Bangun Pesantren, Demi Istri yang Mengalami Lumpuh

Afif Ma
Afif Ma'mun (Kiri) dan Aan Yuhaniz (duduk di kursi roda) pengasuh sekaligus pembimbing pesantren Mamba'ul Karomah, Kecamatan Pagelaran (Foto : Facebook)

MALANGTIMES - Jadikan kekuranganmu sebagi kelebihanmu. Kalimat ini pantas untuk disematkan kepada Aan Yuhaniz, warga Desa Brongkal Kecamatan Pagelaran. Meski mengalami kelumpuhan, nyatanya tidak mengurangi semangatnya untuk mengajarkan ilmu agama kepada para santrinya di pesantren Mamba’ul Karomah.

Wanita yang akrab disapa Yuhaniz ini, memang sudah belasan tahun mengalami gejala penyakit Tuberculosis tulang (TBC tulang). Puncaknya, pada 2009 lalu, dia mulai merasa berat ketika melangkahkan kakinya untuk berjalan. Hingga akhirnya, setahun berselang kakinya lumpuh total pada 2010 lalu. Meski sering berobat dan mengonsumsi berbagai jenis obat-obatan, nyatanya kakinya tetap tidak bisa disembuhkan.

Ujian hidup yang dialami Yuhaniz, tentunya membuat dia terpukul. Bahkan sempat stres dan nampak murung karena hanya bisa menjalani hari demi hari diatas kursi roda dan ranjang kamarnya.

Maklum saja, sebelum mengidap penyakit yang mengakibatkan kedua kakinya lumpuh total. Yuhaniz memang aktif, baik dalam menuntut ilmu maupun berorganisasi. Tidak hanya itu, berbagai prestasi di bidang keagamaan sudah pernah diraih olehnya.

Wanita asli Majalengka Jawa Barat ini menuturkan, pendidikan formal yang diajalani memang erat kaitannya dengan agama islam. Yakni Madrasah ibtidaiyah (MI), Madrasah tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah Negeri (MAN). “Mulai dari MI hingga MAN saya tempuh di Majalengka,” kata Yuhaniz kepada MalangTIMES.

Baru ketika menginjak pendidikan perkuliahan, Yuhaniz mulai memberanikan diri untuk hijrah ke Malang. Tepatnya di Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang. Sederet pengalaman selain pendidikan formal juga pernah dijalani. Dimasa masih duduk di bangku MAN dulu, Yuhaniz remaja sudah aktif di kegiatan osis. Hal itu berlanjut ketika mengenyam pendidikan di bangku perkuliahan, yakni menjadi anggota aktif di berbagai organisasi islami. “Alhamdulillah, berkat pengalaman berorganisasi yang saya ikuti, sederet prestasi juga pernah saya dapatkan,” terang perempuan kelahiran 31 desember 1983 ini.

Pada saat masih menjadi pelajar MAN misalnya, Yuhaniz sudah mengoleksi juara 3 dan 2 pada dua tahun berturut-turut dalam ajang Musabaqoh Fahmil Quran (MFQ). Ketika memasuki semester dua di massa perkuliahan, tepatnya pada tahun 2004 lalu. Dia sudah menjadi juara 3 Musabaqoh Tafsir Bahasa Inggris. Puncaknya, di tahun 2005, sederet prestasi membanggakan ia koleksi.

Mulai dari juara pertama tahap seleksi tafsir Bahasa Inggris tingkat Kota Malang, juara satu Musabaqoh Tafsir bahasa inggris tingkat Kabupaten Malang, dan juara harapan pertama pada ajang Musabaqoh tafsir bahasa inggris tingkat provinsi Jawa Timur, mengisi sederet prestasi yang diraihnya.

Meski disibukkan dengan agenda organisasi serta kuliah, namun Yuhaniz tetap menyempatkan diri belajar agama. Sejak menjadi mahasiswa baru, dia sudah aktif belajar menghafal al-quran. “Sejak awal kuliah hingga lulus pada tahun 2007, saya menghafal 11 juz quran,” terang wanita lulusan fakultas Humaniora ini.

