Santri Wahidiyah Suguhkan Beragam Kebudayaan Unik dalam Kirab Kebangsaan

Penampilan jaran bunot dan replika leong hadir di Kirab Kebangsaan di Kecamatan Dau, Kamis (25/10/2018). (Foto: Irsya Richa/MalaNGTIMES)
Penampilan jaran bunot dan replika leong hadir di Kirab Kebangsaan di Kecamatan Dau, Kamis (25/10/2018). (Foto: Irsya Richa/MalaNGTIMES)

MALANGTIMES - Usai bersepeda, para santri Yayasan Perjuangan Wahidiyah juga menggelar kirab kebangsaan berlangsung di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.

Dengan kreativitasnya, mereka memberikan yang terbaik dalam rangka memperingati tahun baru Islam dan doa bersama, Kamis (25/10/2018).

Kirab kebangsaan itu diikuti kurang lebih 500 santri yang berada di Malang Raya hingga Kediri yang diberangkatkan oleh Kanjeng Romo KH Abdul Latief Madjid RA pengasuh Wahidiyah pusat dari Kediri. 

Mereka memberikan yang terbaik mulai dari penampilan kostum hingga keterampilan bermain musik.

Mereka ada yang menyuguhkan kepada masyarakat musik drum band. Ada juga yang menunjukkan hasil busana modern hingga tradisional. Busana modern itu seperti gaun-gaun pesta.

Sedangkan pakaian tradisional yang terbuat dari kain batik dibuat dengan gaya modern berbagai bentuk. Hingga layaknya pakaian raja dan ratu zaman kerajaan. 

Lainnya ada juga penampilan musil patrol, tak cukup itu saja ada replika leong yang cukup besar. Dan replika ini terbesar dibandingkan dengan penampilan lainnya. 

Saat mereka memainkam musik di atas replika leong itu, seketika langsung digerakkan ke kanan dan kiri. Hingga Jaran Bunot merupakan salah satu adat kesenian dari salah satu desa di Kecamatan Dau.

Ada juga Reog Ponorogo menghibur masyarakat Kecamatan Batu. 

Ketua Yayasan Perjuangan Wahidiyah Malang dan Batu H Ahmad Basori mengatakan, digelarnya kirab kebangsaan ini merupakan rangkaian acara Mujahadah Rubu’ussnah yang puncak acaranya bakal berlangsung pada Kamis malam. Tujuannya untuk melestarikam budaya Indonesia. 

“Lebih pada itu kami ingin melestarikan kebudayaan yang ada di Indonesia. Dari kirab ini tentunya banyak hal-hal yang bisa dicontohkan kepada masyarakat,” kata Basori.

Selain itu juga sebagai ajang kreativitas bagi pelajar Wahidiyah Malang Raya dan sebagainya. Sebab melalui kirab itu, santri akan memberikan penampilan yang terbaik yang dimilikinya.

“Dengan adanya kirab ini santri bisa menberikan yang terbaik dan mampu melestarikan kebudayaan yang telah dijaga itu. Dan ke depannya bisa memberikan yang terbaik bagi wahidiyah,” ujarnya.

Sebelum mengikuti kirab kebangsaan itu, sebanyak 700 peserta telah mengikuti Kedunglo Biking Team  Tour De Malang.

Sedang puncak acara doa bersama itu ikuti oleh puluhan ribu masyarakat yang dihadiri langsung Kanjeng Romo KH Abdul Latief Madjid RA, Pengasuh Yayasan Perjuangan Wahidiyah pusat dari Kediri.

Editor : Heryanto
Publisher :

Redaksi: redaksijatimtimes[at]gmail.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : redaksijatimtimes[at]gmail.com | redaksijatimtimes[at]gmail.com
Top