Belajar Tidak Boleh 'Senden', Inilah Makna Kursi 'Dingklik' di Filsafat Jawa dalam Bentuk Karya Seni Instalasi

Lukisan abstrak surealis karya Ojite Budi Sutarno di Pameran Arteastism Sasana Krida UM (foto: Imarotul Izzah/ Malang TIMES)
Lukisan abstrak surealis karya Ojite Budi Sutarno di Pameran Arteastism Sasana Krida UM (foto: Imarotul Izzah/ Malang TIMES)

MALANGTIMES - Masa silam seakan memiliki banyak interpretasi dari berbagai seniman ini. Sejumlah 50an seniman dari Thailand, Malaysia, dan Indonesia menginterpretasikan masa silam versinya ke dalam berbagai macam karya seni.

Karya seni tersebut dipamerkan dalam pameran Arteastism yang diadakan oleh Jurusan Seni dan Desain Universitas Negeri Malang. Kurang lebih 60 karya seni lukisan, grafis, multimedia, patung, keramik, instalasi, fotografi dipajang hingga Jumat besok (26/10) di gedung Sasana Krida UM.

Salah satu lukisan yang menarik adalah lukisan abstrak karya Gatot Pujiarto berjudul Manusia Modern. Lukisan itu berbentuk wajah manusia yang dilukis dengan pendekatan kubisme. Figur dalam karya tersebut merepresentasikan gambaran manusia yang seringkali berpikir pragmatis, parsial, terkotak-kotak, dan mengesampingkan keutuhan permasalahan yang dihadapi.

Lukisan Gatot

Selain lukisan, terdapat pula seni instalasi karya dosen Seni dan Desain UM Andreas Syah Pahlevi, S.Sn, M.Sn. Dalam karyanya yang berjudul Dingklik Sinau ini, Andreas menumpuk bangku sekolah sedemikian rupa dan terdapat aksara jawa, kayu jati, dan karya-karya lawasnya semasa kuliah.

Instalasi Andreas

“Kursi dingklik itu maksudnya dalam filsafat Jawa, kita kalau belajar itu kan tidak boleh senden. Kalau tidak duduk di lantai pasti duduk di dingklik. Itu menunjukkan bahwa kita itu rendah diri, rendah hati, dan menghormati guru yang biasanya berdiri. 5 bangku ini menunjukkan saya berproses di seni dan desain selama 5 tahun saya belajar,” ungkapnya.

Yang lebih unik lagi, terdapat juga lukisan yang berbeda bentuknya dari lukisan kebanyakan. Apabila lukisan biasanya berbentuk kotak, lukisan ini dibentuk menjadi bentuk yang sedemikian rupa yang menciptakan banyak pertanyaan bagi penikmat. Pelukis, Ojite Budi Sutarno, menggunakan material yang berbeda, yakni kayu, logam, dan kuningan.

Lukisan Ojite

“Pak Ojite ini kalau menurut saya surealis. Dia ingin menciptakan banyak pertanyaan dalam karyanya. Saya menangkapnya seorang legend yang didokumentasikan oleh Pak Ojite. Kalau ini sehubungan dengan band, mungkin band AC/DC. Atau bisa saja semacam sebuah kritik pekerja waria yang di sisi lain dia cukup maskulin,” papar Andreas.

Untuk diketahui, pameran Arteastism ini diadakan dalam rangka ulang tahun jurusan Seni dan Desain UM yang ke 50. Untuk itu, di bagian depan, terdapat 3 lukisan lawas pendiri Seni Rupa UM. 3 lukisan tersebut merupakan karya Katjik Sutjipto, Dedy Winoto, dan Oediono. Apabila dicermati, lukisan karya Oediono (kanan sendiri) terlihat masih baru dan tidak pudar. Padahal, lukisan tersebut dibuat tahun 1994. Menurut Andreas, hal ini lantaran Oediono meracik sendiri ramuan catnya. 

Lukisan 3 Pendiri Sedesa

“Pameran ini kami adakan dalam rangka ulang tahun jurusan Seni dan Desain serta menumbuhkan aspek berkreasi seniman dan meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap karya seni,” ujar Dosen Seni dan Desain UM Drs. Ponimin, M.Hum, Ketua Panitia Pameran Arteastism.

Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher :

Redaksi: redaksijatimtimes[at]gmail.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : redaksijatimtimes[at]gmail.com | redaksijatimtimes[at]gmail.com
Top