Jokowi (tengah) saat melakukan pengecekan pipa saluran air  (BID for MalangTIMES)

Jokowi (tengah) saat melakukan pengecekan pipa saluran air (BID for MalangTIMES)



Bursa Inovasi Desa, Dari Kabupaten Malang Untuk Indonesia  5

MALANGTIMES - Kabupaten Malang, termasuk wilayah yang kerap mengalami kekeringan di musim kemarau panjang. Beberapa wilayah yang dikategorikan merah dalam peta kekeringan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang selama ini diantaranya, Kecamatan Singosari, Kalipare, Lawang, Pagak, Donomulyo, Jabung, Sumbermanjing Wetan, Sumberpucung, Bantur, Gedangan dan Ngantang.

Tapi, di musim kemarau panjang seperti tahun ini, wilayah kekeringan tersebut bisa saja meluas. Seperti yang dialami oleh warga Desa Tamanasri, Kecamatan Ampelgading. 

Dalam musim kemarau, untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga Desa Tamanasri, kerap mengalami kendala. Sumur-sumur kering, bahkan di musim penghujan pun air bersih yang diharapkan melimpah tidak bisa dinikmati. 

Untuk mendapatkan air bersih bagi kebutuhan sehari-hari, warga juga harus berjalan turun ke lembah yang jaraknya hampir 750 meter (m). Dengan medan yang curam, menurun, licin, dan membahayakan.

Kondisi inilah yang membuat Kepala Desa (Kades) Tamanasri, Kecamatan Ampelgading, Joko Widodo atau Jokowi, tidak bisa berdiam diri. Selaku pemimpin, dirinya memiliki tanggungjawab atas kondisi yang menimpa warganya. Maka, lahirlah sebuah ide sederhana yang berdampak luar biasa. 

"Air bersih kerap menjadi persoalan warga kami. Khususnya di dua RT yang dihuni oleh 78 kepala keluarga di kawasan perbukitan dan jauh dari permukiman," kata Jokowi beberapa waktu lalu. 

Kondisi ini yang membuat Jokowi memutar otaknya. Hingga lahirlah ide pembangunan saluran air dengan tenaga turbin air sungai. Sumber air yang tidak jauh dari aliran sungai dimanfaatkan dengan menggunakan pompa air. Pompa air tersebut digerakkan turbin yang diputar oleh aliran air sungai. 

Secara sederhana, teknis turbin sederhana tersebut, menurut Jokowi adalah sebagai berikut. Air sungai diarahkan masuk pada pipa 8 inchi. Aliran air dalam pipa akan mendorong dan memutar turbin. Putaran turbin tersebut akan memutar mesin pompa dan menghisap air serta mendorongnya ke dalam pipa menuju tempat yang lebih tinggi. 

"Air ditampung di bak sederhana yang dekat dengan permukiman warga. Lantas disalurkan lewat pipa ke rumah warga," urai Jokowi. 

Proses pembangunan saluran air yang oleh warga  dinamakan pompa air ala Jokowi. Sesuai dengan nama Kadesnya sebagai inisiator sekaligus koordinatornya, tidak begitu saja berhasil. 

Proses sosialisasi ke warga, pembentukan tim yang dalam perjalanannya satu demi satu berguguran. Tercatat, awalnya tim pompa ala Jokowi sebanyak 12 orang, menyusut tinggal 3 orang saja. Sampai pada persoalan teknis menjadi tantangan sendiri bagi Jokowi yang tak kenal putus asa. 

"Alhamdulillah dengan berbagai perjuangan tersebut, serta membutuhkan waktu berbulan-bulan lamanya, pompa air akhirnya bisa berhasil," ujar Jokowi yang juga menyampaikan sebelumnya warga menyalurkan air dengan pompa berbahan bakar minyak yang boros biaya. 

"Padahal secara ekonomi warga kami kelas menengah ke bawah. Airnya pun tidak lancar dengan metode pompa itu," imbuh Kades yang namanya sama dengan Presiden Jokowi ini. 

Kini, pompa air ala Jokowi bisa memenuhi kebutuhan warga atas air bersih. Baik bagi warga sekitar gunung  dan beberapa wilayah di Desa Tamanasri. Pompa air ala Jokowi juga bisa menekan biaya dengan suplai air lancar ke masyarakat. 

Jokowi menyampaikan, untuk perawatan instalansi pompa air masyarakat ditarik iuran sebesar Rp 5-6 ribu per meter kubiknya. 

Pompa air ala Jokowi, patut ditiru oleh desa-desa lain di wilayah Kabupaten Malang yang memiliki karakter lokasi yang mirip dengan Tamanasri. Pasalnya,  walau efektif dan efisien,  pompa air ala Jokowi tergantung pada adanya sumber air serta aliran sungai untuk menggerakan turbinnya. 

End of content

No more pages to load