Yuhaniz menambahkan, setelah lulus kuliah, dia memutuskan untuk masuk ke pondok pesantren yang ada di kampung halamannya yaitu Majalengka. Disana dia digembleng selama beberapa tahun untuk mengkhatamkan hafalan al-quran. “Alhamdulillah, awal tahun 2009 saya sudah khatam menghafalkan 30 juz,” tutur alumnus jurusan Bahasa inggris itu.

Di balik kesuksesan Yuhaniz menghafal al-quran, tidak terlepas dari peran Afif Ma’mun, yang kini sudah menjadi imam di keluarganya. Sebab, suaminya itu menjadi motivasi untuk menghafalkan 30 juz. “Setelah khatam, saya dilamar dan menikah pada bulan mei 2009 lalu,” terang perempuan 35 tahun itu.

Yuhaniz menambahkan, menjatuhkan pilihan kepada seorang Afif, menurutnya menjadi pilihan yang tepat. Sebab sang suami, meski dulu sempat gagal diperkuliahan karena tidak sampai lulus kuliah, dan lebih memilih aktif di organisasi teater. Namun pria yang berasal dari fakultas dan jurusan yang sama dengannya, di UIN Malang tetap menjunjung tinggi syariat islam. “Suami saya dulu tidak lulus kuliah, di semester 10 dia keluar dan memilih fokus pada organisasi teater kampus, namun meski demikian dia juga sama dengan saya, khatam hafalan 30 juz al-quran,” imbuh Yuhaniz.

Tidak hanya setia, Bagi Yuhaniz suaminya juga sosok yang penyabar dan telaten merawat dia. Maklum saja, semenjak dia jatuh sakit, selain menjadi tulang punggung, Afif juga menjadi ibu rumah tangga. Berbagai pekerjaan rumah mulai dari membersihkan rumah, menyuci baju dan piring, hingga merawat istri dan masak dijalani dengan setulus hati. “Semua yang mengerjakan suami, saya hanya bantu sebisanya, sebab kondisi saya seperti ini (lumpuh),” sambung Yuhaniz.

Ditemui di saat bersamaan, Afif memang bisa dikatakan sebagai sosok suami ideal bagi Yuhaniz. Bagaimana tidak, selain merawat dan membereskan rumah. Dia juga rela merintis pesantren hanya demi membahagiakan istrinya. “Biar tidak stres dan jenuh mas, sebab sebelum ada pesantren dia (istrinya) hanya di kamar berdiam diri,” terang pria kelahiran 27 februari 1979 ini.

Ditemui di pesantren Mamba’ul Karomah, Afif menceritakan kilas balik perjuangannya untuk membahagiakan istri yang paling dia cintai tersebut. Semenjak pesantren dia kelola pada 2014 lalu, dia mulai berjuang untuk mencari dana guna membangun pesantren. Maklum saja, saat berdiri pada 2006 silam, pesantren ini dulunya hanya berupa Taman Pembelajaran Al-quran (TPQ). Namun seiring berjalannya waktu, kini sudah menjadi Pesantren yang memiliki beberapa ruangan lengkap dengan aula dan mushola. “Selain istri, sedikitnya ada sekitar 20 pengajar di pesantren ini,” tutur pria 39 tahun itu.

Hingga kini, pesantren yang dia perjuangkan bersama istrinya tersebut, sudah memiliki 155 santri yang didominasi anak-anak yang ada sekitar rumahnya. Mulai dari yang semula tidak bisa baca Al-quran, kini ratusan santri itu sudah ada yang menghafalkan beberapa juz quran. “Rencananya kegiatan semacam ini bakal terus kami lanjutkan, apapun akan saya lakukan demi membahagiakan istri,” pungkasnya.

Editor : A Yahya
Publisher :

Redaksi: redaksijatimtimes[at]gmail.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : redaksijatimtimes[at]gmail.com | redaksijatimtimes[at]gmail.com
Top