Pelaku tindak pencabulan terhadap anak, AAA (mengenakan penutup wajah) usai diamankan jajaran Polres Malang Kota. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

Pelaku tindak pencabulan terhadap anak, AAA (mengenakan penutup wajah) usai diamankan jajaran Polres Malang Kota. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)



MALANGTIMES - Seorang gadis usia 12 tahun yang masih bersekolah di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Malang berhasil lolos dari upaya pemerkosaan. Dia berhasil lari dan membangunkan tetangganya untuk meminta bantuan. Mirisnya, pelaku tindak kejahatan seksual itu adalah teman dari kakaknya sendiri. 

Pasca kejadian tersebut, jajaran kepolisian meringkus pemuda bernama Afifudin, warga Jalan Kolonel Sugiono, Kelurahan Gadang, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Pemuda 21 tahun itu telah mengaku melakukan tindakan asusila tersebut karena dalam pengaruh minuman keras. 

Hal tersebut terungkap dalam rilis yang digelar Polres Malang Kota, hari ini (24/10/2018). Kapolres Malang Kota AKBP Asfuri mengungkapkan aksi pencabulan yang dilakukan AAA itu terjadi pada Rabu (17/10/2018) dini hari. Pada saat itu, pelaku yang merupakan teman dari kakak korban menginap di rumah korban. 

Pelaku yang mengatakan dalam kondisi mabuk akibat minuman keras mengaku memasuki kamar korban. Korban yang tertidur lelap tidak menyadari kedatangan AAA. Hingga pelaku melakukan tindak tak senonoh yakni meraba bagian vital korban. Korban yang terkejut lantas bangun dan berteriak.

"Korban sempat melihat pelaku di samping tempat tidurnya. Saat korban lari keluar kamar, pelaku sembunyi di kamar mandi," urai Asfuri. Dia menambahkan, korban saat itu berusaha membangunkan kakaknya. Namun, sang kakak tak kunjung bangun dari tidur. Korban pun lari keluar dan sempat mengunci pintu rumah. 

Korban lantas berusaha membangunkan tetangganya untuk meminta bantuan. "Saat itu tetangga korban langsung tanggap, dan ikut membangunkan kakak korban. Mereka lantas melaporkan kejadian ini," terangnya. Polisi pun bertindak cepat dengan meringkus pelaku yang sehari-hari tak bekerja alias pengangguran itu. 

AAA pun terancam hukuman minimal 5 tahun hingga maksimal 15 tahun penjara akibat tindakannya. "Pelaku dianggap melanggar pasal 82 UU RI nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak," pungkas Asfuri.

End of content

No more pages to load