Idap Tumor Ganas 13 Tahun, Perut Wanita Cantik Ini Membesar Seperti Balon Udara

Supinah pengidap tumor kandungan yang mengakibatkan perutnya membuncit hanya bisa menghabiskan waktunya di rumah sembari berobat. (Foto: Ashaq Lupito / MalangTIMES)
Supinah pengidap tumor kandungan yang mengakibatkan perutnya membuncit hanya bisa menghabiskan waktunya di rumah sembari berobat. (Foto: Ashaq Lupito / MalangTIMES)

MALANGTIMES - Setia, tabah, dan rela berkorban. Kalimat ini layak untuk mendiskripsikan perjuangan seorang suami, dalam merawat istrinya yang mengidap penyakit sejak 13 tahun lalu. Bahkan, Abdul Rohmad warga Dusun Balong Desa Rejoyoso Kecamatan Bantur ini, harus keluar dari pekerjaannya demi merawat istri kesayangannya yang bernama Supinah.

Ketika MalangTIMES mencoba mendatangi kediamannya, Sabtu (20/10/2018) malam. Supinah nampak tak berdaya di kamar dengan ukuran sekitar 3 x 3 meter tersebut. Perempuan 40 tahun itu nampak ngos-ngosan seperti nafas seseorang yang habis berlari sprint 100 meter. Bukan karena olahraga, perut yang berat karena membuncit, membuat nafasnya tersengal-sengal, meski waktunya hanya dihabiskan untuk berbaring di kasur. “Loro mas, aku gaiso ngomong ambek cerito akeh, takok o bojoku ae.(Sakit mas, saya tidak bisa ngomong dan bercerita banyak. Tanya suami saya saja, dia tau ceritanya kenapa saya jadi seperti ini),” kata Supinah dengan suara lirih.

Mendapat penjelasan itu, Rohmad mempersilahkan wartawan untuk duduk di ruang tamu rumahnya. Pria dengan raut wajah penuh prihatin itu, lantas menceritakan penderitaan istrinya. “Kami menikah sekitar tahun 2005 lalu, di usia pernikahan yang hanya beberapa bulan dia (Supinah) mengeluh sakit pada bagian perut,” terang pria dengan kulit sawo matang itu.

Mendengar keluhan istrinya, Rohmad lantas membawa Supinah ke salah satu rumah sakit yang ada di Kecamatan Gondanglegi. Disana, perempuan kelahiran 1978 itu, harus menjalani beberapa kali rontgen (ronsen), untuk mengetahui apa penyebab perutnya bisa merasakan sakit yang dahsyat. “Dari hasil ronsen, menunjukkan jika istri saya mengalami tumor kandungan dan harus dioperasi,” kata pria kelahiran 15 februari 1976 ini.

Berselang seminggu kemudian, Supinah akhirnya dioperasi. Dari dua indung telur Supinah, satu di antaranya harus diangkat tim medis lantaran positif tumor. Sedangkan sisanya tidak dioperasi karena masih berstatus terindikasi. “Sengaja disisakan dokter, karena kami belum memiliki keturunan,” tutur pria 42 tahun ini.

Enam hari berselang, istrinya diperkenankan kembali ke rumah karena kondisinya yang semakin membaik. Selayaknya ibu rumah tangga pada umumnya, Supinah mengerjakan rutinitas seperti biasa. Mulai dari membersihkan rumah, masak, dan melayani suami dia lakukan dengan sepenuh hati. “Setelah operasi kondisinya baik-baik saja mas, tapi setelah 8 tahun berselang dia (Istrinya) mengeluh ada benjolan di pusar,” sambung Rohmad.

Merasa khawatir, dia membawa istrinya ke salah satu rumah sakit umum yang ada di Kecamatan Kepanjen. Semula Supinah didiagnosa mengidap penyakit hernia. Tindakan operasi dilakukan oleh dokter kala itu. Namun kejanggalan terjadi pasca operasi. Mulai dari mual hingga muntah, dialami oleh Supinah. “Dokter saat itu heran dan menyuruh untuk Ultrasonography (USG), hasilnya istri saya divonis jika tumornya kambuh,” kata Rohmad dengan mata berkaca-kaca.

Berselang dua bulan pasca USG, Supinah disuruh kembali ke rumah sakit. Berbagai tindakan medis dijalani, termasuk operasi. Dokter saat itu hanya bisa mengangkat sebagian tumor yang ada di indung telur Supinah. “Dokter hanya bisa mengambil sekitar 12 sentimeter tumor di tubuh istri saya, alasannya karena lengket dan tidak bisa diambil semuanya,” terang Rohmad.

Pasca dioperasi, wanita yang belum memiliki keturunan itu, beraktivitas seperti semula selayaknya ibu rumah tangga. Namun sekitar setahun kemudian, tepatnya pada tahun 2014 silam, rasa mual itu kembali dirasakan Supinah. Terpaksa, suaminya kembali membawa ke rumah sakit. “Total sudah ada empat kali di bawa kerumah sakit, yang pertama saya menghabiskan biaya Rp 6 juta. Untungya, operasi setelah itu ditanggung BPJS, kalau tidak saya engak tau lagi harus bayar pakai apa,” keluh Rohmad.

Setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit yang terakhir, Supinah sudah tidak terlalu merasakan mual dan muntah. Namun setelah mendapatkan perawatan, justru tumor di tubuhnya semakin ganas. Bahkan seiring berjalannya waktu, perutnya semakin membuncit. Mulai dari wajah dan tangannya nampak kurus kerontang, sedangkan perutnya membengkak hingga kebagian pahanya. Selain itu, kakinya juga nampak dempal. “Istri saya meski perutnya membesar sempat memaksa masak dan membereskan rumah, katanya biar saya bisa bekerja,” kata pria yang bekerja sebagai buruh bangunan tersebut.

Puncaknya, sekitar 10 hari belakangan ini, Supinah sudah tidak kuat menyangga perutnya yang semakin membengkak. “Saya memutuskan berhenti bekerja, saya tidak tega melihat kondisi istri saya,” terang Rohmad dengan nada seperti orang yang sedang menahan tangis.

Semenjak empat tahun belakangan ini, Supinah juga sempat menjalani perawatan alternatif dan mengonsumsi herbal. Alasannya karena tumor divonis lengket dan tidak bisa diambil, membuat Rohmad hanya bisa mengandalkan pengobatan selain medis. Sebab jika dibawa kerumah sakit, pihak dokter hanya menyarankan kemoterapi. Sedangkan dengan tabungan yang pas-pasan, membuat Rohmad memilih untuk mengambil jalan alternatif.

Dengan sepeda motor tua, Rohmad sudah membawa istrinya ke berbagai pengobatan alternatif. Mulai dari berbagai tempat di Malang Raya, hingga kota Surabaya pernah dilakukannya. Dengan kondisi yang membuncit, terkadang membuat Rohmad terpaksa menyewa mobil, untuk mengantarkan istrinya berobat. “Sudah lebih dari 10 tempat alternatif saya datangi, banyak obat herbal yang dikonsumsi, sudah ratusan bahkan jutaan biaya kami keluarkan, tapi tidak menunjukkan perkembangan yang membaik, justru perut istri saya semakin membuncit,” ujar Rohmad.

 

Editor : A Yahya
Publisher :

Redaksi: redaksijatimtimes[at]gmail.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : redaksijatimtimes[at]gmail.com | redaksijatimtimes[at]gmail.com
Top