KITAB INGATAN 30

Oct 28, 2018 08:53
Ilustrasi puisi (Istimewa)
Ilustrasi puisi (Istimewa)

MALANGTIMES - KITAB INGATAN 30

*dd nana

Pada Punggungmu

1/

Pada punggungmu juga akhirnya air mata tumpah. Walau kau mungkin tak akan pernah tahu. 

Karena segala yang dinamakan kehilangan adalah sabda purba yang dituliskan untuk para pecinta. 

Baca Juga : KITAB INGATAN 101

Tapi, pada punggungmu yang perlahan menghilang, air mataku serupa awan mendung di musim penghujan. 

Tak ada payung yang bisa menapisnya. Aku selalu telanjang di hadapan kesedihan yang merayap serupa ular paling tua yang ada di cerita-cerita purba. 

"Karenanya aku selalu memintamu. Jangan antar kepulanganku, ". 

Tapi cinta selalu pintar merayu mata. Serupa kesedihan; pengemis yang mahir membuat kita menangis iba. Sampai sunyi mendekapmu begitu dalam,  begitu kelam. 

2/

Di punggungmu, rahasia ini aku titipkan. 

Kenakan busana yang mampu menghangatkannya,  sayang. Biar angin kering Oktober tak membuatnya menggigil. Serupa kanak-kanak di peluk demam tinggi

Biar saja ingatan yang berdarah-darah menanggungnya. Agar segala rahasia di punggungmu tetap nyaman dan aman terjaga. 

Baca Juga : KITAB INGATAN 100

Cinta mengelupas di parak pagi. Ingatan membawa bara membakar kisah-kisah ganjil kita. Yang tersisa hanya punggungmu yang melangkah menjauh. Dengan rahasia-rahasia yang mungkin nanti kita bacakan pada anak-anak rindu. 

3/

Pada punggungmu yang terbuka, aku begitu suka mengeja berbagai peristiwa. Yang aku bayangkan serupa cerita-cerita cinta paling klasik. Atau serupa lautan tenang yang membujuk segala gerak liar untuk menyabar. Kadang aku mengeja sunyi yang berdebar-debar pada kulit punggungmu yang kemilau. 

Sesekali aku membayangkan percintaan liar sepasang manusia pertama. Atau paras kesedihan paling papa yang lupa dituliskan para pujangga. 

Pada punggungmu yang terbuka, aku begitu cinta. Hingga hasrat kerap malu untuk meminta yang lebih tinggi dibandingkan cerlang kulit punggungmu yang terbuka. 

Aku hanya bisa mengeja punggung terbukamu. Sebelum kau beranjak kembali pulang. Walau pernah aku membayangkan aku rengkuh saja punggungmu dengan dekap paling liat yang aku namakan syahadat. 

4/

Sejauh mana kau mencintaku. 

Sejauh punggungmu yang menghilang dari mataku yang sunyinya menetap bersama nafas dan waktu. 

 

Topik
serial puisipuisi pendekpuisi malangtimeskitab ingatan

Berita Lainnya

Berita

Terbaru