Upacara peringatan Sumpah Pemuda ke-90 di Pendapa Kabupaten Malang. Wabup Malang HM Sanusi mengimbau seluruh pemuda untuk bersama melawan hawa jahat teknologi informasi saat ini (Nana)
Upacara peringatan Sumpah Pemuda ke-90 di Pendapa Kabupaten Malang. Wabup Malang HM Sanusi mengimbau seluruh pemuda untuk bersama melawan hawa jahat teknologi informasi saat ini (Nana)

MALANGTIMES - Teknologi informasi adalah dua mata pisau. Satu sisi memberikan jaminan kecepatan informasi untuk meningkatkan kapasitas  pengetahuan dalam  pengembangan  sumber  daya serta daya saing. Sisi lainnya menyuguhkan ketajaman yang bersifat destruktif.

Mulai dari hoax, serta hawa jahat teknologi informasi seperti hate speech, pornografi,  narkoba,  pergaulan bebas hingga radikalisme dan terorisme. 

Sisi tajam destruktif ini dengan mudah menyayat nadi-nadi pemuda bangsa Indonesia sebagai pengguna teknologi informasi yang terbilang massif di era milineal saat ini.

Eksesnya terlihat dari berbagai kasus yang menjebak dan menjebloskan para pemuda di ranah hukum. 

Kondisi inilah yang membuat pemuda sebagai penerus estafet tongkat kepemimpinan bangsa dan negara wajib dilindungi dan melindungi dirinya dengan filter ilmu pengetahuan serta kedewasaan dalam berbangsa dan bernegara sebagai tameng pemuda dalam menghalau hawa jahat teknologi informasi. 

Melalui Revolusi Mental lah tameng bagi pemuda dalam mewujudkan Bangun Pemuda Satukan Indonesia yang dijadikan tema hari Sumpah Pemuda ke-90 tahun 2018.

Melalui Revolusi Mental pula, pemuda yang sangat familiar berhubungan dengan teknologi informasi bisa menghalau berbagai hawa jahatnya. 

Kesimpulannya, revolusi mental akan gagal total jika para pemuda Indonesia tidak bisa menangkal pengaruh negatif kecanggihan teknologi informasi yang berkembang saat ini.

"Revolusi Mental yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo amatlah relevan dalam mewujudkan pemuda yang maju. Ciri pemuda yang maju adalah pemuda berkarakter, berkapasitas dan berdaya saing, " ucap Wakil Bupati (Wabup) Malang HM Sanusi saat membacakan sambutan Menteri Pemuda dan Olahraga dalam upacara Sumpah Pemuda di Pendapa Kabupaten Malang, Senin (29/10/2018). 

Wabup Malang melanjutkan, "Revolusi Mental harus dapat kita jadikan sebagai pemicu untuk mempercepat terwujudnya pemuda yang maju. Dengan mewujudkan pemuda yang maju berarti kita dapat menghasilkan bangsa yang hebat, ". 

Sambutan yang dibacakan Wabup Malang tersebut, secara nyata memiliki korelasi kuat dengan tantangan dan ancaman yang diihadapi pemuda saat ini. Pun tidak lepas seperti yang terjadi di Kabupaten Malang.

Teknologi Informasi dengan dua sisi mata tajamnya inilah yang juga harus dibendung oleh para pemuda di Kabupaten Malang. 

"Teknologi tidak mengenal batas negara. Sisi negatifnya yang harus dilawan bersama. Pemerintah memakai revolusi mental dalam melawannya. Maka kita wajib bersama-sama juga menyatukan pemuda seperti zaman dulu," ujar Abah Sanusi -sapaan Wabup Malang. 

Mengenang pemuda masa lalu,  sekitar 90 tahun lalu yang mampu bersatu dan keluar dari jebakan sikap-sikap primordial suku, agama, ras dan kultur. Menuju persatuan dan kesatuan bangsa, merupakan modal besar berdirinya negara Indonesia.

Maka, tegas Abah Sanusi, tugas pemuda saat ini adalah harus sanggup membuka pandangan ke luar batas-batas tembok kekinian dunia, demi menyongsong masa depan dunia yang lebih baik.

Sambutan Menpora Imam Nahrawi juga menyoal mengenai keberhasilan para pemuda Indonesia  berkompetisi di kancah Asia.

Perhelatan Asian Games 2018, atlet-atlet muda Indonesia berhasil bersaing dengan bangsa-bangsa Asia. Serta berhasil menduduki peringkat ke-4.

Hal ini dilanjutkan dengan ajang Asian Para Games 2018. Dimana para atlet Indonesia berhasil menduduki peringkat ke-5. 

Melalui Abah Sanusi, Imam Nahrawi menyampaikan,  "Ini adalah sejarah baru kebangkitan olahraga Indonesia. Serta harus dijadikan momentum untuk terus membangun optimisme pemuda Indonesia dengan bekerja keras mewujudkan prestasi diberbagai bidang,".

Tantangan para pemuda dari hawa jahat teknologi informasi masih menunggu. 

Tahun 2019 bangsa Indonesia akan menggelar hajat besar pesta demokrasi untuk memilih dan menentukan presiden dan para wakil rakyatnya. 

"Untuk itu peran dan tanggung jawab pemuda dalam  proses pemilihan umum,  sangat dibutuhkan. Partisipasi aktif pemuda dalam pemilu 2019 perlu ditingkatkan untuk mewujudkan pemilu yang damai, kredibel, dan berkualitas, " pungkas Abah Sanusi.