KH. Abdul Latif Madjid RA: Bencana Merupakan Peringatan Bagi Umat Manusia

Kanjeng Romo KH. Abdul Latif Madjid RA saat melakukan fatwa di atas podium di lapangan Desa Mulyoagung, Kecamatan Dau Kabupaten Malang, Kamis (25/10/2018) malam.
Kanjeng Romo KH. Abdul Latif Madjid RA saat melakukan fatwa di atas podium di lapangan Desa Mulyoagung, Kecamatan Dau Kabupaten Malang, Kamis (25/10/2018) malam.

MALANGTIMES - Seringnya bencana yang kerap terjadi belakangan ini di Indonesia menjadi bahasan utama oleh Hadratul Mukarram Kanjeng Romo KH. Abdul Latif Madjid RA pengasuh Yayasan Perjuangan Wahidiyah dari Kediri.

Fatwa dan doa bersama itu disampaikan dalam Mujahadah Rubu’ussanah di lapangan Desa Mulyoagung, Kecamatan Dau Kabupaten Malang, Kamis (25/10/2018) malam.

Puluhan ribu jamaah terlihat memadati lapangan tersebut. Bahkan ada juga yang terpaksa mendengarkan fatwa dan doa bersama di luar lapangan. Kanjeng Romo KH. Abdul Latif Madjid RA mengatakan, akhir-akhir ini diberikan bencana yang bertubi-tubi mulai dari Lombok Nusa Tenggara Barat hingga Palu dan Donggala Sulawesi Tengah.  Yang semuanya bencana itu sangat luar biasa menimpa masyarakat di sana.

“Teringat dahulu kala bahwa terjadi kerusakan di daratan lautan. Tampak timbul kerusakan yang diakibatkan oleh tangan-tangan perilaku manusia hingga alam murka. Sehingga mengadakan suatu unjuk rasa berupa bencana gunung meletus, gempa bmi, dan sebagainya karena perbuatan manusia. Yang mana oleh Allah sebagian ditimpakan kepada manusia sendiri,” ujarnya.  

Menurutnya dari semua bencana yang terjadi itu merupakan peringatan kepada kita yang terus berlarut-larut. Yang terus menuruti hawa nafsu.

Misalnya dalam perbuatan ingin kaya, yang semua tidak dilandasi niat ibadah. Hingga semua hal untuk menjadikan kaya diri sendiri. Tidak pernah mengabdikan diri terhadap kemauan Allah. “Kelihatannya memperjuangkan agama, kebaikan, tapi hanya memperjuangkan kemauan yang kita miliki. Seperti pada kegiataan mujaadah ini jangan terjebak dengan hura-hura," ucapnya.

Kebanyakan juga orang melakukan banyak ibadah tapi catatan amal tidak ada sama sekali. Melakukan salat, puasa, zakat, hingga haji tetapi bukan dilandasi karean Allah semata. “Agar dikatakan ahli haji, kita berjuang karena ahli bekerja bukan karena Allah tapi harta,” kata Kanjeng Romo.

Ia menambahkan sebagai rakyat, pejabat, di Indonesia dalam pengabdian negara harus diniati untuk mengabdi kepada negara. Menyejahterakan umat, jangan hanya sekadar tugas negara tapi perintah Allah untuk membangun umat. “Jika demikian semua perbuatan kita punya nilai ibadah untuk bekal di akhirat nanti,” imbuhnya.

Dalam fatwanya itu bahwa bergerak karena Allah, diam didiamkan Allah. Sehingga barang siapa yang mengaku bergerak sendiri, ibadah sendiri, orang itu adalah sirik kepada allah. “Allah yang menciptakan kamu bukan bapak dan ibumu dan apapun yang kamu lakukan semua Allah yang menggerakkan. Jadi jangan mengaku hidup sendiri itu termasuk dosa dan sirik,” ungkap Kanjeng Romo.

Suasana khusyuk sangat terasa saat berdoa bersama-bersama dengan para jamaah. Sebagian dari jamaah pun terlihat dengan histeris melantunkan doa-doa. Sebelumnya Kanjeng Romo juga telah mengikuti kegiatan sejak pagi hari. Di mulai dengan mengikuti Kedunglo Biking Team Tour De Malang dan berdoa bersama di Makam Mbah Batu di Kota Batu. Dilanjutkan dengan mengantarkan ratusan peserta Kirab Kebangsaan di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.

Sementara itu Ketua Yayasan Perjuangan Wahidiyah Malang dan Batu H Ahmad Basori menambahkan, kegiatan ini juga dalam rangka memperingati tahun baru Islam sekaligus doa bersama. “Dan acara ini memang sudah dilaksanakan sejak pagi hari,” kata Basori. 

Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher :

Redaksi: redaksijatimtimes[at]gmail.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : redaksijatimtimes[at]gmail.com | redaksijatimtimes[at]gmail.com
Top