Ilustrasi (Pacitanku.com)
Ilustrasi (Pacitanku.com)

MALANGTIMES - AA (21), warga Jalan Kolonel Sugiono, Kecamatan Sukun, Kota Malang, sungguh tamu yang tidak tahu malu. Betapa tidak, sudah diberi tumpangan menginap,  ia tega mencabuli adik temannya sendiri.

Baca Juga : Keluarkan Surat Edaran, Mulai Besok Bupati Malang Minta Warga Tidak Keluar Rumah

Pencabulan terhadap korban -sebut saja bunga (12)- dilakukan AA saat dia menumpang menginap di rumah temannya yang juga merupakan kakak korban. Saat itu, pada Selasa (17/10/2018), AA mengatakan ingin menumpang tidur di rumah kakak Bunga. 

Karena tak mempunyai rasa curiga dan tak mengira bakal terjadi aksi bejat itu, akhirnya kakak korban pun mengizinkan AA untuk menginap. 

Namun pada Rabu (17/10/2018) dini hari, sekitar pukul 01.00 WIB, saat semua penghuni tertidur, AA mengendap-endap masuk ke kamar Bunga. Melihat korban tertidur lelap, AA yang sudah tak tahan ingin menyalurkan syahwatnya langsung saja melancarkan aksinya.

AA kemudian mematikan lampu dan lantas mendekati korban dan memasukan tangannya ke celana dalam korban. Merasa terdapat seseorang yang menyentuh (maaf) kemaluannya, sontak saja Bunga terbangun. Dia langsung berlari keluar karena ketakutan.

Kemudian korban berteriak minta tolong hingga membangunkan seisi rumah maupun warga sekitar. Tak menunggu lama, keluarga yang mendapat laporan bahwa Bunga diperlakukan tak senonoh langsung saja membekuk AA.

Warga pun sempat geram dengan perlakuan AA. Namun beruntung polisi yang mendapat laporan langsung mengamankan pelaku sehingga terhindar dari aksi main hakim sendiri.

Baca Juga : Polisi Akui Kejahatan Jalanan Kota Malang Meningkat Usai Program Asimilasi

Kasat Reskrim Polres Malang Kota AKP Yadwivana Jumbo Qatasson membenarkan (20/10/2018) telah mengamankan seorang pelaku pencabulan setelah keluarga korban melapor. 

Saat ini pelaku sudah ditangani Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) dan masih terus dimintai keterangan, apakah sebelumnya pelaku memang sengaja merencanakan ini atau tidak. 

"Pelaku dikenakan Pasal 82 UU No 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI NO.23 TH 2002 tentang perlindungan anak, dengan ancaman kuruangan sekitar lima tahun penjara dan maksimal 15 tahun penjara," ungkapnya. (*)