9 Tahun Hidup di Atas Kursi Roda, Perempuan Ini Sukses Cetak Para Penghafal Al quran

Aan Yuhaniz penyandang disabilitas saat mendidik hafidz Al-quran kepada santrinya, Kecamatan Pagelaran (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)
Aan Yuhaniz penyandang disabilitas saat mendidik hafidz Al-quran kepada santrinya, Kecamatan Pagelaran (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

MALANGTIMES - Senyum merona terpancar dari raut wajah Afif Ma’mun saat wartawan MalangTIMES berkunjung ke kediamannya, Senin (22/10/2018) malam.

Rumah minimalis miliknya nampak berbeda dengan kebanyakan rumah pada umumnya. Jika biasanya rumah didekorasi sekedemikian rupa untuk tempat tinggal, berbeda dengan kediaman keluarga kecil yang dibina oleh salah satu warga Desa Brongkal Kecamatan Pagelaran ini.

“Di sini merupakan tempat tinggal saya dan istri serta pesantren bagi para santri, ada enam kelas, satu musala, dan satu aula untuk para santri belajar hafalan Al-quran,” terang pengasuh pesantren Mamba’ul Karomah tersebut.

Setelah mengajak berkeliling ke berbagai ruangan pesantren, Afif lantas mengajak wartawan untuk berbincang-bincang di ruang tamu sederhana miliknya.

Pada ruang tamu dengan ukuran sekitar 4 x 3 meter tersebut, tumpukan kitab tersusun rapi di rak khusus yang disediakan di sudut ruangan.

Selain itu, juga terdapat bebrapa meja kecil untuk tempat Al quran yang biasanya digunakan santri mengaji.

“Pesantren ini mulai dirintis sejak 2006 lalu, tapi baru mulai saya kelola pada tahun 2014,” terang pria kelahiran 27 Februari 1979 itu.

Semula pesantren yang berada di Desa Brongkal Kecamatan Pagelaran ini, hanya berbentuk Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ).

Santrinya berasal dari puluhan anak-anak yang tinggal di sekitar kediaman Musta’in (orang tua Afif). Baru sekitar tahun 2014 lalu, pesantren ini mulai dikelola olehnya.

“Saya dulu fokus merawat istri saya yang sakit, jadi belum bisa bantu banyak mengurus pesantren,”  tutur pria 39 tahun ini.

Iya, 24 mei 2009 silam, memang menjadi hari spesial bagi pria dengan tinggi badan sekitar 165 sentimeter itu.

Sebab, saat itu dia resmi mempersunting istrinya yang bernama Aan Yuhaniz. Namun pernikahannya dengan perempuan asli Majalengka Jawa Barat (Jabar) itu, sempat mendapat ujian.

Istrinya mengeluh kakinya berat saat digunakan berjalan. “Sebelum nikah dia (istrinya) sering mengeluh nyeri di punggung, tapi saat usia pernikahan baru sekitar satu bulan, istri saya mengatakan jika kakinya terasa berat saat melangkah,”  terang pria yang pernah menempuh pendidikan di Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang ini.

Dari yang semula tinggal di Malang, istrinya lantas minta diboyong ke kampung halaman. Di Majalengka, pasangan yang baru menikah itu, tinggal di sana sekitar 1 tahun lamanya.

Dimana, 6 bulan pertama kondisi istrinya semakin melemah. Puncaknya, pada januari 2010 sang istri mengalami lumpuh total.

“Ketika dibawa kerumah sakit, istri saya didiagnosa mengalami penyakit Tuberculosis tulang (TBC tulang),” terang pria yang pernah mengambil pendidikan di Fakultas Humaniora ini.

Sejak saat itu juga, sang istri harus menghabiskan waktunya di atas kursi roda. Meski sudah menjalani berbagai pengobatan dan terapi, nyatanya tidak ada perkembangan yang signifikan.

Hingga akhirnya, mereka memutuskan untuk kembali ke Malang. “Istri saya dirujuk untuk menjalani perawatan di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang,” tutur pria yang dulu sempat menganyam pendidikan di Jurusan Bahasa Inggris ini.

Di RSSA Malang, Afif sering mengantarkan istrinya untuk berobat. Setahun berselang, tepatnya pada tahun 2011 lalu, tim medis menganjurkan untuk dioprasi. Namun sang istri menolaknya.

“Fisiknya melemah saat itu, jadi mentalnya terganggu sehingga tidak berani menjalani oprasi,” kata Afif.

Mengetahui kondisi sang istri yang kian memburuk, Afif mencoba mencari solusi selain oprasi. Berbagai jalan alternatif sudah ditempuh. Namun tetap tidak membuahkan hasil.

Dengan kondisi sang istri yang semakin memburuk, membuat Afif harus merangkap menjadi tulang punggung sekaligus ibu rumah tangga.

