Petugas kepolisian saat melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP), kasus penganiayaan, Kecamatan Ampelgading (Foto : Humas Polres Malang for MalangTIMES)
Petugas kepolisian saat melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP), kasus penganiayaan, Kecamatan Ampelgading (Foto : Humas Polres Malang for MalangTIMES)

MALANGTIMES - Kasus penganiayaan yang terjadi di wilayah hukum Polres Malang, sepertinya kian marak terjadi. Sebelumnya, Hartono warga Desa Gedogkulon Kecamatan Turen, diringkus polisi lantaran melakukan penganiayaan akibat terbakar cemburu, Selasa (16/10/2018) lalu.

Insiden serupa kembali terjadi. Kali ini giliran Umar warga Desa Sidorenggo Kecamatan Ampelgading, diringkus polisi lantaran nekat menganiaya Saihu, warga Dusun Sidomarto Desa Sidorenggo Kecamatan Ampelgading.

Kapolsek Ampelgading AKP Triyanto menuturkan, kejadian bermula ketika keduanya bertemu saat melintas di Jalan Kampung Dusun Krajan Desa Sidorenggo Kecamatan Ampelgading, Selasa (23/10/2018). Di tengah perbincangan keduanya, pelaku sempat menanyakan maksud dari korban mengirim pesan WhatsApp (WA) kepada istrinya yang bernama Yulika. 

Merasa cemburu, pria 32 tahun itu, lantas mengajak korban ke salah satu bangunan kosong yang ada di sekitar lokasi mereka bertemu. Tanpa basa-basi, Umar yang terbakar cemburu seketika menghujani pukulan kearah korban. “Dari pendalaman kami, tersangka sempat memukul korban sebanyak 5 kali, dan ketika tersungkur juga sempat ditendang sebanyak dua kali,” kata Triyanto.

Meski sempat melawan, nyatanya pria 35 tahun ini tetap mengalami luka lecet dan memar di bagian kepala, terutama di bagian pipi dan pelipis, serta tangan sebelah kiri robek. Warga yang mengetahui kejadian ini, berupaya melerai keduanya. “Korban yang tak berdaya sempat dilarikan warga ke Puskesmas setempat, untuk mendapatkan perawatan,” sambung Triyanto.

Selang beberapa hari kemudian, kejadian ini lantas dilaporkan korban ke Polsek Ampelgading. Meski sempat menjadi buron, tersangka akhirnya bisa diamankan beberapa hari pasca penganiayaan terjadi. “Tersangka diancam pasal 351 KUHP tentang penganiayaan, ancaman maksimal lima tahun penjara,” tegas Triyanto kepada MalangTIMES, Minggu (28/10/2018).

Sementara itu, Kasatreskrim Polres Malang AKP Adrian Wimbarda menuturkan, kejadian penganiayaan di Kabupaten Malang memang marak terjadi. Dari data yang dihimpun polisi, sedikitnya ada sekitar 30 kasus penganiayaan, yang terjadi di wilayah hukum Polres Malang. “Cekcok menjadi penyebab utama penganiayaan, selain menggunakan tangan kosong, mereka (tersangka) juga ada yang menggunakan benda tumpul dan senjata tajam (sajam) saat melancarkan aksinya. Sekitar 3 bulan belakangan ini, kasus penganiayaan didominasi akibat cemburu dan kasus yang berkaitan dengan fidusia (debt collector),” tutup Adrian.