Si Kancil: Robin Hood Masa Revolusi Jadi Penjahat Menakutkan di Era Kemerdekaan

MALANGTIMES - Selamat Pagi Indonesia. "Sayap burung berkepak/Menembus embun pagi/Terbang menerjang keheningan/gerbang dini/Terperanjat mendengar Derap langkahnya yang begitu tenang. Melangkah menuju keabadian... ". 

Begitulah cuplikan lirik lagu Selamat Pagi Indonesia karya  Theodore K.S., wartawan musik Harian Kompas yang arensemen lagunya digubah Ian antono,  gitaris God Bless,  di album “Cermin”.  

Lagu tersebut lahir dari kisah Sang Kancil asal Blitar Jawa Timur (Jatim) yang memiliki nama asli Waluyo (1929-1980). Seorang Robin Hood di masa revolusi kemerdekaan yang akhirnya ditikam kekecewaan mendalam dikarenakan dirinya merasa 'dibuang' oleh negara yang dibelanya. Waluyo pun akhirnya masuk di lembah hitam. Menjadi seorang penjahat yang menakutkan dengan jejaknya yang melegenda sampai saat ini. 

Kusni Kasdut. Begitulah akhirnya Waluyo yang sejak kecil merasakan bagaimana beratnya menjadi orang miskin dengan keluarga yang menderita kemiskinan. Namanya dikenal di dunia hitam dalam setiap sepak terjangnya yang menakutkan. 

Kusni saat menjadi seorang Robin Hood adalah sosok gigih yang tidak memikirkan dirinya sendiri. Dirinya secara lincah dan dikenal paling lincah di antara lainnya sehingga dijuluki Sang Kancil dalam mencari dana revolusi. 

James Siegel dalam bukunya Penjahat Gaya (Orde) Baru: Eksplorasi Kejahatan Politik dan Kejahatan (2000), menulis bahwa Kusni selama revolusi kemerdekaan menyumbang  tenaga dengan cara merampok orang-orang Tionghoa. Hasil rampokannya dibagikan kepada mereka yang terlibat dalam revolusi. “Kusni menyumbangkan puluhan juta bagi revolusi. Dia tak tahu-menahu dan tidak mau tahu hasil jarahannya,” tulis Siegel. 

Perannya itulah yang membuat Kusni dijuluki Robin Hood Indonesia. Bukan hanya hasil jarahan yang diberikan semuanya untuk kepentingan revolusi. Kusni yang berjuang di sekitar front Jatim juga mengalami berat dan ganasnya pertempuran melawan Belanda. Kusni dalam masa peperangan revolusi juga pernah merasakan timah panas. Dia kena tembak kakinya dan sempat menyicipi jeruji penjara Belanda. 

Peran Kusni yang sejak kecil menghabiskan waktunya di terminal bis kota Malang itu terbilang besar di masa revolusi. Dalam kondisi serba kekurangan dan harus bersiaga tempur, dirinya bergerak menutupi dana revolusi. 

Sayangnya,  saat era revolusi berakhir, sang Robin Hood yang sejak masa tersebut tidak masuk atau tergabung dalam kesatuan milisi pro-Republik terhempas dari berbagai kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan. Saat ia mendaftar masuk korps militer, TNI menolaknya. Luka tembak di kakinya menjadi satu sebab yang membuat Kusni tertolak. 

Padahal saat itu juga Kusni telah memiliki keluarga yang membutuhkan nafkahnya. Dilansir dari www.nasional.inilah.com berjudul Kusni Kasdut Pejuang Sakit Hati Lalu Penjahat,  Kusni memiliki seorang istri gadis Indo dari keluarga menengah. Setelah menikah, sang istri berganti nama menjadi Sri Sumarah Rahayu Edhiningsih. 

Kusni sangat mencintai dan membanggakan istrinya. Pengalaman pahitnya sejak kecil sampai remaja dalam kemiskinan membuatnya bertekad untuk menyenangkan istrinya dengan kehidupan layak. Sayangnya,  kesempatan tersebut terasa tertutup baginya. Berbagai harapan untuk bisa bekerja dengan bekalnya dalam masa revolusi membela bangsa dan negara bertepuk sebelah tangan. 

Mata gelap, akhirnya Kusni yang lincah menjarah harta orang. Dia masuk dunia hitam dengan rasa kecewanya. Dari menjarah harta benda orang untuk kepentingan republik menjadi untuk diri pribadi. 

Kusni menjadi ketua geng menakutkan bersama Mohamad Ali alias Bir Ali (mantan suami artis Ellya Kadham) serta Mulyadi dan Abu Bakar. Mereka membikin kelompok perampok yang menggentarkan dan tercatat sebagai sejarah kelam perbanditan di Indonesia. 

Pada 11 Agustus 1953, komplotannya merampok seorang hartawan Arab bernama Ali Badjened. Berbekal sepucuk pistol, mereka merampok saudagar tersebut di sore hari. Saat  Ali Badjened keluar dari kediamannya di kawasan Awab Alhajiri, Kebon Sirih, dan ditembak Ali dari atas Jeep. 

Aksi perampokan Kusni dan komplotannya tersebut terus berlanjut. Sampai pada peristiwa yang membuat nama Kusni besar di dunia hitam. Kusni merampok Museum Nasional Indonesia alias Museum Gajah  di Jalan Merdeka Barat, Jakarta. 

Aksinya ini membuat geram penegak hukum. Kusni dan komplotannya beraksi dengan  menyamar sebagai polisi dan memakai Jeep. Saat itu kalender mencatat 31 Mei 961. Aksi perampokan terbesar di masa itu mirip dengan adegan film-film perampokan Hollywood. Mereka menyandera pengunjung serta menembak mati seorang petugas. Sebelas butir berlian berhasil digondol Kusni dan komplotannya.  

Sejak itulah Kusni yang pernah dianggap pejuang menjadi buronan. Bertahun-tahun diuber penegak hukum,  akhirnya Kusni tertangkap. Kusni ditangkap di pegadaian, saat akan menjual berlian hasil curiannya.

Kisah Kusni pun dimulai dari satu penjara ke penjara lain. Sejak divonis hukuman mati, 1969, di Pengadilan Semarang, Kusni tercatat 8 kali berhasil kabur dari penjara. Petualangannya akhirnya berhenti saat Kusni kembali tertangkap tanggal 17 Oktober 1979. Sampai akhirnya,  tanggal 16 Februari 1980, Kusni menghadapi regu tembak mati yang mengeksekusinya. 

Sang Kancil yang dijuluki Robin Hood Indonesia ini akhirnya mati di tangan para regu tembak pemerintah. Di sela-sela menunggu eksekusi matinya,  Kusni bertemu dan berkenalan dengan seorang pastor. Dari rangkaian kunjungan tersebut,  Kusni pun bertobat dan menjadi pengikut setia agama Katolik. Bahkan Kusni dibaptis dengan nama Ignatius Waluyo. (*)

Top