Hari demi hari dilalui dengan suka cita. Afif tidak terlalu mempermasalahkan, jika dia harus merawat istrinya yang sedang sakit dan hanya bisa berbaring di atas kasus tersebut. “Sekitar 3 tahun istri saya menghabiskan waktu di atas kursi roda dan ranjang,” sambung Afif.

Afif menambahkan, melihat sang istri yang semakin murung, akhirnya dia memutuskan untuk meneruskan mengasuh pesantren yang semula didirikan oleh ayahnya.

Berkat sentuhan tangan dingginnya, pesantren Mamba’ul Karomah semakin berkembang. Dari yang semula hanya TPQ secara bertahap mulai ada kegiatan Diniyah, Majelis Semakan Quran.

Berselang dua tahun pasca dikelola Afif beserta istri, tepatnya pada 2016 mulai ada kegiatan Istigotsah serta rutinitas belajar agama lainnya.

”Ini merupakan upaya agar istri saya tidak jenuh. Syukurlah dari yang semula hanya di atas ranjang, karena pesantren ini dia semakin bersemangat menjalani rutinitas sehari-hari,” imbuhnya.

Disela-sela obrolan, dari balik selambu muncul sosok perempuan dengan wajah berseri-seri nampak duduk di atas kursi roda. Dia adalah Aan Yuhaniz (Istri Afif). Tanpa canggung perempuan dengan kulit putih itu, bercengkrama dengan wartawan Malang TIMES.

Yuhaniz menuturkan, kegiatan pesantren merupakan hiburan baginya. Bahkan jika tidak mengajarkan agama kepada para santrinya, dia merasa ada yang hilang dalam kehidupannya.

“Sepulang sekolah, sebanyak 155 santri yang terdiri dari 72 santri putra dan 83 putri ini, mulai belajar agama di sini (pesantren Mamba’ul Karomah),” terang perempuan kelahiran 31 desember 1983 itu.

Sekitar pukul 13.00, santri cilik yang dibina Yuhaniz mulai berdatangan satu persatu. Agenda pertama yaitu setoran hafalan al-quran.

Setelah itu berbagai kegiatan berlanjut mulai dari TPQ, kemudian Diniyah, hingga terakhir mengaji kitab pada malam hari.

“Kegiatan di pesantren ini berakhir sekitar pukul 20.00 WIB, dan rutinitas ini berjalan setiap hari kecuali bagi mereka yang menghendaki libur diperkenankan untuk izin,” terang wanita 35 tahun itu.

Meski dengan keterbatasan yang dimiliki, tidak membuat Yuhaniz merasa cangung untuk menularkan ilmunya, terutama di bidang hafalan Al-quran. Perlu diketahui, Yuhaniz dan suaminya merupakan seorang hafidz (sebutan bagi penghafal quran).

Yuhaniz menambahkan, selama ini mendidik santri yang didominasi usia anak-anak Madrasah ibtidaiyah (MI) memang memerlukan ketelatenan. Sebab sebelum menghafalkan Al-quran, para santri harus terlebih dulu menguasai cara membaca yang benar.

Selain bisa membaca, Yuhaniz juga sering melantunkan bacaan Al-quran kepada para santrinya.

“Meski tidak terlalu fasih membaca, tapi jika sering dilantunkan bacaan Al quran dia (santri) dengan sendirinya akan menghafalnya. Misalnya surat Al-ikhlas, meskipun belum bisa membacanya, tapi karena sering mendengar mereka jadi bisa melantunkannya,” imbuh Yuhaniz.

Khusus pada pembelajaran hafalan Al-quran, terdapat beberapa metode yang diterapkan Yuhaniz. Biasanya para santri akan dibimbing untuk menghafal Juz Amma (Juz 30).

Jika sudah hafal lanjut ke juz 29 kemudian ke juz awal yaitu juz satu, dan seterusnya menyesuaian kemampuan santri.

“Dalam setiap juz Al-quran mempunyai komposisi sendiri-sendiri, dan metode ini untuk memudahkan saja, yaitu menghafal dari yang paling sedikit bacaannya,” terang alumnus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ini.

Salah satu santri pesantren Mamba’ul Karomah Rifhatul Maula nampak begitu lancar saat melantunkan surat Al-mulk. Di hadapan Yuhaniz santriwati tersebut, terlihat lanyah saat melantunkan surat yang terkandung di juz 29 tersebut.

“Saya mulai menghafal Al-quran pada bulan juli 2017 lalu, Alhamdulillah berkat dibimbing ustadzah Yuhaniz kini InsyaAllah sudah hafal 6 juz,” tutup Rifhatul.

Editor : Heryanto
Publisher :

Redaksi: redaksijatimtimes[at]gmail.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : redaksijatimtimes[at]gmail.com | redaksijatimtimes[at]gmail.com
Top