warga yang berbusana bebas dalam adat Keleman tersebut sebagai wujud ketaatan dan kepasrahan makhluk terhadap Tuhan Yang Maha Esa. 

Bukan hanya warga Peniwen saja yang hadir dalam tradisi yang sampai saat ini terjaga itu. Berbagai warga sekitar desa sampai Pemerintah Kecamatan Kromengan pun menghadiri dilaksanakannya adat Keleman. 

Joanico Da Costa, camat Kromengan, dalam kesempatan berbeda menyampaikan bahwa terpeliharanya tradisi keagamaan di wilayahnya sebagai bagian dari sikap masyarakat agama yang terbuka. "Menyerap adat masa lalu dengan keyakinan beragama mereka. Tidak menapikannya, tapi menggabungkan antara adat dan agama yang hidup berdampingan sejak lama," kata Nico -sapaan camat Kromengan.

Akulturasi. Begitulah sikap keagamaan dan adat masa lalu berjalan di masyarakat Peniwen yang mayoritas beragama Kristen, tetap terjaga sampai kini. Sebuah sikap yang saat ini kerap menjadi bahan pertentangan dan pertarungan di bangsa Indonesia ini. Satu kelompok dengan yang lainnya membenarkan dan menyalahkan dengan mutlak,  serupa Tuhan itu sendiri. 

"Syukur,  di wilayah Kromengan sikap keagamaan yang berbeda tidak menjadikan perbedaan yang mengarah pada perpecahan. Di sini mayoritas dan minoritas  bergandengan. Hidup rukun dan bersama membangun kemajuan," pungkas Nico.  (*)

 

Editor : Yunan Helmy
Publisher :

Redaksi: redaksijatimtimes[at]gmail.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : redaksijatimtimes[at]gmail.com | redaksijatimtimes[at]gmail.com
Top